Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Sosial Budaya

Mural

Cobalah jelajahi kota dan perhatikan tembok-tembok yang ada. Pada beberapa bagian kota, tembok merupakan kanvas bagi para seniman. Tembok yang selama ini terkesan mati, diam, menjadi hidup, ekspresif di tangan para seniman mural dan grafiti. Grafiti dan mural sendiri memiliki perbedaan, grafiti lebih menekankan pada isi tulisan dan kebanyakan dibuat dengan cat semprot. Sedangkan, mural dibuat dengan cat tembok, cat kayu, atau kapur tulis. Mural biasanya digarap secara berkelompok, dengan pra produksi ialah pembuatan tema, pembuatan sketsa dan pemilihan warna (Republika, Sabtu 31 Desember 2011: hlm 16).

Secara personal saya pribadi mengapresiasi bentuk seni dari mural dan grafiti. Saya percaya mural dan grafiti merupakan lini dari seni dan imajinasi. Mural dan grafiti merupakan suatu karya seni yang dapat dinikmati, tidak hanya secara estetika gambar melainkan juga dari pesan yang disampaikan. Dari muhibah yang pernah saya lakukan secara personal, saya pernah menjepret lewat foto beberapa karya mural yang memikat dan artistik. Bahkan profil picture dari komunitas Kalfa ini sesungguhnya merupakan hasil jepretan foto saya dari mural di daerah Yogyakarta.

Saya sendiri menemukan mural Gatotkaca ini yang sekarang menjadi profil picture Kaldera Fantasi berawal dari ketidaksengajaan. Ketika itu saya dan keluarga sedang berjalan kaki mencari tempat makan di sekitar keraton. Kami gagal mendapatkan tempat makan yang compatible dan harus berbalik arah, namun saya mendapatkan mural Gatotkaca yang menarik ini tak jauh dari lokasi keraton. Tanpa pikir panjang saya pun menjepret dan mengabadikannya. Bicara tentang Yogyakarta, harus saya akui merupakan kota yang eksotik terhadap mural. Banyak mural yang saya dapati sepanjang mengunjungi kota gudeg tersebut. Gambar-gambarnya menarik dengan presisi, karakter tokoh, dan komposisi yang menarik.

Ternyata pengalaman personal saya dengan kota Yogyakarta tersebut menemui referensi penjelasan di koran Republika edisi Sabtu 31 Desember 2011. Menurut Kepala Bidang Kebudayaan Dinparbud Yogyakarta, Budi Santoso, yakin keberadaan tempat dengan objek gambar yang bagus akan menjadi area favorit untuk nongkrong dan berwisata mural. Dengan kebijakan tersebut, Yogyakarta menjadi lokasi studi banding pemerintah daerah lain di Indonesia.

Mural pada hakikatnya tidak hanya sekedar gambar tanpa permaknaan. Ada pesan yang terkandung dari mural. Mulai dari kritik sosial, upaya mengangkat budaya Indonesia, kampanye memerangi kejahatan transnasional, dan sebagainya. Bahkan jika menarik garis waktu lebih ke belakang, pada zaman Romawi, lukisan dinding dibuat untuk mengekspresikan rasa ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintahan. Lukisan dinding menjadi bentuk nyata dari laku pemberontakan. Pada zaman manusia primitif, melalui lukisan dinding di gua merupakan cara untuk mengkomunikasikan perburuan sekaligus aktivitas spiritual. Di belahan dunia lain yakni Mesir, lukisan di dinding memiliki kesan mistik, bahasa simbol, dan enigma. Rangkaian dari film Mummy dapat memberikan narasi selintasan tentang makna dari lukisan dinding di piramid.

Mural dan grafiti pada tataran di lapangan memang bisa menjadi menyebalkan. Hal ini tentunya memiliki gerbong yang lain dengan bentuk ekspresi seniman mural dan grafiti. Hal yang menyebalkan tersebut dalam bentuk vandalisme. Umumnya dengan menuliskan nama sekolah agar terlihat eksis, nama-nama yang aneh, ataupun menggambar dengan kadar artistik yang memalukan. Sebentuk realitas vandalisme tersebut hendaknya jangan sampai menggeneralisir serta merusak susu sebelangga. Bentuk vandalisme tersebut merupakan nila.

Dunia mural dan grafiti sendiri mendapatkan tempat dalam film nasional berjudul Alexandria. Dalam film Alexandria, selain narasi utamanya yang berkisah tentang cinta dan persahabatan, terdapat narasi minor yakni terjadi titik temu antara seniman mural dan grafiti dengan dunia bisnis. Bagaimana Bagas (Mischa Chandrawinata) menjadi seniman mural yang menerjemahkan pesan-pesan dari sponsor perusahaan. Film Alexandria sendiri disokong oleh perusahaan telekomunikasi yakni XL. Anda dapat melihat proses pembuatan mural dalam film Alexandria, disamping itu cover kaset dari OST-nya yang diusung oleh Peterpan merupakan wujud lain dari seni mural.

Pada tataran empirik, di beberapa spot jembatan layang Jakarta, saya melihat bagaimana mural yang merangkai seni telah berpadu dengan kepentingan bisnis. Hal ini menjadi diferensiasi dan variasi bagi upaya untuk marketing dari suatu perusahaan. Saya percaya titik temu semacam inilah yang dapat menjadi win-win solution bagi dunia mural.

Kerjasama dunia bisnis dengan seniman ini mengingat rasanya agak sukar untuk berharap banyak pada pemerintah yang ada. Pemerintah yang bertahta sepertinya terlalu sibuk dengan logikanya sendiri dan abai terhadap cita rasa berkesenian yang ada di masyarakat. Tentu tidak semua pemerintahan daerah alpa perhatian terhadap seni mural dan grafiti, namun saya percaya pemerintah daerah akan fine-fine saja dengan seni mural dan grafiti manakala telah bertemu dengan logika bisnis.

Kota besar dan ruang untuk imajinasi memang harus berada dalam satu kongsi. Tekanan hidup di kota besar mulai dari biaya hidup yang tinggi, tekanan pekerjaan, tekanan pelajaran, frustasi sosial, kemacetan, kriminalitas, dan sebagainya dapat dikurangi bebannya melalui seni mural. Mural dan grafiti jika ditempatkan pada bingkai positif akan dapat mempercantik wajah dari kota. Memberikan ruang imajinasi dan berkesenian sekaligus merangkum rangkaian makna. Seni mural seakan menjadi oase ketika sedang menelusuri jalan di urban. Pesan yang cerdas, komposisi gambar dan pewarnaan yang tepat akan menjadi kelir inspirasi bagi warga kota yang setiap kalinya harus berjibaku dengan waktu.

Sebentuk imajinasi dan aktualisasi karya seni memerlukan kanvas dan ruangnya. Dalam hal ini semoga seni mural ke depannya dapat menjadi seni kontemporer yang terus berkembang dan menjadi bagian dari ritme kehidupan di urban. T.S.Eliot sang sastrawan kenamaan dari belahan dunia lain pernah berkata bahwa orang-orang yang tidak memiliki imajinasi adalah orang-orang palsu (Haruki Murakami, Dunia Kafka: hlm 230). Tentu anda dan saya tidak ingin menjadi orang-orang palsu bukan? Dan saya harap personel jajaran di pemerintahan dari pusat hingga daerah juga bukan orang-orang palsu.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s