Posted in Buku, Essai, Sosial Budaya

Kuliner Kenangan

Esensi dari sebuah makanan ternyata tak hanya pada kualitas cita rasa, ataupun tempat penyajian yang nyaman. Namun esensi dari kuliner dapat pula menyentuh kenangan. Menghidupkan melodi-melodi dari masa lalu, menghangatkan jiwa kita dengan kenangan tersebut. Seperti yang baru saya alami terkait dengan peristiwa kuliner. Setelah sekian waktu, kembali saya mencicipi roti panggul. Roti panggul sendiri merupakan roti, dimana pedagangnya memanggul roti-roti yang dijajakan. Pilihan rasanya tentu saja beragam, mulai dari cokelat, keju, susu, kelapa, nanas, dan sebagainya. Roti panggul yang saya cicipi selang beberapa hari yang lalu segera mengkoneksikan ingatan saya pada banyak hal. Terutama pada nenek saya.

Nenek saya sendiri telah meninggal sejak beberapa tahun yang lalu. Dan roti panggul ini menjadi barang yang mengkorelasikan segala hal sederhana antara saya dengan nenek saya. Dahulu kami merupakan berlangganan roti panggul. Kami membeli dengan berbagai pilihan rasa. Hal tersebut menjadi kebiasaan yang terus terjadi selama sekian fragmen waktu. Dan akan terseraplah segala kenangan yang diproduksinya seperti roti dalam bentuk sederhana, pilihan rasa, pedagang yang memanggul, triplek. Saya seperti terdampar pada lautan kenangan, meski saya tahu segala kenangan itu sekedar hidup dalam pikiran. Dan saya pun membeli dan menikmati kuliner roti panggul tak hanya sebagai konsumen yang menikmati roti en sich. Saya menikmatinya sebagai kuliner kenangan yang menjadi begitu bernilai, historikal.

Kuliner kenangan nyatanya juga dipotret dalam buku karangan Dewi Lestari berjudul Madre. Bagaimana dari biang adonan yang telah bertahan mengarungi puluhan tahun. Biang adonan itulah yang menjadi ibu dari sekian banyak roti yang dihasilkan. Biang adonan itulah yang menjadi benang merah yang mengungkap banyak misteri dan permaknaan. Ada banyak cerita yang dapat tertelusuri dari biang adonan yang bernama Madre tersebut.

Saya percaya masing-masing dari kita memiliki kuliner kenangan. Kita mendekap erat rasanya. Kekuatan hujamannya tidak sekedar berputar pada lidah, tapi telah menembus ke pemikiran dan jiwa kita. Kuliner kenangan ini tumbuh dan memiliki ceritanya sendiri, dan kita pun merindu untuk menikmatinya kembali. Maka ketika kehidupan ini sedang menjemu dan kerontang permaknaan, sejenak singgahlah, mengenanglah bersama cita rasa kuliner kenangan. Kuliner yang kita sesapi dari rasa dan nuansanya, serta dapat memberi pijakan kita untuk menatap kehidupan dengan lebih bersemangat lagi. Selamat mencicipi kuliner kenangan…

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s