Posted in Edukasi, Essai, Fiksi Fantasi, Sosial Budaya

Menulis dan Tanda Tanya Yang Tak Pernah Selesai

Apakah ada resep yang cespleng untuk menulis? Pertanyaan model tersebut mungkin pernah Anda dengarkan, pertanyakan, atau Anda jawab. Saya sendiri percaya menulis pada beberapa bagian merupakan lapisan enigma yang abadi. Memang ada sejumlah teknik, ilmu, pengungkapan untuk membekali kemampuan menulis. Namun saya percaya menulis seperti halnya percabangan dari seni, selalu memiliki unsur kejutan, kreativitas, dan sukar diprediksi. Menulis bukanlah sebuah proses pasti seperti di pabrik, dimana Anda memasukkan sejumlah bahan lalu hasilnya tertata dengan output yang terlihat sama setiap kali. Menulis memiliki kabutnya tersendiri. Menarik dengan lapis enigmanya. Menulis bahkan merupakan sebuah upaya untuk menaklukkan diri sendiri.

Andrea Hirata menyatakan bahwa orisinalitas tulisannya dipengaruhi oleh dua unsur yakni berkhayal dan culture. Arswendo Atmowiloto menyatakan resep menulis adalah dengan menulis dan menulis. Tentu saja masih banyak jejeran penulis lain yang saya percaya memiliki purna pemikiran tentang menulis. Saya pribadi percaya bahwa seminimal ada dua faktor determinan dalam menulis yakni input dan output berupa tulisan. Input sendiri merupakan proses internalisasi yang nantinya akan diolah oleh personal dengan bumbu-bumbu tertentu, dilengkapi dengan sejumlah verifikasi, data, ataupun daya imajinasi. Input menurut hemat saya harus berintikan dari sumber yang baik dan berkualitas. Input sendiri bisa beragam dari bahan bacaan, film, pengalaman pribadi ataupun pengalaman sobat dan sebagainya.

Saya percaya jika ingin menekuni dunia penulisan maka harus memiliki daya baca yang tinggi. Mengapa begitu? Karena dengan daya baca yang tinggi memungkinkan untuk melakukan tamasya intelektual ke berbagai literatur. Dari tamasya intelektual tersebut maka akan mendapatkan informasi, pengetahuan, dan akan mengetahui tentang gaya penulisan. Gaya penulisan sendiri memiliki tekstur yang berbeda-beda. Coba saja Anda baca koran Republika, Kompas, Rakyat Merdeka. Akan didapati perbedaan yang kentara dari pilihan kata, metode pendekatan, gaya bertutur. Sekalipun isu yang diangkat sama, namun hasil olahan dari ketiga koran tersebut ketika tersaji di meja pembaca akan berbeda.

Membaca ragam gaya penulisan akan membentuk karakter dari penulisan. Ibaratnya makanan, membaca adalah suguhan pemikiran yang akan dikonsumsi. Konstruksi berpikir, karakter penulisan kita akan terbentuk, terpola dari apa yang dibaca. Oleh karena itu daya jangkau bacaan yang luas tidak hanya sekedar untuk meluaskan spektrum pengetahuan, melainkan juga untuk mensarikan berbagai gaya penulisan yang berbeda-beda tersebut. Dan Anda bisa mengadopsi, menginternalisasi, ataupun mengolahnya menjadi gaya penulisan versi sendiri. Dalam daya baca, Helvy Tiana Rosa mengatakan bahwa Anda harus menjadi predator buku. Dan saya setuju dengan pendapat tersebut. Bagaimana dengan Anda?

Tentu saja fakta otentik di ranah kenyataan dapat menjelaskan korelasi baca-tulis. Taufiq Ismail dengan satir menyatakan generasi 0 buku, dengan riset terhadap generasi muda dari buku yang selesai dibaca dalam setahun. Dari pengalaman personal saya sendiri, saya kerap menjumpai para pembaca parsial. Pembaca parsial hanya membaca buku, namun tidak selesai hingga tuntas. Ada juga tipe kolektor buku pseudo. Membeli buku, lalu memajangnya, namun tiada menjadikan buku tersebut sebagai bahan bacaan. Lebih sebagai aksesoris untuk mengesankan dan mendefinisikan dirinya sebagai pribadi yang intelektual.

Daya jangkau baca yang masih rendah juga yang menjelaskan perihal masih rendahnya jumlah buku baru yang terbit setiap tahunnya. Hanya ada 14.000 judul buku baru, sedangkan penduduk Indonesia telah mencapai 240 juta jiwa. Hal ini dikarenakan budaya membaca belum menjadi bagian dari keseharian dari ritme hidup. Berapa banyaknya dari lalu lalang harian orang yang membaca buku? Lebih nyata mana di rumah penduduk, suara bising televisi atau sunyi yang dihasilkan dari membaca? Implikasi langsung dari rendahnya minat baca berkorelasi pada kemampuan menulis. Seperti indikasi yang diperlihatkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang menyatakan bahwa jumlah karya ilmiah perguruan tinggi di Indonesia hanya 1/7 dari jumlah karya ilmiah perguruan tinggi di Malaysia (http://edukasi.kompas.com/read/2012/02/03/09280630/Syarat.Lulus.S1.S2.S3.Harus.Publikasi.Makalah).

Membaca dan menulis merupakan proses yang berkesinambungan. Dengan membaca maka menulis, dengan menulis maka membaca. Membaca menurut hemat saya juga harus membaca sedapat mungkin tulisan yang bagus dan berkualitas. Membaca tulisan yang lemah akan merapuhkan daya intelektual serta membuat daya pengetahuan tidak mendalam. Sedangkan membaca tulisan yang berkualitas seperti menyantap makanan bergizi. Selain menyehatkan bagi pemikiran, tulisan yang berkualitas akan menjadi inspirasi. Bacalah buah karya para numero uno di bidang masing-masing maka Anda akan mendapatkan kemajuan signifikan secara pengetahuan dan adaptasi penulisan.

Membaca kisah fantasi misalnya, maka Anda dapat membaca karya JRR Tolkien, Isaac Asimov, Jonathan Stroud, JK Rowling, Jules Verne. Harus diakui merekalah para market leader dan menjadi patron bagi banyak karya. Dengan membaca buah karya para maestro maka akan ada standar mutu yang harus dicapai dan bahan bakar untuk menulis dengan baik. Perhatikan bagaimana mereka menyusun cerita, plot, karakter, dialog. Asma Nadia di masa-masa awalnya untuk mendapatkan karakter penulisannya ialah dengan menulis ulang karya dari para penulis yang digemarinya. Dengan menulis ulang seperti merekonstruksi, melacak jejak dalam batu bata pembangunan suatu karya.

Menulis dan Menulis
Menulis sendiri merupakan bauran dari input yang masuk. Seberapa hebat bacaan, film yang ditonton, pengalaman pribadi yang ada, Anda harus mengolah segala bahan tersebut untuk menjadi tulisan. Dalam beberapa hal seperti koki masakan. Andalah yang menentukan seberapa banyak bahan ini dipakai, resep apa yang akan dipakai, teknik yang akan digunakan. Dewi Lestari mengistilahkan dalam blognya tentang penulisan sebagai: With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table (http://dee-idea.blogspot.com/).

Dengan basis input yang baik, maka akan sangat membantu dalam pengolahan untuk menjadikan output tulisan. Tapi tentu saja input akan menjadi terlihat hasilnya ketika dituangkan menjadi tulisan. Ada beberapa orang yang pernah saya temui, bahwa dia belum menuangkan menjadi tulisan karena masih menunggu inspirasi, masih membaca literatur, masih riset. Terkait dengan riset, Andrea Hirata menyatakan bahwa 90% waktu penulisannya tersedot melalui riset. Inspirasi, membaca, riset, bisa jadi sebuah apologi, pelarian, dan sebentuk tiranik personal di dalam pikiran. Segala macam input akan menjadi mubazir dan tersiakan ketika tidak diolah menjadi tulisan.

Mulailah menulis, jangan tunggu segalanya sempurna. Karena kesempurnaan tidak akan pernah tertemui. Waktu terus berjalan dan cikal bakal tulisan Anda bisa jadi akan menjadi fosil dan lama kelamaan Anda akan malas untuk mengerjakannya. Menulis terkadang harus just do it. Toh nantinya hasil tulisan bisa direvisi dan diperbaiki. Berhubung tulisan yang kita susun bukanlah kitab suci, maka tulislah saja dan buat kesalahan. Justru dengan kesalahan-kesalahan dalam penulisan akan manusiawi dan akan terjadi perkembangan dalam kekuatan menulis. Raditya Dika misalnya “memaksakan diri” untuk menulis sekalipun mood-nya sedang tidak baik. Nantinya menurut Raditya tulisan tersebut akan direvisi. Dengan menulis di purna ragam keadaan maka akan membentuk ritme menulis, writing habbit.

Menulis sendiri pada akhirnya saya percaya ialah perjalanan personal. Tiap dari kita harus menjalaninya sendiri secara personal. Ide, masukan, dapat datang darimana saja, namun kemampuan menulis adalah sesuatu yang ada di dalam diri dan harus terus diasah dan dilatih. Menemukan gaya penulisan, karakter penulisan pun akan dapat ditemui manakala telah terjun langsung ke dalam lekuk penulisan. Selamat menulis dan selamat menabungkan keabadian.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s