Posted in Essai, Politik, Sosial Budaya

Hidup Tak Sekedar Matematika (1)

Rapat di kantor saya pada hari Jum’at kemarin (13 Januari 2012) membawa pada beberapa konklusi. Konklusi tersebut disusun berbasiskan perhitungan matematika. Tentunya sebagai sebuah perusahaan, logika laba-rugi dan parameter terukur dijadikan sebagai bingkai kebijakan. Mulai dari skema fixed cost setiap bulannya, cash flow, asset, jumlah sumber daya manusia, menjadi perbincangan di rapat kali ini. Konklusi dari rapat menyadarkan pada sejumlah semangat, pencapaian, dan kerja yang lebih keras dan cerdas lagi. Disamping itu membawa saya pada satu permenungan bertema “hidup tak sekedar matematika”.

Apakah Anda mencintai pelajaran matematika? Pelajaran matematika sendiri telah diajarkan semenjak dini pada hidup kita. Sedari menginjak usia belia di sekolah formal, mulai dari TK, kita bersentuhan dengan logika matematika. Pelajaran matematika terus mengisi lajur pelajaran kita dari SD, SMP, SMA, bahkan hingga duduk di bangku kuliah. Saya sendiri secara personal menyukai pelajaran matematika. Pelajaran matematika bagi saya ibarat permainan yang menarik untuk dipecahkan. Pelajaran matematika seperti teka-teki seni yang menuntut ketrampilan untuk diusaikan.

Pelajaran matematika sendiri bagi banyak kalangan menjadi momok yang menakutkan. Terlebih matematika setia hadir dalam setiap jenjang esensial di berbagai level pendidikan. Matematika sendiri dikategorikan oleh pemenang hadiah Nobel yakni Dr. Roger Sperry dan Dr. Robert Ornstein sebagai keahlian otak kiri. Selain matematika, otak kiri kokoh menampung keahlian logika, linearity, bahasa, sequence, analisis (Adam Khoo, I Am Gifted So Are You: hlm 27). Pemahaman akademik mengenai anatomi dan kerja tubuh manusia ini mungkin yang dapat menjelaskan banyak hal dan mendasar. Mulai dari lemahnya beberapa orang di bidang matematika, sistem pendidikan yang pincang, pembangunan manusia yang tidak utuh, dan masih banyak lagi.

Kehadiran matematika sebagai mata pelajaran istimewa di setiap jenjang, jangan-jangan merupakan representasi dari pengedepanan penggunaan otak kiri, sistem pendidikan yang keliru, dan pembangunan manusia dengan konsep yang salah. Matematika ternyata dapat menjadi snap shot dari potret pengembangan sumber daya manusia yang semenjak mula keliru. Saya percaya para orang tua akan lebih khawatir jika nilai matematika anaknya buruk, dibandingkan nilai keseniannya buruk (seni sendiri masuk dalam kategorisasi otak kanan). Dan lebih mengkhawatirkannya lagi semenjak dini, bisa jadi logika matematika yang kaku telah dicangkokkan ke dalam manusia. Dimana 1 + 1 = 2, ataupun dalam setiap segi hidup melakukan perhitungan-perhitungan rigid, ada untungnya atau tidak bagiku.

Matematika bisa jadi potret dari pengembangan pendidikan Indonesia yang kelirumologi. Seperti disinyalir oleh Goenawan Mohammad sebagai berikut:”Kita bukan sang pembuat. Kita hanya konsumen dan penerima, Kita tak tahu proses, kita cuma tahu hasil, dari input ke output.” Goenawan Mohammad menambahkan pandangannya tentang pendidikan, “Dulu di sekolah pun kita cuma “menerima” ilmu, bukan “mengolah” ilmu. Guru bilang A, kita bilang A. Rumus datang, rumus diulang. Kepala kita jadi gudang penyimpan angka dan kata yang tak pernah diurai, dianalisa, diproses. Kita tak pernah diajak berpikir kenapa 1 x 1 adalah 1 sedangkan 2 x 2 adalah 4 (Goenawan Mohammad, Catatan Pinggir: hal 392).

Logika matematika bisa jadi merupakan potret dari kehidupan sosial politik. Tentang kawula yang dicekoki oleh “rumus-rumus pasti keberhasilan”. Kita dibuat percaya dan yakin bahwasanya hidup harus dilalui melalui jalur yang digariskan ini. Bagi para penanya berlebihan dan pembangkang bersiaplah menemui hukuman. Dan episode Orde Baru memaparkan tentang “rumus-rumus pasti keberhasilan” dalam berbagai lini pembelajaran. Sejarah dapat diproduksi sebagai logika matematika tentang perlunya stabilitas politik. Konflik di masa Orde Lama dalam sistem politik telah membawa marabahaya negeri. Maka logika matematikanya dapat diterjemahkan dalam sisi akademik seperti diperlihatkan oleh Susan Pinch dan Daniel S. Lev yang mengungkapkan bahwa semenjak tahun 1945 sampai dengan tahun 1965 sistem politik Indonesia telah mengalami 25 kali pergantian kabinet. Hanya 7 kabinet yang dapat bertahan selama 12 sampai dengan 23 bulan; 12 kabinet bertahan selama 6 sampai dengan 11 bulan; dan 6 kabinet bertahan selama 1 sampai dengan 4 bulan (Susan Pinch dan Daniel S.Lev, Republic of Indonesia Cabinet 1945-1965).

Untuk kemudian Orde Baru membasiskan roda pemerintahannya dengan sejumlah pencapaian-pencapaian matematik nan terukur. Pertumbuhan ekonomi, Pembangunan Jangka Panjang, Pembangunan Lima Tahun. Capaian-capaian yang terukur dan matematik tersebut untuk kemudian membawa pada sejumlah kekeliruan pandang dan persepsi. Terbuai dalam delusi yang diciptakan oleh kalkulasi matematik tersebut.

(Bersambung)

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s