Posted in Fiksi Fantasi, novel, sastra

Ardova

Aku berdiri di katedral zaman, kulihat bangunan megah, elok, lagi mantap menunjukkan warnanya. Bendera berkibaran disana-sini, angin berhembus, lalu kusadari aku telah berada di puncak. Puncak sebuah bangunan yang tiada alang kepalang indahnya. Di hamparan bawahnya kulihat lampu-lampu kota berjejeran. Taman-taman hijau lagi permai. Burung-burung berkicauan. Inilah peradaban. Taman yang untuk kemudian dialiri dengan aliran sungai yang berkeciplakan. Suara arus air yang menderas. Hari itu telah tiba. Hari itu telah nyata.

Aku mengenakan pakaian ksatria. Pakaian yang tiada sembarang orang dapat memakainya. Pakaian ini merupakan pakaian khusus yang dirancang dengan gaya arsitektur yang khas. Pakaian itu berwarna perak dengan jahitan berbendera lambang kerajaan. Lambang yang telah menjadi logo turun temurun. Pakaian itu juga khas, dengan kancing menawan.

Aku mengenakan pedang di sisi kiriku. Pedang itu berintikan permata, serta ornamen berliukan, kulihat suatu karya kemanusiaan disana, hasil dari karya manusia. Pedang itu tiada seberapa panjangnya, namun berhati-hatilah dengan ketajamannya. Pedang itu terbuat dari baja, yang mampu membelah, menseparasi yang tadinya utuh menjadi berkeping. Pedang itu amat elok di genggaman, kokoh di tangan serta memiliki daya hujam yang tinggi. Lalu kulihat perisai cokelat di samping sepatu berlars cokelat dengan tali yang masih terjuntai. Perisai itu terdiri dari gerigi-gerigi tajam, dengan paku siap menghantam, apabila diperluakan. Lengkaplah sudah peralatan tempurku, dengan peralatan tempur itu kuikat kekang sepatuku. Aku melangkah menyongsong hari itu.

Terompet ditambuh, hamparan karpet merah, panji-panji kerajaan, meja beserta makanannya di sana. Orang-orang bergumam dengan tingkah polanya. Inilah harinya bagiku. Hari bagiku untuk dinobatkan sebagai pangeran. Peran yang memegang peranan penting, nantinya amat berarti serta mengerti bahwasanya dibalik semua yang terlihat di kasat mata makmur, sesungguhnya terdapat gerakan-gerakan. Gerakan-gerakan yang pada nantinya akan menentukan eksistensi kerajaan yang disusun sekian lama ini.

Tatapan mata melihat kedatanganku, menuju tempat yang rasanya begitu lama kutiba Tibalah aku dengan tatapan kebapakan raja. Ayahku. Ia melihatku dengan mata tenangnya. Ada cinta disana. Cinta generasi, cinta turun temurun. Aku tahu benar didiriya tersimpan harap, tersimpan cita-cita untuk memakmurkan negeri ini, di bawah kerajaannya. Namun, tahukah ayah akan bahaya yang melanda, bahaya yang dapat tiba sewaktu- waktu. Tahukah ayah, bahwa di dalam kerajaan ini, di antara staf, menteri, aparatur pemerintah ini terdapat komprador-komprador yang siap mengintai dan memanfaatkan setiap celah dan kesempatan, untuk kemudian menggunakan momentum itu, untuk kepentingan dirinya. Ayah, tiada tega aku mengatakannya, tiada tega aku menuturkannya terlebih ayah belum lama sembuh dari penyakit yang menerpanya.

Biarlah informasi ini kusimpan sendiri, sembari nanti kucarikan pemecahan masalahnya. Aku ingin menjadi problem solver tanpa melibatkan ayahku, lalu nanti kupilah dan kupilih orang- orang yang dapat kupercaya, karena hal ini teramat genting lagi rumit dalam suatu ketenangan yang menenangkan.

Sentuhan di bahu, menyadarkan aku. Aku terbangun dari lamunanku. Seketika aku kembali ke alam realita kembali dengan wajah-wajah yang telah menungguku.

…Bersambung …

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s