Posted in Essai, Politik, Sejarah, Sosial Budaya

Penguasa (1)

Apa yang bisa dihasilkan oleh kekuasaan? Deterministik penuh. Maka setiap daratan, lautan, udara, adalah abdi bagi sang raja. Bangunlah bangunan-bangunan tinggi lagi kokoh. “Ini dari kami para penguasa semesta.” Maka lihatlah deretan bangunan nan megah yang masih bercokol dalam jejak sejarah. Ada bilur kekaguman bagi para peziarah yang telah melewati bilangan waktu terputus sejarah. Tunduk dalam kekaguman akan ketelitian, keunikan, kemegahan yang dihasilkan. Namun, tahukah cerita di balik bangunan megah bersejarah tersebut. Ada kawula yang terlunta, biaya yang membumbung, taring penguasa yang mencengkram. Kemegahan yang dibangun dari belenggu penguasa.

Bagaimana dengan catatan sejarah? Rupa-rupanya lontar, kertas, digital, menjadi catatan perihal penguasa. Catatan sejarah bagai menjadi hikayat orang besar dan para pemenang. Para penguasa dengan mata dimana-mana dapat memilah mana informasi yang berhak, mana yang layak dieliminasi. Cerita mana yang layak mendapatkan kaca pembesar, hiperbola, drama, pupur gincu, kebohongan atas nama sejarah. Catatan sejarah menjadi warta subyektif para lakon penguasa. Maka lihatlah sejarah mereka yang terjajah, dengan arogan dan kemajuan, mereka pun memenangkan hegemoni makna dan wacana. Celakanya catatan sejarah ialah kemampuannya untuk melakukan penetrasi ke pemikiran. Melakukan konstruksi pemikiran mengenai konsep, ide, gagasan. Konstruksi mengenai distingsi antara siapa pahlawan dan siapa pemberontak.

Penguasa adalah laju kekayaan yang menjadi arus di kongsi utama. Ada upeti, ada hak istimewa. Karena penguasa, karena memerintah, karena titisan, maka layaklah penguasa mendapatkan surplus kekayaan yang dapat memenuhi gudang-gudang penyimpanan rekening untuk penguasa. Maka ada disparitas besar antara kawula dan para penguasa. Lihatlah secara fisik dari tampilan fisik baik sandang, pangan, papan. Ini bukan sekedar sandang, pangan, papan, tapi sebuah cerita yang memuat hikayat sosial yang teramat besar. Lalu kekayaan dapat menjadi simbiosis dengan kekuasaan. Karena kaya, maka berkuasa. Karena berkuasa, maka kaya. Maka cerita tentang kekuasaan ialah tentang audit antara sebelum dan sesudah menjabat kekuasaan.

Penguasa menikmati kekuasaannya, bisa jadi karena getah kekayaan yang berhilir pada kata kuasa. Apa daya kekuasaan telah terlampau deras bertaut dengan kekayaan. Lepas dari kekuasaan berarti enyah dari keistimewaan terhadap hulu-hulu kekayaan. Celaka dua belas. Kuat-kuat menggenggam dan mempertahankan kekuasaan dengan segala cara. Dus lihatlah para penguasa yang menjadi pesakitan. Kekayaannya disita, kekuasaan tak lagi ada, bahkan menjadi tahanan. Memang narasi dari mantan penguasa dengan kekayaannya bukanlah kisah homogen. Ada yang masih dapat menangkup kekayaannya, ada yang susut lalu diusut, ada yang sekedar menjadi kisah remang-remang. Kuasa dan uang merupakan hikayat ever green.

Penguasa adalah penjara. Dengan armada yang dimilikinya, maka laju oposisi dapat berjejalan memenuhi sel-sel hotel prodeo. Ada yang dipenjara secara fisik, ada yang dipenjara secara mental. Dimatikan secara perdata, dibatasi dan diawasi corong-corong suaranya, buah penanya disortir. Bibit-bibit oposisi pun sebisa mungkin ditanggulangi. Sebelum menjadi oposisi besar lebih baik dimusnahkan sedari dini. Maka berkumpul dimana-mana pun diawasi. Mau apa gerangan, untuk tujuan apa? Oposisi menjadi berserak. Oposisi menjadi diam-diam, silent-silent. Kawula pun berhati-hati dalam meluncurkan kata dan bertindak. Salah-salah ada perpanjangan tangan kuasa dan dapat mendekamlah kawula akibat gerundelan nelangsa hidupnya.

Penguasa adalah basa-basi. Maka segala kata-kata yang terlontar ke udara ialah basa-basi semesta. Yang klien berbasa-basi untuk menunjukkan loyalitas, yang patron melakukan basa-basi mengenai kemegahan dan pencapaiannya. Maka hipokrit menjadi bahasa wajib. Ada pesta disana-sini sebagai event basa-basi. Ada uang yang terhamburkan untuk pesta basa-basi. Bahasa menjadi tidak terang benderang, samar-samar, penuh simbol. Maka jadilah menerka-nerka menjadi fungsi turunan dari bahasa basa-basi. Apa gerangan sesungguhnya dari tujuan yang dimaksud.

Penguasa adalah mimpi-mimpi bombastis. Ada capaian agung semesta. Kebesaran di hari depan. Maka naik ke pentaslah para penguasa. Mereka kharismatik, mereka membetot perhatian rakyat. Ada kekaguman sampai mati malahan. Namun kata-kata mereka pun dapat menjerumuskan. Dapat membawa pada perang berkepanjangan, menghasilkan banjir darah, kerusakan software dan hardware. Dan ketika ditanya tentang destruksi yang ada, penguasa pun berkilah, ada harga dari pencapaian mimpi. Fast forward untuk menuju mimpi-mimpi bombastis. Penguasa dan mimpi-mimpinya bisa menjadi derita. Berhati-hatilah dengan mimpimu. Dan lebih berhati-hatilah dengan mimpi para penguasa.

Penguasa pun mengaktifkan segalanya untuk mencapai mimpi-mimpi bombastisnya. Dan daratan, lautan, udara dapat menjadi jejak dari obsesi mimpi bombastis. Rakyat? Oh rakyat perlu dipimpin, dituntun untuk menuju pencapaian esensi. Penguasa adalah obor, navigator bagi segala semak masalah dan kesukaran di perjalanan. Skeptis? Siap-siaplah menemui penghukuman.

(Bersambung)

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s