Posted in Essai

Eksponen Ilmu Baru

Anda ingat dengan film Titanic? Film yang dilatarbelakangi oleh tenggelamnya kapal mewah yang akan berlayar ke Amerika Serikat ini pada tahun 1914 memiliki beberapa momen yang menarik untuk dijadikan pembelajaran. Dikisahkan Jack yang memiliki kemampuan melukis dan telah melanglang buana ke banyak negara bertemu dengan Rose. Rose sendiri di balik kecantikannya harus menyimpan sejumlah luka. Rose yang dijodohkan dengan paksa karena kondisi keuangan keluarga yang melemah, Rose yang terkekang dengan segala aturan aristokrat. Pertemuan Jack dan Rose ini akhirnya menjadi roman dalam narasi tenggelamnya kapal Titanic.

Satu hal yang membekas di pikiran saya ialah bagaimana Jack berpesan kepada Rose untuk menjalani hidup dengan benar-benar hidup. Rose yang selamat dari musibah tenggelamnya kapal Titanic untuk kemudian melaksanakan betul-betul pesan dari Jack tersebut. Rose menerbangkan pesawat, ia juga berkuda, ia juga pergi ke banyak negara. Rose mencoba segala hal yang sebelumnya hanya ada di keinginan dan angannya. Apa kiranya pelajaran positif yang dapat dipetik dari kisah tersebut? Hiduplah dengan sebenar-benar hidup. Saya percaya banyak kiranya manusia yang belum utuh dalam hidupnya. Hidupnya seakan terbelenggu, terkekang, terbatasi.

Ada satu kalimat bijak yang dapat menjadi permenungan yaitu bukan seberapa banyak waktu yang kita miliki, tetapi seberapa hidup waktu yang kita jalani. Ketika anda benar-benar hidup maka anda sesungguhnya akan benar-benar belajar dan menghargai tiap waktu yang ada di bumi. Dengan membebaskan diri dari berbagai belenggu maka seluruh panca indra kita dapat termaksimalkan dengan optimal untuk belajar dan menambah ilmu baru. Seperti halnya Rose dalam kisah film Titanic yang memperkaya pengetahuan dengan mencoba aneka macam kegiatan yang sifatnya variatif.

Menikmati hidup dan enjoy akan berpengaruh pada kemampuan belajar. Berdasarkan pendapat motivator Reza M Syarief, untuk memperoleh serapan ilmu yang optimal maka kita harus berada pada gelombang alpha. Gelombang alpha itu dapat ditempuh manakala kita senang dalam belajar. Berada dalam gelombang alpha kemampuan kita untuk menyerap pelajaran seperti spons yang menyerap ilmu.

Menambah ilmu baru hendaknya menjadi panel ritme hidup kita. Jangan sampai pergantian hari namun tidak ada pertambahan ilmu yang didapati. Dalam istilah saya, kita seharusnya naik kelas setiap hari. Dan tahukah anda, untuk naik kelas setiap hari kegagalan juga penting? Dengan kegagalan mental kita diuji, pikiran kita akan liat untuk menghadapi tantangan. Kegagalan merupakan guru yang baik dan dapat mematangkan kemampuan personal kita. Sayangnya di sekolah formal Indonesia, kegagalan dipandang sebagai tabu dan salah.

Sistem pendidikan kita seperti diistilahkan oleh essais Goenawan Mohammad sebagai berikut: “Dulu di sekolah pun kita cuma “menerima” ilmu, bukan “mengolah” ilmu. Guru bilang A, kita bilang A. Rumus datang, rumus diulang. Kepala kita jadi gudang penyimpan angka dan kata yang tak pernah diurai, dianalisa, diproses. Kita tak pernah diajak berpikir kenapa 1 x 1 adalah 1 sedangkan 2 x 2 adalah 4”.

Perlu kiranya kita untuk membuka cakrawala sebagai manusia pembelajar. Bahwa kegagalan merupakan bagian dari hidup. Berani gagal berarti berani mencoba. Dengan berani gagal, maka kita akan terbiasa melakukan inovasi, pembaharuan terhadap pola-pola kehidupan. Kita tidak sekedar menjadi seperti “robot” yang menerima saja apa yang berlaku dan telah dikerjakan oleh para pendahulu. Kita senantiasa menjadi pribadi yang skeptis, ilmiah, dan haus akan ilmu pengetahuan. Seperti kita ketahui ilmu itu teramat luas dan rinci, maka perintah untuk mempelajarinya pun semenjak dari buaian hingga liang lahat. Tak pernah ada kata berhenti untuk belajar sepanjang kita masih hidup.

Mengaplikasikan dari ilmu juga tak kalah pentingnya. Ilmu tidak hanya bersifat beku dan kaku, melainkan harus hidup dan bergerak. Dengan demikian ilmu akan dinamis dan tidak berada di menara gading. Keberadaan ilmu akan memberikan manfaat bagi orang banyak. Bukankah sebaik-baik manusia ialah yang bermanfaat bagi orang lain. Dan untuk bermanfaat bagi hendaknya kita memiliki keberlimpahan. Karena apa yang bisa dibagi oleh orang yang defisit dan kekurangan nilai serta ilmu. Untuk itulah oleh Allah Swt dilebihkan beberapa derajat mereka yang berpengetahuan. Mari setiap hari yang ada kita optimalisasi untuk belajar dan belajar menambah ilmu baru.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s