Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Film, Politik, Sosial Budaya

Dapur Karya (1)

Sebuah karya merupakan proses penciptaan. Ada proses yang berlangsung disana yang mengantarkan pada sejumlah peluh dan kesungguhan tekad. Karya tidak hanya bicara ketika telah menjadi sesuatu. Cerita untuk menjadi sesuatu pun merupakan warta yang menarik untuk dikabarkan. Seperti dua buku terbaru yang saya beli, dimana kedua buku tersebut mewartakan cerita untuk menjadi sesuatu. Yang pertama berjudul Cerita Di Balik Dapur Tempo, yang kedua berjudul Madre. Kedua buku tersebut dengan caranya sendiri mengurai kecap dapur, proses dari peracikan bahan demi bahan hingga tertampillah sebuah karya. Karyanya yakni majalah Tempo dan roti.

Apa pentingnya mengetahui cerita di balik dapur sebuah karya? Saya percaya di era keterbukaan informasi dan globalisasi ini, proses cerita di balik karya merupakan sesuatu yang pada beberapa bagian menjadi hak publik. Cerita di balik dapur telah menjadi ruang transparan dan dapat diakses. Bahkan kelebatan informasi di balik dapur menjadi pengokoh branding dari suatu karya. Dalam keseharian kita dapat melihatnya dengan restoran yang secara eksebisionis memperlihatkan bagaimana para kokinya meracik makanan di hadapan kita. Tak ada dusta diantara pembeli dan si pembuat makanan, sekurangnya poin itu yang dapat tergapai. Sedangkan di lini film, kita memperoleh “informasi dapur” ketika sedang proses pembuatan film. Contohnya ialah bagaimana film Batman: The Dark Knight Rises yang mendapat perhatian khalayak ketika masih dalam proses dapur. Mulai dari kostum Cat Woman, Batmobile, adegan pertarungan massal antara Batman-polisi-kelompok Bane, merupakan sekelumit fragmen dari cerita dapur dari serial terakhir manusia kelelawar yang digawangi oleh Christopher Nolan.

Dalam skala tertentu novel Perahu Kertas yang ditulis oleh Dewi Lestari dibidani kelahirannya melalui proses penulisan yang terbuka bagi publik. Sepanjang 55 hari berurutan Dewi Lestari menelurkan fragmen demi fragmen kisahnya hingga akhirnya utuh menjadi novel Perahu Kertas. Novel Perahu Kertas sendiri usai ditulis oleh Dewi Lestari dalam 60 hari bekerja dengan konten 86.500 sekian kata (Dewi Lestari, Perahu Kertas: hlm.439). Sedangkan proses kelahiran Perahu Kertas hari per hari dapat ditelusuri di blog: Journal of a 55-days Novel (www.dee-55days.blogspot.com). Dengan demikian pembaca blog Dewi Lestari dapat melihat episode demi episode kisahnya sebelum menjadi satu cerita utuh. Para pembacanya juga dapat memberikan komentar terbuka sepanjang proses pembuatan cerita dari novel Perahu Kertas.

Kisah di balik dapur nyatanya layak untuk menjadi produk yang menarik. Pada beberapa film misalnya chemistry dan kisah roman antar pemainnya menjadi bumbu-bumbu spicy dari sebuah karya. Kristen Stewart dan Robert Pattinson tentunya dapat menjadi rujukan contoh. Seberapa dekat mereka di lokasi syuting, apakah hubungan nan romantis di film itu terjadi dalam dunia nyata, dan banyak pertanyaan lainnya yang kiranya menjadikan kisah Twillight terdongkrak dengan terus menjadi pembicaraan publik.

Kisah di balik dapur menjadi bagian esensial bagi pecinta sejati dari sebuah karya. Maka penikmat sejati karya pun tak segan untuk merogoh kocek demi mendapatkan DVD komplet yang memuat cerita di balik karya. Dalam hal ini misalnya The Lord of The Rings yang merupakan sebuah karya monumental yang melibatkan rincian kecil dan detail. Cerita di balik dapur dari kisah yang berawal dari novel J.R.R. Tolkien ini menunjukkan bagaimana industri film bukanlah industri yang main-main. Ada special effect yang dikerjakan dengan benar-benar akurat, ada kostum yang menghidupkan nuansa kerajaan, ada topeng-topeng untuk para Orc, ada skenario cerita yang mesti bertemu dengan realita di lapangan, dan berbagai kisah keajaiban lainnya.

Keterbukaan informasi dan demokratisasi yang terjadi di Indonesia hendaknya memperkaya khazanah dari suatu karya. Satu segi yang dapat ditempuh dari keterbukaan informasi serta demokratisasi ialah riset dari karya. Dengan keleluasaan mendapatkan informasi dan sistem politik yang terbuka, maka riset pun dapat lebih kaya dan bertenaga. Para pencipta karya tak perlu lagi bingung bermanuver di ruang sempit seperti diperlihatkan oleh Eep Saefulloh Fatah ketika menyusun skripsinya yang berjudul Konflik, Manipulasi dan Kebangkrutan Orde Baru- Manajemen Konflik Malari, Petisi 50 dan Tanjung Priok. Tentunya ketika itu kondisi politik masih otoriter dan tertutup termasuk terhadap akses informasi.

Harus diakui bahwasanya kehidupan sosial politik mempengaruhi pula dapur karya dari para kreator. Para kreator merupakan anak zamannya yang sedikit banyak melakukan resistance terhadap keadaan yang terjadi. Hamka dalam buah karyanya Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck melakukan “pemberontakan” terhadap status sosial, serta budaya yang menjadikan kisah kasih tak sampai pada muaranya. Hamka tidak sendiri, ada juga Marah Roesli dengan karya fenomenalnya Siti Nurbaya yang di balik romannya melakukan gugatan terhadap perjodohan yang merampas kemerdekaan pilihan dan cinta suci. Kondisi zaman dengan demikian telah menghasilkan kegelisahan bagi si pencipta karya. Kegelisahan itulah yang menjadi sumbu inspirasi, energi pada tiap kata yang tertuang, dan tergambar dalam karya akhir.

(Bersambung)

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s