Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Film

Takut: Batman-Rambo

Bruce Wayne kecil terjatuh ke dalam sebuah sumur tua. Bermeter-meter dari ketinggian, dia hanya dapat melihat sekelumit cahaya. Dan kumpulan kelelawar pun menyerbunya. Bruce Wayne kecil pingsan, untuk kemudian terbangun dengan membawa luka bawaan bernama ketakutan. Ketakutan itulah yang terus bersemayam di ruang bawah sadarnya, hingga membawa Bruce Wayne kecil pada sebuah de javu ketakutan ketika dirinya bersama orang tuanya menonton opera yang mempertontonkan lakon kelelawar. Keluarga kecil Wayne pun keluar dari ruang opera, untuk kemudian Bruce Wayne kecil harus berhadapan dengan luka kehilangan orang yang dicintainya. Ayah dan ibunya meninggal dalam perampokan bersenjata.

Bruce Wayne tumbuh secara fisik sembari membawa sejumlah luka mendalam. Tidak di fisik, tetapi di dalam pikiran dan jiwa. Sampai akhirnya Bruce Wayne dengan segala keberlimpahan kekayaan dan pilihan jalan hidup untuk menjadi pahlawan memerlukan simbol. Dan Bruce Wayne memilih simbol yang selama ini menjadi ketakutannya: kelelawar. Dia ingin para penjahat pun merasakan ketakutan yang sama ketika bertemu dengan sosok alter egonya yakni Batman.

Diantara berbagai kisah fiksi fantasi yang ada, saya terpesona dengan cerita Batman. Dari segi penceritaan Batman begitu rasional, humanis, dan kokoh membangun sendi-sendi fragmen kisahnya. Terlebih ketika film bioskop Batman digawangi oleh Christopher Nolan. Film Batman benar-benar mampu menjadi kisah komplet dan layak direkomendasikan menjadi jajaran film kelas wahid. Ada banyak titik-titik menarik yang dapat dijadikan permenungan dan terpikirkan ketika melihat film Batman. Salah satunya ialah poin takut.

Ketakutan inilah yang menjadikan sosok Batman menjadi rasional, humanis, dan manusiawi. Batman merupakan pahlawan yang tumbuh dari rahim ketakutan. Dan itu berarti banyak bagi kisah dan gaya kepahlawanannya. Beda kiranya dengan Rambo, yang dalam essai Goenawan Mohammad diwartakan, “Dan dia datang, dia berjuang, dia menang, dengan catatan: semuanya dilakukan secara seru, tapi tak amat sulit…Ia berani, ia ahli berkelahi. Tapi pada dasarnya ia sukarelawan yang berapi-api untuk bertarung nonstop, waspada nonstop, dan membawa prasangka-prasangka Amerika nonstop (Goenawan Mohammad, Catatan Pinggir 2: hlm. 202).

Rambo adalah potret dari kepongahan dan nihilisme ketakutan. Lihat saja bagaimana Rambo memberondongkan senjata, secara terbuka, tanpa pertahanan. Rambo juga one man action yang menyerbu ke pusat musuh di Vietnam sana dengan bumbu seolah patriotik. Satu orang melawan puluhan orang. Sebuah karya dari nihilisme ketakutan. Rambo menyusup, melawan, dan menang dengan dirinya seorang.

Berbeda kiranya dengan Batman yang di aliran kesadarannya ada rasa takut. Batman memperlengkapi dirinya dengan sejumlah alat pengaman multi canggih untuk memastikan kinerja kepahlawanannya dapat terlaksana dengan sempurna. Batman berhitung dan menakar risiko. Batman menggandeng koalisi kecil dengan Lucius Fox dan Alfred untuk menjadi sumber daya manusia pendukung peralatan yang dibutuhkannya. Mulai dari batmobile, pakaian, markas besar, menjadi elemen tak terpisahkan dari kalkulasi rasional tugas kepahlawanan yang berbahaya. Ketakutan dalam kisah Batman itu nyata dan tidak dieliminasi karena dirinya hero.

Ketakutan dalam kisah Batman nyata dan terlihat seperti terurai dalam kekhawatiran dari Alfred terhadap Bruce Wayne. Luka di punggung akibat kegiatan malam kepahlawanan, alienasi sosial dari penggunaan uang yang mesti kentara seperti membeli mobil sport, berolahraga; merupakan sekelumit dari kekhawatiran dari Alfred sang pelayan setia. Dan Alfred pula yang membangkitkan Bruce Wayne dari ketakutannya ketika mansion warisan keluarganya dari generasi demi generasi musnah dilahap api karena ulah kelompok Ra’s Al Ghul. Keluarga Wayne tidak hanya dibangun dari bata demi bata, tapi dari jiwa – itulah warisan yang paling esensial dan krusial.

Bruce Wayne merupakan sosok pahlawan yang lahir dari rahim ketakutan. Lihatlah bagaimana kota Gotham yang berada di limit yang mengkhawatirkan. Mulai dari kemiskinan, kekumuhan, tingkat kriminalitas. Ketakutan itulah yang mengakselerasi sang penyelamat dan membawanya pada kesadaran sejarah untuk tidak berpangku tangan. Bruce Wayne bisa saja memilih jalan kesenangan dengan segala imperium bisnis yang dimilikinya. Namun, dengan kekuatan finansialnya dia membangun kepahlawanannya. Dan pada titik perspektif itulah terjadi bifurkasi antara Bruce Wayne dengan Ra’s Al Ghul. Mereka sama akur bahwa kota Gotham rusak dan perlu diselamatkan. Namun Ra’s Al Ghul dengan league of shadow memilih untuk menegasikan ketakutan dengan penghancuran total. Dari puing-puing peradaban akan dibangun peradaban baru yang lebih baik, begitu pemikiran dari Ra’s Al Ghul.

Beda kiranya dengan Bruce Wayne yang masih percaya dan menaruh harapan pada kota Gotham. Dia masih percaya bahwa kota ini masih bisa diselamatkan dan masih ada orang-orang yang setia menyalakan cahaya dan bekerja untuk kebaikan. Dalam tataran dunia kekinian, diametral pemikiran antara Ra’s Al Ghul dan Bruce Wayne nyata terjadi. Di Indonesia dapat menjadi studi empiriknya. Bagaimana ketakutan dapat membawa kehancuran dan bagaimana ketakutan dapat membawa perbaikan. Ketakutan dapat membawa kehancuran tercermin dari rush yang terjadi di medio 1998, penimbunan sembako, yang akhirnya malah memperkeruh kondisi Indonesia. Ketakutan akan miskin dan tak berkuasa, membuat tindak korupsi, kolusi, nepotisme menggejala, hingga membawa negeri ini tak kunjung bersinar.

Sebaliknya ketakutan dapat membawa perbaikan, dapat tercermin dari sejumlah tindakan nyata seperti guru muda di daerah terpencil, inovasi di sejumlah lini kehidupan, percaya bahwa masih ada harapan di hari depan.

Batman tentu saja hanya tokoh rekaan fiksi fantasi. Ia takkan hadir ketika kita menyalakan lampu kelelawar yang menyorot ke langit. Namun esensi dari kisah Batman yang mampu mengolah ketakutan menjadi karya harapan dan perbaikan merupakan sesuatu yang dapat nyata terjadi. Ketakutan itu nyata, ketakutan itu benar adanya. Yang paling krusial ialah mengolah ketakutan menjadi sesuatu yang positif dan kerja penuh harapan. Dan masing-masing dari kita dapat menjadi pahlawan dengan tetap percaya dan menghidupkan harapan.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

3 thoughts on “Takut: Batman-Rambo

  1. kalau anda suka BATMAN maka saya suka THE MASK, karena BATMAN berawal dari rasa takut, sedangkan THE MASK berawal dari kekonyolan, hidup ini untuk ditertawakan bro, hahahahahahahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s