Posted in Essai, Fiksi Fantasi

Dunia Baru yang Berani

Apa yang terjadi secara fisik di lapangan, sesungguhnya beranjak dari domain pemikiran. Contoh nyatanya dapat kita lihat dalam kehidupan kontemporer kini. Bukti-bukti artefak yang ada berawal dari sebuah ide pemikiran. Soekarno di era 1960-an dengan konsep Demokrasi Terpimpinnya melakukan sejumlah pembangunan fisik dimana-mana. Kompleks olahraga di Senayan, Masjid Istiqlal, Monas, Patung selamat datang di Bundaran HI, merupakan fragmen otentik dari pemikiran Soekarno untuk membawa Indonesia menjadi bangsa yang besar. Soekarno di era demokrasi terpimpin sedang membangun dunianya.

Di belahan dunia lain ada Woodrow Wilson yang memiliki harapan tentang dunia lebih baik dan lebih damai. Goenawan Mohammad sang essais merekamnya dalam kalimat berikut: Ia memang aneh, seorang presiden Amerika yang aneh, di abad ke-20. ia bicara tentang perlunya “perdamaian, tanpa kemenangan”. Ia menolak untuk menggunakan kekuatan fisik Amerika terhadap negeri-negeri yang lebih lemah. Bahkan ketika kapal Inggris Lusitania tenggelam ditorpedo Jerman, dan ada 128 penumpang Amerika tenggelam, Wilson tetap belum meneriakkan pekik pertempuran. “Memang ada dalam hidup ini sebuah bangsa yang teramat sadar akan harga dirinya untuk mau berkelahi,” katanya (Goenawan Mohammad, Catatan Pinggir: hal 316).

Soekarno dan Woodrow Wilson bukanlah anomali dalam upaya membangun dunia baru. Ide membangun dunia dan menjalani sistematika dunia mendominasi banyak orang di dunia. Membangun dunia adalah ide universal yang bebas didefinisikan oleh siapa saja. Penulis novel, seniman komik, politisi, ilmuwan, pelajar, aktivis lingkungan, pengangguran, memiliki definisi dan tafsiran mengenai bagaimana dunia seharusnya bekerja.

JRR Tolkien contohnya melalui serial The Lord of the Rings yang fenomenal telah membawa imajinasinya begitu kuat, berdasar dan benar-benar hidup serta nyata. Para pembaca kisahnya teryakinkan dengan detil, budaya dari dunia yang diciptakan. Sukar untuk menganggap hobbit, elf, kurcaci, orc, sekedar fantasi en sich, menilik dari detail presisi penggambaran yang disajikan oleh Tolkien. Tolkien telah berhasil membuat para pembaca percaya bahwa dunianya nyata dan eksis. Untuk kemudian di tangan Peter Jackson, melalui dukungan prima visual effect, fantasi dari Tolkien mengalami visualisasi yang sangat mengagumkan. Sebuah dunia yang mampu ditampilkan mencekam dan di satu sisi begitu damai.

Dalam kisah komik, kisah Satu Atap layak menjadi referensi tentang dunia baru. Idenya sendiri ialah menggabungkan hal yang kontemporer dengan fantasi. Kota Bandung menjadi setting cerita, dimana dalam kreasi Azisa Noor, Bandung merupakan kota yang juga dihuni oleh keturunan setan, elf, putra duyung, peri hutan, manusia harimau, dan makhluk ajaib lainnya. Tema yang sederhana dan pesan dalam cerita menjadikan dunia kreasi Azisa Noor mampu dekat dengan keseharian kita, sekaligus melambungkan imajinasi kita tinggi-tinggi.

Saya percaya segala lapis strata memiliki obsesi akan dunia baru. Tentunya dari masing-masing orang akan memiliki diferensiasi tentang bagaimana seharusnya dunia baru. Mungkin akan ditemui titik persamaan dalam konsep membangun dunia baru, juga akan ditemui titik perpecahan mengenai konsep dunia baru. Bagaimana dengan anda? Pernahkah anda memiliki imajinasi untuk mengkreasi dunia baru?

Mengkreasi dunia baru menurut hemat saya bergerak diantara kutub harapan dan kecemasan. Harapan agar masa depan lebih baik dari hari kemarin dan hari ini. Kecemasan dikarenakan rangkaian dekadensi telah menumpuk dan mengancam eksistensi kehidupan. Pada kutub harapan, itulah yang menjelaskan kerinduan kita pada sosok pahlawan. Kita mencintai pahlawan karena kerelaannya untuk berbuat sesuatu yang lebih besar dan menyalakan harapan dalam diri kita.

Snap shot sosok pahlawan mampu menyalakan harapan dapat kita temui pada kisah Spiderman 2. Peter Parker yang sempat “gantung kostum” mendapatkan pencerahan dari bibinya tentang betapa pentingnya sosok Spiderman. Spiderman yang menyelamatkan seisi kota, menangkap para penjahat, sesungguhnya telah memberikan permaknaan yang mendalam. Bahwa kebaikan itu masih ada, jiwa ksatria itu masih nyata, harapan tentang dunia baru yang lebih baik masih tetap eksis. Spiderman telah menghasilkan reaksi berantai dari sebuah perbuatan mulia. Dan kita merindu dengan sosok pahlawan macam begini ataupun menginginkan memiliki sifat kepahlawanannya.

Pada kutub harapan, kita sebenarnya juga dapat melakukan kontemplasi. Apakah diri ini sudah paralel dengan upaya membangun dunia baru yang lebih baik? Jangan-jangan selama ini diri ini menjadi parasit, sosok yang memadamkan harapan tentang kebaikan di dunia baru. Pada kutub harapan, akan lebih produktif jika kita berhenti merutuk gelap dan menyerampahi dunia dengan segala kebobrokannya. Lebih baik kiranya menyalakan cahaya, menjadi harapan yang nyata bagi bumi ini dalam kongsi perkataan dan perbuatan.

Sedangkan pada kutub kecemasan, upaya membangun dunia baru ialah jawaban atas permasalahan kontemporer yang memberat. Kecemasan itu memiliki anak cabang yang begitu banyak. Dunia seperti tengah membuat janji cepat atau lambat dengan ledakannya. Mulai dari permasalahan lingkungan, frustasi sosial, disparitas, serakahisme, kecemasan itu hidup di benak manusia di bumi. Kecemasan terkait lingkungan, misalnya menjadi basis dari sejumlah film seperti 2012, The Day After Tomorrow. Bagaimana inti pesan dari film tersebut diperlukan sebuah bencana mengglobal untuk mengkreasi dunia baru. Bencana global ini menyebabkan perubahan pada fisik bumi dan terutama menguji nilai kemanusiaan.

Fakta sejarah juga mewartakan bagaimana kecemasan telah membawa jalan suram bagi dunia baru di kemudian hari. Goenawan Mohammad menarasikannya sebagai berikut: “Seandainya saya tahu, demikian kata Einstein sebagaimana dikutip dalam The Little Black Book of Atomic War karya Marc Ian Barach yang menarik itu, “seandainya saya tahu bahwa Jerman tidak akan berhasil membuat bom atom, saya tak akan berbuat apa-apa sedikit pun.” Einstein, Yahudi yang rasnya diburu Hitler itu, memang didorong rasa cemas. Perasaan yang sama terbit pada diri bapak bom atom yang lain, Leo Slizard, yang lari dikejar Nazi dari Hungaria (Goenawan Mohammad, Catatan Pinggir: hal 306).

Dunia pun mencatat bagaimana dari rahim kecemasan tersebut muncul eksponensial kecemasan yang hingga kini masih berpendulum di benak kekhawatiran kita. Kenyataan sejarahnya bom atom di Hiroshima telah membuat sekitar 200 sampai 300 ribu orang mati. Kota luluh lantak. Panas yang terlontar dari bom istimewa itu begitu hebatnya hingga bayang-bayang orang pun sampai tercetak di aspal jalan.

Yang menariknya upaya untuk mengkreasi dunia baru dapat menghasilkan senyawa baru yakni eskapisme. Eskapisme ialah sifat melarikan diri dari kenyataan. Dalam beberapa hal, dapat dikomparasikan dengan utopis. Upaya membangun dunia baru tak lebih dari upaya untuk lari dari bumi. Sebuah fantasi sinting yang tidak akan terwujud dalam mangkuk kenyataan. Jebakan dari eskapisme tak kalah menggodanya dengan nyanyian Siren. Begitu indah menarik, memikat jiwa, namun konsekuensinya fatal.

Eskapisme dan utopis ini dapat membawa pada kegiatan turunan yang tidak produktif. Mereka yang terjebak dalam gelembung eskapisme dan utopis ialah mereka yang hidup di bumi, tapi jiwanya menjejak di ranah tidak nyata. Eskapisme dan utopis dalam hal ini lebih seperti ingauan tanpa kerja nyata yang dicicil etape demi etape. Sekedar berhasrat merindukan dunia baru namun hanya berpangku tangan, enggan berpeluh, enggan melakukan kreativitas.

Dunia baru yang terjadi apapun itu memerlukan keberanian. Keberanian untuk bermimpi, keberanian untuk mengalami validasi, keberanian untuk mengalami resistensi dalam perjalanan mewujudkannya. Setiap dari kita saya percaya memiliki imajinasi tentang dunia baru dalam lembar pemikirannya. Dan saya percaya setiap dari kita dapat berperan dalam mengkreasi dunia baru itu. Jika anda ingin dunia baru yang ada ialah bumi yang ramah terhadap lingkungan, mulailah melakukan pola hidup yang bersahabat bagi bumi. Mulai dari pengurangan pemakaian plastik, menghemat energi, menanam pohon, dan sebagainya. Ingat komunitas dan entitas jika dicacah merupakan individu-individu. Dan setiap dari kita dapat menjadi individu yang dapat membawa suluh perbaikan.

Diperlukan keberanian untuk mengkreasi dunia baru. Keberanian untuk melangkah diantara harapan dan kecemasan. Keberanian untuk tidak tergoda dengan konsep eskapisme dan utopis. Dunia baru pertama-tama dapat dikreasi bukan oleh entitas super, kuat, dan besar. Dunia baru dapat dimulai pada diri kita secara personal.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s