Posted in Edukasi, Essai, Fiksi Fantasi, Politik, Sosial Budaya

Kreativitas

Ada banyak cara untuk memulai hari, tapi kenapa harus memilih cara yang sama setiap kalinya? Ada banyak jalan yang dapat ditempuh, tapi kenapa harus memilih jalur yang tipikal setiap memilih? Percayakah bahwa bisa jadi sesungguhnya hidup kita ini tertata dalam order, konsep yang serupa setiap kalinya. Manusia seperti terpola dalam partisi-partisi. Enigma dan chaos seakan menjadi konsep asing, layak dialienasi, pantas dimarjinalkan. Korelasi dari semua ini ialah kita menjadi membosankan dan itu-itu saja. Tak ada kejutan, tak ada unsur wow setiap bertemu kembali. Tak ada jalan keluar yang brilian, otentik dan jenial dari kepungan masalah yang ada. Dan bisa jadi tanpa sadar sesungguhnya manusia dapat menjadi robot yang bernafas. Terprogram dan terpola setiap kalinya.

Dalam lingkup sosial politik berkembang wacana bahwa Indonesia sekarang ini sesungguhnya berada dalam kondisi auto pilot. Segala pencapaian pertumbuhan ekonomi di kisaran 6 %, kemajuan agregat negeri ini merupakan konsekuensi logis dan wajar, tanpa membutuhkan kepemimpinan yang kreatif dan penuh terobosan. Jangan-jangan kondisi auto pilot merupakan cerminan dari banyak orang Indonesia. Hidup otomatis dan bekerja dalam mekanisme yang minim kreatifitas. Nihilisme kreatifitas sendiri dapat dilacak pada beberapa titik persinggahan hidup.

Pada pola pendidikan, kreatifitas dapat tersurutkan, terpadamkan ketika menjalani kehidupan pendidikan formal. 12 tahun dari SD-SMA, kita disuguhi dengan multiple choice. Sebuah konsep ujian yang dapat membekuk kreatifitas. Bagaimana tidak membekuk kreatifitas, dikarenakan dari pertanyaan yang diujikan, maka hanya ada satu jawaban yang benar, sisanya salah. Repetisi dalam jalur formal ini membentuk pola manusia yang kaku, dan seolah tidak memiliki alternatif jawaban. Padahal dari setiap jalur permasalahan, ada begitu variasi jawaban dan ragam pemecahan. Namun sistem pendidikan telah membentuk skema berpikir yang sempit dan tidak memberikan ruang bagi kreatifitas.

Kreatifitas dapat terkubur dengan adanya seragamisasi. Dan sayangnya itu terjadi di negeri ini. Mulai dari seragam sekolah yang seragam (alasan yang dikemukakan untuk menekan kesenjangan antara si kaya dan si miskin, maka dibuatlah kebijakan baju seragam); jawaban dan konsep berpikir yang seragam; penilaian pendidikan yang seragam (melalui kebijakan Ujian Nasional), dan sebagainya. Mengenai jawaban yang seragam, dapat dilihat dalam pelajaran PPKN (mungkin ada yang mengenalnya dengan PMP), dimana jawaban yang benar ialah jawaban yang paling mulia, agung, dan beretika. Seragamisasi memang merupakan fungsi turunan dari sistem politik yang menginginkan warganya berada dalam rumah kaca yang dapat diawasi. Siapa yang menyimpang dan tidak sesuai dapat ditindak. Implikasi dari kebijakan ini ialah kreatifitas menjadi sesuatu yang aneh, asing, dan bahkan dimusuhi bersama.

Kreatifitas yang terpasung bahkan dapat dilacak dari cita-cita semenjak kecil. Saya percaya profesi favorit yang menjadi banyak pilihan ialah dokter, insinyur, tentara. Bahkan untuk bermimpi dan bercita-cita saja sulit untuk menemukan simpul kreatifitas. Segalanya terpolakan dalam skema order sejak dini. Padahal dalam kehidupan dan persaingan global, kreatifitas merupakan keunggulan dan keutamaan. Dalam kabinet Indonesia Bersatu II hasil reshuffle sendiri, terdapat panel tambahan untuk mengakomodasi kreatifitas yakni dengan tambahan frase ekonomi kreatif. Jadilah terdapat Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Meski demikian semoga frase ekonomi kreatif tersebut dapat berkorelasi dengan tumbuh kembangnya kreatifitas di Indonesia. Jangan sekedar lips service dan gincu politik, tanpa implementasi nyata dalam kebijakan.

Kreatifitas sendiri sebenarnya paralel dengan kemajuan dan daya saing bangsa. Amerika Serikat dan Jepang yang merupakan negara maju, merupakan negara yang hidup dengan kreatifitasnya. Film-film Amerika merupakan kanal dari industri kreatif yang berhasil melemparkan hasilnya ke negara-negara dunia. Jepang juga begitu maju dengan kreatifitasnya. Manga dan anime merupakan bagian dari gaya hidup keseharian orang-orang disana. Contoh sukses kedua negara maju di dunia tersebut hendaknya mendamparkan keyakinan bahwasanya jika Indonesia ingin berjaya maka berikan ruang bagi kreatifitas di negeri ini.

Dukung penuh kreatifitas bagi negeri ini melalui political will yang berbuah pada sejumlah kebijakan nyata. Ada banyak opsi yang dapat ditempuh oleh pemerintah untuk dapat mengakselerasi pertumbuhan industri kreatif di negeri ini. Mulai dari pembenahan sistem pendidikan menjadi ramah terhadap kreatifitas, mendukung nyata dan penuh para pelaku industri kreatif, melakukan diskriminasi positif terhadap pelaku industri kreatif dalam negeri, dan sebagainya. Dalam hal mendukung pelaku industri kreatif, misalnya dengan mengurangi berbagai beban pajak pada film, sehingga implikasinya budget dari pembuatan film dapat lebih murah, ataupun pajak yang rendah terhadap buku.

Pajak yang rendah terhadap buku merupakan konsekuensi historis dan semestinya ditempuh oleh pemerintah. Mengingat dalam pasal 31 ayat 3 Undang-Undang Dasar 1945, terdapat amanat bahwa “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.” Dan amanat tersebut, dapat tercapai salah satunya dengan melalui jalur buku. Mahalnya harga buku harus diakui membuat minat baca dan daya beli rakyat Indonesia belum menggembirakan. Dalam setahun hanya ada 15.000 judul buku baru, padahal penduduk Indonesia ada 230 juta jiwa.

Mahalnya biaya pembuatan buku, merupakan salah satu poin utama kenapa komik Indonesia belum menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Dalam perbincangan panjang x lebar dengan rekan sekantor saya yang juga praktisi komik, harga menjadi pengganjal dari perkembangan komik Indonesia. Dan itu dapat terkonfirmasi ketika saya mengikuti Indonesian Comic Fair II, dimana saya mendapati harga-harga komik dalam negeri kurang ramah terhadap kantong. Ada yang berharga di kisaran 100 ribu, 30 ribu, bandingkan dengan komik terjemahan Jepang yang berada pada level harga belasan ribu. Padahal harga merupakan faktor krusial dan esensial bagi daya beli.

Pemerintah dalam hal ini sesungguhnya memegang peran determinan untuk mengakselerasi perkembangan fantasi Indonesia. Ide-ide kreatif dari anak negeri sudah semestinya tertuang menjadi aneka karya. Saya percaya deretan kompetensi, talenta, terkait fantasi di Indonesia sudah cukup mumpuni dan dapat menghidupkan rona fantasi dalam negeri bahkan luar negeri. Menitipkan harapan ke pemerintah negeri tentu merupakan bentuk kenikmatan demokrasi. Dan semoga rangkaian simpul harapan tersebut tidak seperti perahu kertas kecil yang berkelana di samudera. Sebentuk harapan sederhana yang segera dilarung gelombang. Maka jika pemerintah anteng-anteng saja tanpa tindakan nyata, maka saya percaya anak negeri ini akan tetap kreatif dan terus berkarya. Kreatifitas adalah tenaga aktif, mengubah nihil menjadi sesuatu. Dan saya percaya itu, bagaimana dengan Anda?

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s