Posted in puisi, sastra

Pagi dan Kisah-Kisah Yang Tak Pernah Selesai

Melukis pagi
Ditemani embun
Jejak udara yang masih murni
Puritan belum terkontaminasi
Ada hening dalam kebijaksanaan pagi
Damai tak terusik

Pagi,
Adalah kisah yang tak pernah selesai
Selalu menyisakan tanya
Selalu menyisipkan keajaiban

Seperti lembar baru dalam carik kehidupan
Kantung-kantung energi yang perlahan kau kumpulkan
Mengisi relung jiwamu dengan sarapan hangat

Ketika pagi tiba.
Memori apa yang terlintas di benakmu?

Hembus udara yang memenuhi paru-paru
Tarikan langkah pertama
Kepulan kopi di meja
Koran pembawa warta
Bubur ayam
Rancangan ke depan jam
Kontemplasi sejenak bersama hening

Pagi adalah kisah yang tak pernah selesai
Layaknya harapan yang berkejaran

Posted in Essai, Politik, Sejarah, Sosial Budaya

Penguasa (1)

Apa yang bisa dihasilkan oleh kekuasaan? Deterministik penuh. Maka setiap daratan, lautan, udara, adalah abdi bagi sang raja. Bangunlah bangunan-bangunan tinggi lagi kokoh. “Ini dari kami para penguasa semesta.” Maka lihatlah deretan bangunan nan megah yang masih bercokol dalam jejak sejarah. Ada bilur kekaguman bagi para peziarah yang telah melewati bilangan waktu terputus sejarah. Tunduk dalam kekaguman akan ketelitian, keunikan, kemegahan yang dihasilkan. Namun, tahukah cerita di balik bangunan megah bersejarah tersebut. Ada kawula yang terlunta, biaya yang membumbung, taring penguasa yang mencengkram. Kemegahan yang dibangun dari belenggu penguasa.

Bagaimana dengan catatan sejarah? Rupa-rupanya lontar, kertas, digital, menjadi catatan perihal penguasa. Catatan sejarah bagai menjadi hikayat orang besar dan para pemenang. Para penguasa dengan mata dimana-mana dapat memilah mana informasi yang berhak, mana yang layak dieliminasi. Cerita mana yang layak mendapatkan kaca pembesar, hiperbola, drama, pupur gincu, kebohongan atas nama sejarah. Catatan sejarah menjadi warta subyektif para lakon penguasa. Maka lihatlah sejarah mereka yang terjajah, dengan arogan dan kemajuan, mereka pun memenangkan hegemoni makna dan wacana. Celakanya catatan sejarah ialah kemampuannya untuk melakukan penetrasi ke pemikiran. Melakukan konstruksi pemikiran mengenai konsep, ide, gagasan. Konstruksi mengenai distingsi antara siapa pahlawan dan siapa pemberontak.

Penguasa adalah laju kekayaan yang menjadi arus di kongsi utama. Ada upeti, ada hak istimewa. Karena penguasa, karena memerintah, karena titisan, maka layaklah penguasa mendapatkan surplus kekayaan yang dapat memenuhi gudang-gudang penyimpanan rekening untuk penguasa. Maka ada disparitas besar antara kawula dan para penguasa. Lihatlah secara fisik dari tampilan fisik baik sandang, pangan, papan. Ini bukan sekedar sandang, pangan, papan, tapi sebuah cerita yang memuat hikayat sosial yang teramat besar. Lalu kekayaan dapat menjadi simbiosis dengan kekuasaan. Karena kaya, maka berkuasa. Karena berkuasa, maka kaya. Maka cerita tentang kekuasaan ialah tentang audit antara sebelum dan sesudah menjabat kekuasaan.

Penguasa menikmati kekuasaannya, bisa jadi karena getah kekayaan yang berhilir pada kata kuasa. Apa daya kekuasaan telah terlampau deras bertaut dengan kekayaan. Lepas dari kekuasaan berarti enyah dari keistimewaan terhadap hulu-hulu kekayaan. Celaka dua belas. Kuat-kuat menggenggam dan mempertahankan kekuasaan dengan segala cara. Dus lihatlah para penguasa yang menjadi pesakitan. Kekayaannya disita, kekuasaan tak lagi ada, bahkan menjadi tahanan. Memang narasi dari mantan penguasa dengan kekayaannya bukanlah kisah homogen. Ada yang masih dapat menangkup kekayaannya, ada yang susut lalu diusut, ada yang sekedar menjadi kisah remang-remang. Kuasa dan uang merupakan hikayat ever green.

Penguasa adalah penjara. Dengan armada yang dimilikinya, maka laju oposisi dapat berjejalan memenuhi sel-sel hotel prodeo. Ada yang dipenjara secara fisik, ada yang dipenjara secara mental. Dimatikan secara perdata, dibatasi dan diawasi corong-corong suaranya, buah penanya disortir. Bibit-bibit oposisi pun sebisa mungkin ditanggulangi. Sebelum menjadi oposisi besar lebih baik dimusnahkan sedari dini. Maka berkumpul dimana-mana pun diawasi. Mau apa gerangan, untuk tujuan apa? Oposisi menjadi berserak. Oposisi menjadi diam-diam, silent-silent. Kawula pun berhati-hati dalam meluncurkan kata dan bertindak. Salah-salah ada perpanjangan tangan kuasa dan dapat mendekamlah kawula akibat gerundelan nelangsa hidupnya.

Penguasa adalah basa-basi. Maka segala kata-kata yang terlontar ke udara ialah basa-basi semesta. Yang klien berbasa-basi untuk menunjukkan loyalitas, yang patron melakukan basa-basi mengenai kemegahan dan pencapaiannya. Maka hipokrit menjadi bahasa wajib. Ada pesta disana-sini sebagai event basa-basi. Ada uang yang terhamburkan untuk pesta basa-basi. Bahasa menjadi tidak terang benderang, samar-samar, penuh simbol. Maka jadilah menerka-nerka menjadi fungsi turunan dari bahasa basa-basi. Apa gerangan sesungguhnya dari tujuan yang dimaksud.

Penguasa adalah mimpi-mimpi bombastis. Ada capaian agung semesta. Kebesaran di hari depan. Maka naik ke pentaslah para penguasa. Mereka kharismatik, mereka membetot perhatian rakyat. Ada kekaguman sampai mati malahan. Namun kata-kata mereka pun dapat menjerumuskan. Dapat membawa pada perang berkepanjangan, menghasilkan banjir darah, kerusakan software dan hardware. Dan ketika ditanya tentang destruksi yang ada, penguasa pun berkilah, ada harga dari pencapaian mimpi. Fast forward untuk menuju mimpi-mimpi bombastis. Penguasa dan mimpi-mimpinya bisa menjadi derita. Berhati-hatilah dengan mimpimu. Dan lebih berhati-hatilah dengan mimpi para penguasa.

Penguasa pun mengaktifkan segalanya untuk mencapai mimpi-mimpi bombastisnya. Dan daratan, lautan, udara dapat menjadi jejak dari obsesi mimpi bombastis. Rakyat? Oh rakyat perlu dipimpin, dituntun untuk menuju pencapaian esensi. Penguasa adalah obor, navigator bagi segala semak masalah dan kesukaran di perjalanan. Skeptis? Siap-siaplah menemui penghukuman.

(Bersambung)

Posted in puisi, sastra

Sebuah Awal atau Akhir?

Kacamata kelabu membius penglihatan
Warna yang tersemaputkan
Kisah yang merintis dalam sunyi
Dimana cerita menjadi duka
Dimana cerita menjadi luka

Ada banyak keindahan di bumi ini
Seraup ketakjuban yang terlimpahkan
Titik-titik pelangi di peta waktu
Notasi melodi para pemimpi

Kacamata kelabu yang ada
Menghempas segala cerah
Mengasingkan sosok
Menelangsakan waktu

Ketakutan yang memamah biak
Mengkudeta panel demi panel pikiran
Menggedor-gedor cahaya
Hadirkan muram sepanjang senja

Rembang petang dan pasir pantai
Apa yang kau lihat?
Sebuah awal atau akhir?

Posted in puisi, sastra

Tempat Peristirahatan Semesta

Mari kita mengenangkan luka yang datang terlambat
Tentang cinta yang terlewat

Samar-samar kulihat dia dalam ingatan
Samar-samar kudekap dia dalam memori yang terluka

Cinta seharusnya indah
Cinta seharusnya bunga

Tapi berapa banyak hal seharusnya, yang nyatanya tiada terjadi
Ada jembatan,
Tiada terlihat namun eksis adanya,
Memisahkan nyata dan obsesi

Mari kita memucatkan tawa yang pernah singgah
Kini duri
Kini sepi
Kini sendiri

Kurangkaikan bunga dalam perahu kertas
Ke tempat peristirahatan semesta,
Samudera

Posted in Buku, Edukasi, Essai, Fiksi Fantasi, Politik, Sosial Budaya

Komik Edukasi (1)

Apa yang tergambar di benak orang Indonesia ketika mendengar kata “komik”? Hiburan, anak-anak, akan menjadi frase yang umumnya keluar dari pertanyaan di atas. Pada hakikat dan kenyataannya komik dapat berimplikasi luas. Komik tidak hanya terkungkung dengan definisi hiburan dan anak-anak. Komik dapat juga menjadi medium transmisi nilai. Sebagai medium transmisi nilai, maka komik dapat menjadi alat edukasi yang ampuh dan tepat guna.

Dahulu masyarakat Indonesia akrab dengan produk budaya bernama wayang. Wayang selain sebagai hiburan, kebudayaan, juga menjadi medium pendidikan. Hal tersebut tercermin misalnya dari Soekarno yang gemar terhadap wayang dan mengidentifikasikan dirinya sebagai sosok Bima. Bima, tokoh wayang yang dikagumi Soekarno, berperan sebagai pejuang sejati membela Pandawa. Bima dilukiskan pejuang suci, pemberani, tidak kenal kompromi dengan lawan-lawannya, tetapi selalu siap bermufakat dengan mereka yang segolongan dengannya. Dalam diri Bima tercermin watak pejuang militan (crusader) dan tokoh sinkristis. Dalam diri tokoh Pandawa ini Soekarno mengidentifikasi ketokohan dirinya (Ahmad Suhelmi, Soekarno Versus Natsir: hlm.10). Nilai-nilai wayang untuk kemudian hidup dan menjadi sosialisasi politik awal bagi Soekarno yang turut mewarnai nuansa besar dari sang putra fajar yakni esensi ksatria, perlawanan terhadap kesewenang-wenangan.

Bagaimana dengan kini? Harus diakui wayang yang telah ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya kepunyaan Indonesia telah menjadi sesuatu yang tidak terlampau akrab dengan kehidupan anak negeri ini. Tentu ada banyak alasan yang dapat dilantangkan mengenai fakta tersebut. Ada medium televisi, internet, komik, yang menjadi bagian dari sosialisasi awal dari masyarakat Indonesia di era sekarang ini. Bagaimana dengan sosialisasi politik awal yang Anda alami? Sarana apa yang paling mempengaruhi corak cetak dasar dari diri Anda?

Saya sendiri memiliki pengalaman masa kecil dengan komik sebagai sarana edukasi. Ketika dulu, bapak saya selalu memberikan majalah Aku Anak Saleh. Dikarenakan peruntukannya untuk anak-anak, maka majalah tersebut bersifat edutainment. Ada warna dimana-mana, ada keceriaan dari setiap lembar halaman majalah tersebut. Tentu saja ada muatan nilai dan sisi-sisi ideologis yang ditransmisi oleh majalah Aku Anak Saleh. Ada icon Koko dan Cici yang secara tampilan menarik dan berkisah tentang nilai moral yang berbasiskan ajaran Islam. Ada juga rubrik mewarnai huruf hijaiyah yang membuat saya mengenal lebih dekat dengan huruf yang menjadi teks dalam Al Qur’an. Majalah Aku Anak Saleh dengan substansi komiknya telah membawa misi pendidikan yang membentuk batu dasar fundamental bagi pengembangan karakter ke depannya.

Lalu ketika duduk di bangku kuliah, saya mendapati kakak saya membeli komik Che Guevara. Che Guevara bagi beberapa kalangan merupakan tokoh inspiratif yang mewarnai jagat pemikiran dan konsep, terutama di lingkup kampus. Komik Che Guevara tersebut berkisah tentang perjalanan perjuangan Che Guevara secara singkat. Bagi orang yang awam terhadap sosok Che Guevara maka komik tersebut memberikan informasi lumayan untuk menjelalahi alur hidup si tokoh kiri ini.

Gambar memang tak dapat dilepaskan dari politik dan ideologi pula. Gambar dapat menjadi corong edukasi dan komunikasi dari ide demi ide. Kita memiliki referensi ketika era Demokrasi Terpimpin dimana politik propaganda dari pemerintah ialah dengan menghidupkan gambar petani, buruh dimana-mana. Begitu pula dengan para penguasa yang memerintah dengan tangan besi maka gambar dari dirinya akan eksis dimana-mana. Penguasa seakan omni present dalam segala kesempatan dan senantiasa mengawasi mereka yang berani menjadi anomali.

Mengapa bahasa gambar efektif sebagai media komunikasi dan propaganda? Secara keilmuan hal tersebut dapat dijelaskan karena gambar mampu mengkombinasikan kemampuan otak kiri dan otak kanan. Otak kiri sendiri berintikan pada logika, matematika, linearity, bahasa, sequence, analisis. Sedangkan otak kanan berintikan pada rhythm, kreativitas, imajinasi, dimensi, warna, holism. Hebatnya dari gambar, termasuk komik ialah mampu mengakses keunggulan di otak kanan dan kiri sehingga berbuah pada pemahaman yang lebih cepat dan mendalam. Prinsip dari memori sendiri menurut Adam Khoo dalam bukunya I Am Gifted So Are You terdiri dari visualisasi, asosiasi, absurditas dan humor, emosi, sinestesia, warna, permaknaan, musik.

Kemajuan dunia pendidikan telah membawa pada sejumlah penemuan. Salah satu penemuan yang cukup revolusioner ialah dengan adanya penggunaan mind mapping. Mind mapping sendiri merupakan upaya untuk mengaktivasi kerja otak kiri dan otak kanan dalam belajar. Maka gambar akan menyertai catatan dalam mind mapping. Dengan menggunakan mind mapping, maka catatan pelajaran akan lebih berwarna, singkat, dan lebih memorable. Hasilnya ialah daya serap terhadap materi pembelajaran yang lebih baik, kemampuan untuk melihat materi pelajaran secara makro.

Komik dan pendidikan dengan demikian sudah semestinya berada dalam paralelisme dan tidak perlu dipertentangkan. Pada sejumlah pandangan orang tua yang kolot memang masih terdapat yang memandang komik sebagai kesia-siaan, cuma untuk hiburan, hanya untuk anak-anak. Komik mengalami peyorasi, terdegradasi maknanya di mata sejumlah orang yang masih kolot tersebut. Pada realitasnya komik merupakan medium yang efektif sebagai sarana edukasi. Transmisi nilai dapat dengan cepat diserap dan bertahan di memori anak didik. Komik dapat menjadi opsi dalam pengembangan dunia pendidikan.

(Bersambung)

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Posted in Edukasi, Essai, Sosial Budaya

Generasi 0 Buku

Seberapa banyak dalam setahun Anda menamatkan membaca buku? Terkait dengan daya jangkau dari pembacaan buku, seniman kenamaan Indonesia Taufiq Ismail pernah menyatakan generasi muda Indonesia merupakan generasi 0 buku. Artinya tak ada buku yang lunas dibaca dalam setahun. Hal ini tentu saja memprihatinkan. Taufiq Ismail sendiri sampai pada konklusi tersebut setelah melakukan survei. Daya baca berkorelasi dengan banyak hal. Dari baca, akan tergapai kunci bagi labirin pengetahuan. Belum lama ini, saya mendapatkan pertanyaan request tentang bagaimana menulis yang baik? Terus terang saya enggan menjawabnya. Bukan karena tiada mau membagi ilmu, melainkan karena orang tersebut pernah mengirimkan tulisan dan mohon maaf hasil tulisannya seperti bahasa alai.

Memang saya belum mendapati studi yang menunjukkan korelasi presisi antara tingkat ke-alai-an dengan daya baca. Namun bagi saya bahasa alai merupakan bahasa yang malas dan membingungkan. Malas karena menggunakan penyingkatan disana-sini lewat simbol, angka, dan sebagainya. Membingungkan karena bahasa alai seperti kode yang membuat mata saya semaput dan jidat berkerut. Saya percaya alai merupakan bagian dari mozaik besar instanisme yang terjadi. Dan celakanya instanisme itu termasuk menggerus daya baca. Instanisme itu dapat dikarenakan termanjakan teknologi, tuntutan zaman, kesibukan, dan lain sebagainya. Instanisme terkoneksi dengan daya baca, manakala generasi baca Indonesia hanya membaca ringkasan, melakukan googling untuk mencari data.

Instanisme bertemu dengan serbuan teknologi, baik itu internet, televisi, ponsel pintar. Maka durasi dari generasi baca Indonesia pun menjadi singkat dan sekedar tahu saja. Taufiq Ismail terkait televisi mengatakan bahwa televisi telah menggerus daya baca dari seluruh warga dunia. Yap harus diakui televisi dengan segala pesonanya dianggap lebih menarik dibandingkan membaca. Akibatnya referensi pemikiran, perkataan dari keseharian pun terlihat dengan banyaknya menyadur dari televisi dibandingkan dari buku.

Angka empirik menunjukkan setiap tahun ada 15.000 judul buku baru dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 230 juta jiwa. Hal ini masih rendah dibandingkan dengan negara-negara maju dunia. Di negara maju, daya baca telah menjadi habbit dari masyarakatnya. Menjadi lumrah untuk membaca buku di segala tempat. Bandingkan dengan di negeri ini, lihatlah fasilitas umumnya betapa banyak orang yang membaca buku? Indonesia menjadi negara yang menghabiskan waktunya begitu banyak tanpa permaknaan membaca buku. Nyatanya dahulu kala, di era politik etis, para founding fathers kita adalah para pembaca yang ulung. Jika Anda membaca memoir dari Hatta maka akan Anda dapati bagaimana teraturnya Hatta dalam membaca buku. Pun begitu dengan tokoh lainnya seperti Soekarno, Natsir, Sjahrir,Tan Malaka. Tak berlebihan jika lapis ideologis bangsa ini begitu kuat pada masa tersebut. Barisan ideologis yang kuat harus ditopang dengan para pemikir yang ulung. Dan untuk mencapai pemikir yang ulung tersebut dapat dicapai melalui daya baca yang kuat.

Membaca merupakan kunci dari pengetahuan dan kemajuan. Jika Indonesia belum juga mampu untuk beranjak menjadi sejahtera, saya percaya hal tersebut ada korelasi dengan daya baca. Daya baca yang kuat akan menghemat tempo dari segala kesia-siaan dibandingkan debat kusir dan bicara tiada akhir. Setiap dari kita dapat berperan untuk menjadi generasi baca Indonesia. Generasi yang ketika ditanya buku apa yang Anda tamatkan dalam setahun? Akan mampu menjawabnya dengan lugas dan bernas.

Posted in Buku, Essai, Sosial Budaya

Kuliner Kenangan

Esensi dari sebuah makanan ternyata tak hanya pada kualitas cita rasa, ataupun tempat penyajian yang nyaman. Namun esensi dari kuliner dapat pula menyentuh kenangan. Menghidupkan melodi-melodi dari masa lalu, menghangatkan jiwa kita dengan kenangan tersebut. Seperti yang baru saya alami terkait dengan peristiwa kuliner. Setelah sekian waktu, kembali saya mencicipi roti panggul. Roti panggul sendiri merupakan roti, dimana pedagangnya memanggul roti-roti yang dijajakan. Pilihan rasanya tentu saja beragam, mulai dari cokelat, keju, susu, kelapa, nanas, dan sebagainya. Roti panggul yang saya cicipi selang beberapa hari yang lalu segera mengkoneksikan ingatan saya pada banyak hal. Terutama pada nenek saya.

Nenek saya sendiri telah meninggal sejak beberapa tahun yang lalu. Dan roti panggul ini menjadi barang yang mengkorelasikan segala hal sederhana antara saya dengan nenek saya. Dahulu kami merupakan berlangganan roti panggul. Kami membeli dengan berbagai pilihan rasa. Hal tersebut menjadi kebiasaan yang terus terjadi selama sekian fragmen waktu. Dan akan terseraplah segala kenangan yang diproduksinya seperti roti dalam bentuk sederhana, pilihan rasa, pedagang yang memanggul, triplek. Saya seperti terdampar pada lautan kenangan, meski saya tahu segala kenangan itu sekedar hidup dalam pikiran. Dan saya pun membeli dan menikmati kuliner roti panggul tak hanya sebagai konsumen yang menikmati roti en sich. Saya menikmatinya sebagai kuliner kenangan yang menjadi begitu bernilai, historikal.

Kuliner kenangan nyatanya juga dipotret dalam buku karangan Dewi Lestari berjudul Madre. Bagaimana dari biang adonan yang telah bertahan mengarungi puluhan tahun. Biang adonan itulah yang menjadi ibu dari sekian banyak roti yang dihasilkan. Biang adonan itulah yang menjadi benang merah yang mengungkap banyak misteri dan permaknaan. Ada banyak cerita yang dapat tertelusuri dari biang adonan yang bernama Madre tersebut.

Saya percaya masing-masing dari kita memiliki kuliner kenangan. Kita mendekap erat rasanya. Kekuatan hujamannya tidak sekedar berputar pada lidah, tapi telah menembus ke pemikiran dan jiwa kita. Kuliner kenangan ini tumbuh dan memiliki ceritanya sendiri, dan kita pun merindu untuk menikmatinya kembali. Maka ketika kehidupan ini sedang menjemu dan kerontang permaknaan, sejenak singgahlah, mengenanglah bersama cita rasa kuliner kenangan. Kuliner yang kita sesapi dari rasa dan nuansanya, serta dapat memberi pijakan kita untuk menatap kehidupan dengan lebih bersemangat lagi. Selamat mencicipi kuliner kenangan…