Posted in Essai, Politik

Kompetisi

Menjadi yang tercepat, terkuat, dan terhebat, begitulah kira-kira filosofi dari kompetisi. Kompetisi menyajikan gesekan, pertarungan, demi mencapai yang terbaik. Bahkan sejatinya semenjak hadir di bumi kita adalah pemenang dalam sebuah kompetisi. Diantara sperma yang terbuncah, muncullah pemenang yang membuahi induk telur. Dan kita adalah monumen nyata dari proses itu. Hidup untuk kemudian menyajikan medan kompetisi bagi diri kita. Mulai dari di keluarga, sekolah, dunia kerja, dan sebagainya, kompetisi terus terjadi.

Kompetisi memang memiliki sisi kelamnya. Lihat saja praktek belakang layar yang menihilkan kompetisi. Bagaimana proses belakang layar menjadikan kompetisi sekedar lelucon panggung yang ada. Kita mengutuk praktek seperti ini. Kompetisi memberi ruang bagi perbedaan dan konsestasi nilai. Inilah yang membuat para penguasa diktator dan tiran melindas substansi kompetisi. Perbedaan dari penguasa dianggap sebagai pesakitan. Kontestasi nilai menjadi sesuatu yang terlarang. Hanya nilai-nilai dari penguasa yang dapat hidup dan menguasai makna dan wacana.

Penguasa diktator dan tiran kalaupun menyajikan kompetisi sekedar aksesori seolah-olah. Fakta sejarahnya dapat dilihat dengan pemilu yang berlangsung di negara penguasa diktator dan tiran. Partai pemerintah sekedar menjadikan pemilu sebagai seremoni tipu-tipu dengan label kompetisi. Kompetisi sesungguhnya tak terjadi dalam negara para diktator dan tiran.

Kompetisi dicaci dan dimaki oleh para penguasa. Oposisi untuk kemudian dibungkam dan diringkus. Perangkat hukum dapat menjadi instrumennya. Memenangkan hati dan opini dari rakyat merupakan instrumen lainnya bagi nihilisme kompetisi. Sejarah politik Indonesia pernah menjadi konsep faktual nihilisme kompetisi. Soekarno pernah bertutur, “Marilah kita kuburkan partai-partai” dan konsep Demokrasi Terpimpin. Sedangkan Soeharto menyebar banyak ranjau nihilisme kompetisi. Mulai dari pembonsaian partai politik, kematian perdata para oposan misalnya pada kasus Petisi 50, pembreidelan insan pers, dan sebagainya.

Kompetisi memang bermuara pada hadirnya sang pemenang. Namun tentu saja sejatinya kita menginginkan pemenang yang orisinil. Pemenang yang tidak melegalkan pembonsaian, nihilisme kompetisi. Pada para pemenang orisinillah kita menaruh hormat dan mengapresiasi. Bukan pada para pemenang yang kokoh di jalur juara namun menggunakan laku teror, intimidasi dan praktek culas dalam berkompetisi.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s