Posted in Essai, Politik, Sosial Budaya

Rakus

Ibnu Khaldun menyatakan bahwa terdapat tiga dosa sejarah yang dapat meruntuhkan peradaban yakni: 1. dosa keangkuhan, 2. dosa kemewahan, 3. dosa kerakusan. Dosa sejarah tersebut jika tetap saja dilangkahi dengan semena-mena dan tanpa rasa salah, maka siklus bangun jatuhnya kekuasaan akan berulang tanpa henti karena manusia lebih menuruti naluri hewaniahnya (H.A.R Gibb, Studies on the Civilization of Islam: hlm. 173). Kerakusan nyatanya dapat menjadi penyumbang bagi rusak dan keroposnya bangunan dari suatu peradaban. Kerakusan mula-mula berawal dari internal diri lalu teraktualisasi menjadi perilaku. Celakanya suatu negeri ataupun peradaban jika banyak dipenuhi orang-orang yang bermental rakus. Rakus-ers akan menggerogoti seperti parasit hidup apa saja yang bisa dihisap dan dihabiskan hingga surutlah kemakmuran, pudarlah warna cemerlang.

Mancur Olson memotret kerakusan ini dalam teori bandit. Menurut Olson terdapat tipikal bandit dari suatu negeri yakni bandit menetap (stationary bandit) dan bandit berpindah (roving bandit). Bandit berpindah merupakan mereka yang menjarah semua sumber daya atau kekayaan yang ada, tanpa menyisakan sedikit bagian untuk kepentingan orang yang lebih banyak (masyarakat). Sedangkan bandit menetap, meski sama-sama melakukan penjarahan, masih menyisakan sumber daya untuk kepentingan masyarakat (Didik J.Rachbini, Teori Bandit: hlm. viii). Celakanya sebuah negeri bila diisi oleh para bandit macam begini? Bagaimana kiranya dengan Indonesia? Apakah dipenuhi oleh para bandit yang rakus?

Cerita kekayaan negeri ini telah sekian lama didendangkan. Soekarno misalnya menuturkan, “Ibumu Indonesia teramat kaya. Buminya hanya minta ditegur, maka menghasilkan ia macam-macam kekayaan dan keperluan dunia; hanya minta diasuh dan dipeliharakan sedikit, akan menimbulkan dan menumbuhkan pelbagai hasil keperluan hidup,” (Pitut Soeharto dan Zainoel Ihsan, Permata Terbenam: hlm.208). Namun mengapa pula seolah kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia hingga kini sekedar menjadi kisah di kongsi visi dan mimpi? Sejak dulu faktanya kekayaan Indonesia digerogoti oleh mereka-mereka yang bermental rakus. Sejarah menjadi larik pencerita yang paling baik, bagaimana dari negara nun jauh disana, dimana daratannya lebih rendah dari lautan, narasi kerakusan membuat pelik keadaan bumi pertiwi. Kerakusan dalam bentuk perusahaan yang mengelola kekayaan bumi pertiwi untuk kemudian ambruk dikarenakan korupsi yang dilakukan oleh para pegawainya.

Ironisnya narasi kerakusan tidak memandang warna kulit. Ketika dari bangsa sendiri yang mengelola kekayaan negeri, kemakmuran tak kunjung tiba, kerakusan tetap bercokol di negeri Indonesia. Ceruk kerakusan itu untuk kemudian menimbulkan dendam, letupan frustasi sosial, alam yang merangas kering. Alam Indonesia yang selama ini dibangga-banggakan pun mencapai titik kerusakan dimana-mana. Logika kerakusan yang merambah laut dan daratan benar-benar menterpurukkan keadaan alam. Hutan yang semakin berkurang seperti diungkap oleh kantor berita Reuters yang menyebutkan bahwa 72 persen hutan Indonesia telah musnah, sementara setengah dari sisanya terancam punah karena commercial logging (pembalakan komersial), kebakaran hutan dan penggundulan untuk perkebunan sawit. Guiness Book of Records (2008), diterbitkan September 2007, menyebutkan: Indonesia is the world champion in deforestation. Indonesia memegang kejuaraan dunia penggundulan hutan. Menurut Greenpeace, selama 2000-2005 Indonesia merupakan negara paling cepat dalam menggunduli hutan-hutannya, sehingga setiap jam, hutan seluas 300 x (tiga ratus kali) lapangan sepakbola amblas untuk selama-lamanya (Amien Rais, Selamatkan Indonesia: hlm.156). Kekayaan alam Indonesia lainnya yang dibajak oleh kerakusan dapat berupa kerusakan lingkungan akibat pertambangan, hasil kekayaan laut yang dirompak oleh kapal berbendera asing atas kongkalikong dalam negeri, dan sebagainya. Sejumlah fakta otentik tersebut telah menghadirkan skeptisme terhadap kemampuan sumber daya alam untuk menjadi tumpuan Indonesia di sisi ekonomi.

BJ Habibie diantaranya telah mewacanakan untuk tidak sekedar bicara tentang sumber daya alam Indonesia en sich, melainkan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang unggul ini nantinya akan menjadi distingsi dan mampu bersaing dalam peta persaingan global yang ada. Lalu bagaimana kiranya untuk menghasilkan sumber daya manusia yang unggul? Saya percaya bibit-bibit manusia unggul banyak bertebaran kiranya di Indonesia. Fakta empiriknya dari langganan juara olimpiade baik fisika, kimia, matematika. Indonesia tidak pernah kekurangan bibit unggul.

Kualitas sumber daya manusia yang unggul ini juga terkonfirmasi ketika saya melakukan wawancara dengan Jusman Syafi’i Djamal yang pernah menjabat sebagai Dirut PT DI. Menurut beliau kemampuan dari tenaga muda Indonesia di bidang dirgantara bersifat multi tasking. Beliau juga mengibaratkan para engineer Indonesia seperti puncak es krim yang benar-benar lezat dan sifatnya langka di dunia.

Permasalahannya kemudian dari segala macam potensi yang dimiliki Indonesia baik secara sumber daya manusia dan sumber daya alam bertemu dengan logika kerakusan. Segala potensi tersebut menjadi tersia-siakan bahkan menjadi lumbung hisap bagi para mereka penganut logika kerakusan. Sumber daya manusia yang unggul tersebut kesulitan untuk dapat berkembang di negeri sendiri sebagai implikasi dari politik anggaran yang tidak memihak pada pengembangan riset. Lihat saja porsi anggaran baik dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Ada begitu banyak ceruk bagi pemborosan dan pembenaran logika kerakusan.

Pos anggaran banyak tersedot bagi pegawai negeri sipil yang rasanya masih harus dipertanyakan kinerjanya dengan perbaikan gaji yang telah terjadi. Tunjangan bagi para politisi dan pejabat publik juga tak kalah menterengnya memperlihatkan logika kerakusan. Mulai dari baju dinas, fasilitas penunjang anggota dewan, gaji dari pejabat dan legislator, merupakan parameter sahih dari bagaimana kerakusan menemui legalisasi. Padahal pembelajaran dari masa lalu dan negara lain dapat menjadi acuan. Kita pernah mempunyai Natsir yang mengembalikan mobil dinasnya selepas tidak menjabat sebagai Perdana Menteri, kita mengetahui pesta pernikahan yang sederhana dari anak Ahmadinejad ataupun gaya hidup sederhana dari Ahmadinejad. Tentunya sejumlah realita itu semestinya menjadi panduan bagi pelaku di pucuk-pucuk piramida negeri ini.

Logika kerakusan sendiri sesungguhnya selalu merupakan gelas yang selalu minta dipenuhi. Bahkan ketika telah memiliki gunung emas, maka akan sekuat upaya untuk memperoleh gemerincing emas yang lainnya. Kerakusan rupanya tidak memiliki limit atas dan batasan. Maka itu sekaligus menjadi penjelas mengapa ketika kekayaan telah terhampiri masih saja muncul praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Kerakusan merupakan alasan bagi paranoid yang berlebihan. Maka lihatlah “benteng-benteng” yang dikreasi untuk mempertahankan dan memperluas kerakusan. Dinding tinggi, pengamanan berlapis secara fisik. Peraturan hukum, lobi dan upeti, merupakan upaya untuk mempertahankan detak kerakusan. Dan para penganut logika kerakusan juga punya segudang kata-kata manis untuk membenarkan tindak serakahisme mereka. Ada logika pertumbuhan, kapitalisme yang baik, dan istilah-istilah pemanis lainnya untuk menjadi topeng dari bau busuk yang menyeruak dari sendi kerakusan.

Kerakusan ibarat si pembocor kapal yang tidak sabar mendapatkan air di lautan. Akibatnya tidak hanya bagi si penganut kerakusan, tapi bagi kapal secara keseluruhan. Tak mengherankan Ibnu Khaldun menguraikan hipotesanya tentang dosa kerakusan sebagai penyumbang runtuhnya peradaban. Kerakusan bukan sekedar berdampak personal dan tuainya bagi si pelaku. Sama seperti sejumlah tindak kerusakan lainnya, kerakusan merembeti, menggerogoti bangunan dari sebuah negeri dan peradaban.

Tentunya masing-masing dari kita memiliki ruang kontemplasi untuk mempertanyakan dan memaknai langkah. Lembar kontemplasi yang saya pertanyakan kali ini ialah tentang kerakusan. Saya tak perlu menjawab, karena masing-masing dari kita dapat menempatkan dirinya apakah berada dalam kongsi kerakusan atau tidak. Masih untung jika ada kesadaran bahwa selama ini dirinya berada dalam kongsi kerakusan dan bersegera melakukan pertobatan. Yang celaka bin berbahaya ialah apabila belum sadar dan merasa baik-baik saja membocorkan kapal negeri dan peradaban sembari mengibarkan bendera kerakusan dengan penuh kebanggaan.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s