Posted in Buku, Edukasi, Essai, Fiksi Fantasi, Sosial Budaya

Indie Label dan Menulis

Tawaran itu datang dengan segala keterbatasan waktu. Dan saya pun akhirnya menyanggupi untuk menerima tawaran itu. Berawal dari sebuah pesan di inbox hand phone, sobat saya yang bernama Rendi menawarkan ide untuk ikutan menerbitkan indie. Setelah dipikir-pikir saya pun memilih opsi ikut dengan tawaran Rendi tersebut. Di tengah keterdesakan waktu, sempat terbersit untuk membuat semacam cerpen, namun akhirnya saya memilih untuk menerbitkan antologi puisi saya saja. Dan nyatanya proses memilih puisi benar-benar membutuhkan waktu sehingga saya pun meminta perpanjangan waktu penyerahan naskah.

Antologi puisi saya yang berjudul Kaldera insya Allah akan menyapa di perhelatan Hello Fest di Balai Kartini. Dalam essai kali ini saya akan mencoba untuk menelaah indie. Indie sendiri pada beberapa definisi dapat diartikan sebagai bentuk perlawanan terhadap arus pasar. Harus diakui bahwasanya industrialisasi, komersialisasi, kapitalisme telah menyeruak dalam berbagai lini apapun di kehidupan. Fukuyama dalam bukunya The End of History and the Last Man menyatakan bahwa telah berakhir era konfrontasi ideologi. Dari kontestansi ideologi yang ada tambah Fukuyama, pemenangnya adalah ideologi demokrasi dan kapitalisme.

Kapitalisme yang merambah di berbagai lini bertemu dengan konsep karya. Sebuah karya dapat diterbitkan manakala bernilai ekonomis dan menguntungkan. Ada logika laba-rugi, investasi, cash flow disana. Sementara itu harus diakui sebenarnya banyak kiranya manusia Indonesia yang sebenarnya memiliki keinginan untuk menjadi kreator di bidang fiksi fantasi. Banyak kiranya yang memiliki obsesi menjadi penulis fiksi fantasi, komikus. Namun segala obsesi tersebut dapat terbentur dengan logika perusahaan dan kapitalisme yang menghegemoni. Akibatnya belum membuat karya sejumlah orang telah jeri, pelan-pelan mengibarkan bendera putih, menguburkan impiannya untuk berkarya di bidang fiksi fantasi. Tembok perusahaan dan logika kapitalisme dengan caranya telah mengkanvaskan sejumlah talenta-talenta fiksi fantasi handal dari bumi Indonesia. Mereka yang terkanvaskan, mungkin Anda kenal sebagai sahabat Anda, atau bisa jadi itu Anda sendiri.

Mereka yang terkanvaskan, lalu menjalani hidup dan pekerjaan bisa jadi di bidang yang membosankan, sembari menyimpan bara fiksi fantasi yang tidak tercurahkan. Kegagalan mereka yang terkanvaskan bisa jadi bukan karena kekurangan skill, talenta, ide, namun karena tembok tebal dari major label fiksi fantasi yang ada. Mereka yang terkanvaskan bisa jadi kurang memiliki kesabaran, keteguhan, dan kekuatan mental. Mungkin contoh kasus ini dapat membarakan mereka yang terkanvaskan. Apakah Anda mengenal Jules Verne? Jules Verne dijuluki sebagai Bapak Fiksi Ilmiah Modern. Jules Verne dikenal dunia melalui sejumlah karya fiksi fantasinya seperti Mengelilingi Dunia dalam 80 Hari dan Perjalanan ke Bulan. Karya dari Jules Verne bahkan telah membawa akselerasi penemuan pada dunia nyata serta memberikan ruang mimpi dan kemungkinan bagi penemuan-penemuan baru.

Jules Verne sendiri memiliki kebiasaan menulis yang baik, yakni selalu menulis selepas waktu Subuh. Jules Verne rajin menulis semenjak umurnya 17 tahun dan terus saja menulis. Dan tahukah Anda, pada umur berapa karya Jules Verne mulai dapat terpublikasi luas. Tulisan Jules Verne baru dapat terpublikasi luas ketika umurnya telah mencapai 34 tahun, dimulai dengan karyanya yang berjudul Lima Minggu di dalam Sebuah Balon yang akhirnya diterima penerbit untuk dicetak menjadi buku (Panduan Jurnalistik Praktis: hlm. 28). Untuk kemudian bukunya mendapatkan perhatian luas diminati dan Jules Verne pun terus berkarya dan akhirnya menjemput takdir sejarahnya seperti yang kita ketahui sekarang.

Konsistensi menulis, kecintaannya pada menulis fiksi fantasi pada akhirnya berbuah manis bagi Jules Verne. Fragmen kehidupan nyata dari Jules Verne tersebut semoga dapat menginspirasi dan menjadi pembelajaran bagi kita semua. Terkait dengan kemampuan menulis, saya sendiri percaya bahwasanya menulis merupakan kemampuan aktif, keahlian yang memerlukan jam terbang pelatihan terus menerus. Menulis tidak hanya dapat dikuliahkan pasif dan ditatarkan. Menulis tidak hanya dapat diajarkan dengan keharusan memakai tata bahasa dan aturan-aturan berbahasa yang baik. Menulis harus dilatih dengan menulis.

Sayangnya pola pendidikan di Indonesia kurang bersahabat pada menulis. Apakah Anda masih ingat dengan pelajaran mengarang ketika duduk di bangku sekolah? Satu hal yang saya ingat dari pelajaran mengarang ialah terdapatnya pola yang sama dan seragamisasi pada mengarang. Ada fragmen “pada suatu hari”; “berlibur ke rumah nenek”. Fragmen tersebut seolah menjadi mozaik sakti yang wajib ditempuh oleh para pelajar. Dan menyedihkannya banyak siswa yang memakai fragmen tersebut pada karangannya. Saya sendiri ketika dulu di sekolah tidak menggunakan fragmen “sejuta pelajar” tersebut dikarenakan alasan rasional dan emosional. Alasan rasionalnya, nenek saya tinggal di bawah atap yang sama dengan saya, sedangkan alasan emosionalnya saya ingin memberontak terhadap segala seragamisasi tersebut. Alhasil ternyata baik-baik saja, bahkan nilai mengarang saya mendapatkan nilai bagus. Saya senang, nilai pun keren.

Pola pendidikan Indonesia terhadap pelajaran mengarang dengan menggunakan fragmen “sejuta pelajar” tersebut menurut hemat saya telah membunuh begitu banyak jiwa sastrawan pada diri manusia Indonesia. Saya sendiri masih dapat mengingat jelas bagaimana ketika dalam pelajaran bahasa Indonesia sesi mengarang, maka banyak pula siswa yang mengeluh dan kesal. Rupanya pelajaran mengarang menjadi momok yang menakutkan dan mengesalkan. Harus diakui sistem pendidikan Indonesia belum mampu menampilkan pola pengembangan manusia yang utuh. Seperti disinyalir oleh Goenawan Mohammad sebagai berikut:”Kita bukan sang pembuat. Kita hanya konsumen dan penerima, Kita tak tahu proses, kita cuma tahu hasil, dari input ke output.” Goenawan Mohammad menambahkan pandangannya tentang pendidikan, “Dulu di sekolah pun kita cuma “menerima” ilmu, bukan “mengolah” ilmu. Guru bilang A, kita bilang A. Rumus datang, rumus diulang. Kepala kita jadi gudang penyimpan angka dan kata yang tak pernah diurai, dianalisa, diproses. Kita tak pernah diajak berpikir kenapa 1 x 1 adalah 1 sedangkan 2 x 2 adalah 4 (Goenawan Mohammad, Catatan Pinggir: hal 392).

(Bersambung)

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s