Posted in Edukasi, Essai, Sosial Budaya

Generasi 0 Buku

Seberapa banyak dalam setahun Anda menamatkan membaca buku? Terkait dengan daya jangkau dari pembacaan buku, seniman kenamaan Indonesia Taufiq Ismail pernah menyatakan generasi muda Indonesia merupakan generasi 0 buku. Artinya tak ada buku yang lunas dibaca dalam setahun. Hal ini tentu saja memprihatinkan. Taufiq Ismail sendiri sampai pada konklusi tersebut setelah melakukan survei. Daya baca berkorelasi dengan banyak hal. Dari baca, akan tergapai kunci bagi labirin pengetahuan. Belum lama ini, saya mendapatkan pertanyaan request tentang bagaimana menulis yang baik? Terus terang saya enggan menjawabnya. Bukan karena tiada mau membagi ilmu, melainkan karena orang tersebut pernah mengirimkan tulisan dan mohon maaf hasil tulisannya seperti bahasa alai.

Memang saya belum mendapati studi yang menunjukkan korelasi presisi antara tingkat ke-alai-an dengan daya baca. Namun bagi saya bahasa alai merupakan bahasa yang malas dan membingungkan. Malas karena menggunakan penyingkatan disana-sini lewat simbol, angka, dan sebagainya. Membingungkan karena bahasa alai seperti kode yang membuat mata saya semaput dan jidat berkerut. Saya percaya alai merupakan bagian dari mozaik besar instanisme yang terjadi. Dan celakanya instanisme itu termasuk menggerus daya baca. Instanisme itu dapat dikarenakan termanjakan teknologi, tuntutan zaman, kesibukan, dan lain sebagainya. Instanisme terkoneksi dengan daya baca, manakala generasi baca Indonesia hanya membaca ringkasan, melakukan googling untuk mencari data.

Instanisme bertemu dengan serbuan teknologi, baik itu internet, televisi, ponsel pintar. Maka durasi dari generasi baca Indonesia pun menjadi singkat dan sekedar tahu saja. Taufiq Ismail terkait televisi mengatakan bahwa televisi telah menggerus daya baca dari seluruh warga dunia. Yap harus diakui televisi dengan segala pesonanya dianggap lebih menarik dibandingkan membaca. Akibatnya referensi pemikiran, perkataan dari keseharian pun terlihat dengan banyaknya menyadur dari televisi dibandingkan dari buku.

Angka empirik menunjukkan setiap tahun ada 15.000 judul buku baru dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 230 juta jiwa. Hal ini masih rendah dibandingkan dengan negara-negara maju dunia. Di negara maju, daya baca telah menjadi habbit dari masyarakatnya. Menjadi lumrah untuk membaca buku di segala tempat. Bandingkan dengan di negeri ini, lihatlah fasilitas umumnya betapa banyak orang yang membaca buku? Indonesia menjadi negara yang menghabiskan waktunya begitu banyak tanpa permaknaan membaca buku. Nyatanya dahulu kala, di era politik etis, para founding fathers kita adalah para pembaca yang ulung. Jika Anda membaca memoir dari Hatta maka akan Anda dapati bagaimana teraturnya Hatta dalam membaca buku. Pun begitu dengan tokoh lainnya seperti Soekarno, Natsir, Sjahrir,Tan Malaka. Tak berlebihan jika lapis ideologis bangsa ini begitu kuat pada masa tersebut. Barisan ideologis yang kuat harus ditopang dengan para pemikir yang ulung. Dan untuk mencapai pemikir yang ulung tersebut dapat dicapai melalui daya baca yang kuat.

Membaca merupakan kunci dari pengetahuan dan kemajuan. Jika Indonesia belum juga mampu untuk beranjak menjadi sejahtera, saya percaya hal tersebut ada korelasi dengan daya baca. Daya baca yang kuat akan menghemat tempo dari segala kesia-siaan dibandingkan debat kusir dan bicara tiada akhir. Setiap dari kita dapat berperan untuk menjadi generasi baca Indonesia. Generasi yang ketika ditanya buku apa yang Anda tamatkan dalam setahun? Akan mampu menjawabnya dengan lugas dan bernas.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s