Posted in Buku, Edukasi, Essai, Fiksi Fantasi, Film, Sosial Budaya

Pers dan Kisah Harry Potter (1)

Salah satu kehebatan dan daya magis dari sebuah cerita ialah kemampuannya untuk terus bercerita, bahkan ketika kisahnya telah usai. Ada spektrum-spektrum yang menarik untuk diteliti, diperbincangkan, diperdebatkan. Sebuah karya yang mampu melewati umur biologis dari pencipta karyanya. Tentu saja ada beberapa contoh yang dapat diujarkan, seperti lukisan Monalisa dari Da Vinci, lagu Imagine dari John Lennon, The Lord of The Rings dari JRR Tolkien. Deretan karya tersebut nyatanya ketika para kreatornya telah meninggal dunia, namun karyanya masih hangat diperbincangkan dan menarik untuk diperdebatkan.

Kisah Harry Potter adalah sebuah fenomena. Dari arsitek cerita JK Rowling terlahirlah kisah penyihir yang mampu memikat dunia ini. Kali ini saya akan mencoba memotret angle kisah Harry Potter dikaitkan dengan pers. Alasan seremonialnya ialah karena pada hari ini (9 Februari) diperingati sebagai Hari Pers Nasional. Dari sekian ribu halaman kisah Harry Potter dengan nyata dan tersirat terdapat koneksi dengan pers. Sekurangnya ada tiga unsur yang dapat ditelaah terkait pers dan kisah Harry Potter. Unsur itu adalah Rita Skeeter, Dailly Prophet, dan The Quibbler.

Rita Skeeter Si Wartawan Investigatif
Rita Skeeter merupakan karakter yang kuat dan berbunyi dalam pandangan saya. Memang harus diakui kehebatan dari JK Rowling dalam membangun cerita, salah satunya ialah dalam menghidupkan karakter. Rita Skeeter mentas di kisah Harry Potter pada seri keempat (Harry Potter dan Piala Api). Rita Skeeter sendiri merupakan wartawan yang bekerja pada harian Daily Prophet. Sebagai wartawan, kiprah Rita Skeeter sarat dengan kontroversi. Dari tulisannya, ia “menghajar” Harry Potter dan Dumbledore. Tulisan dari Rita Skeeter sendiri diminati karena bahasanya yang pedas dan daya investigasinya yang mendalam.

Investigasi sendiri merupakan bagian dari pekerjaan wartawan. Suatu berita harus di-cross check, diverifikasi kebenarannya. Suatu informasi yang salah dapat menghasilkan persepsi yang keliru. Berita adalah kekuatan yang mempengaruhi, maka ketika investigasi secara serampangan, maka keluaran dari beritanya pun akan tidak tepat. Rita Skeeter sendiri melakukan investigasi terhadap Harry Potter dan Dumbledore. Harus diakui kedua sosok tersebut merupakan sosok yang menjual dan menjadi magnitude dari dunia sihir. Dari segi permintaan masyarakat sihir, ada arus kuat untuk mengetahui siapa sebenarnya Harry Potter dan Dumbledore. Dan Rita Skeeter memberikan penawaran kepada pasar melalui tulisan investigatifnya.

Jika mengkaji secara akademik, secara umum, ada setidaknya sepuluh kriteria untuk mengukur kelayakan berita (news value): kehangatan, pertama kali, magnitude, tokoh atau nama besar, tren baru, dramatis, unik, prestisius, angle berita, dan misi (Tim Tempo, Cerita Di Balik Dapur Tempo: hlm.VII). Dari sepuluh kriteria tersebut, kisah tentang Harry Potter dan Dumbledore amat sangat layak untuk diturunkan menjadi berita. Kedua sosok tersebut memenuhi layak berita secara konsep akademik.

Dalam menyajikan laporan investigasi jika meminjam penjelasan dari majalah Tempo adalah sebagai berikut: mau tak mau tiap masalah dicoba dilihat dari berbagai segi. Karena itulah untuk sebuah berita yang akan dimuat Tempo, kami mencari lebih dulu informasi dan pelbagai pihak. Fakta-fakta itu kami rapikan, dan kemudian barulah dihidangkan kepada pembaca (Tim Tempo, Cerita Di Balik Dapur Tempo: hlm.65). Rita Skeeter sendiri melakukan tulisan investigasi dengan memenuhi beberapa konsep ini pada kasus Dumbledore, namun tidak pada kasus Harry Potter (Harry Potter dan Piala Api). Ketika meneropong Harry Potter dalam kisah Harry Potter dan Piala Api, Rita Skeeter memang condong untuk memilih sumber berita yang menepikan Harry Potter. Akibatnya pemberitaan Harry Potter menyudutkan dan tidak berimbang. Rita Skeeter dalam edisi Harry Potter dan Piala Api tidak menjalankan prinsip cover both sides. Dimana sumber informasi berasal dari kedua kubu yang bersebrangan dalam melihat Harry Potter. Ketimpangan kutub pengambilan sumber informasi menyebabkan buah tulisan Rita Skeeter menghasilkan gambaran yang keliru. Sebaliknya, ketika membuat buku tentang siapa sebenarnya Dumbledore, Rita Skeeter lebih memenuhi pakem kaidah jurnalistik.

Rita Skeeter menelusuri informasi dari berbagai pihak. Dia mewawancarai Batilda, menelusuri fakta-fakta awal tentang kehidupan masa lalu Dumbledore yang telah terlupakan dan terkubur. Rita Skeeter ketika mengupas Dumbledore dalam bukunya juga menyajikan fakta otentik baru yang selama ini belum terungkap. Ternyata Dumbledore muda tidaklah seagung ketika masa tuanya. Melalui wawancara, studi literatur, Rita Skeeter menguliti tentang siapa sesungguhnya Dumbledore. Ada bagian kelam dari kisah hidup Dumbledore yang akhirnya berhasil diungkap.

Dumbledore ternyata bersahabat dengan Grindelwald ketika masih muda, Ariana yang terlantar, Dumbledore si jenius yang terkurung dalam permasalahan keluarga, hingga konsep-konsep pemikiran Dumbledore muda dalam melihat relasi Muggle dan penyihir. Tentu saja buah karya dari Rita Skeeter ini menjadi kontroversi. Dikarenakan penerbitannya yang tidak begitu lama dengan selang kematian Dumbledore, serta skeptisme terhadap kebenaran kisah-kisah dalam bukunya. Skeptisme itu diantaranya dengan pernyataan bahwa kebenaran dari buku tersebut hanya sama dengan jumlah informasi di kartu cokelat kodok.

Tentu saja untuk menurunkan tulisan investigatif bukanlah perkara mudah. Si penulis sedikit banyak harus memerankan laku seperti detektif. Memilah-milih mana fakta yang layak dipercaya, menelusuri informasi dan kisah, melakukan verifikasi, menjahit rangkaian informasi yang ada menjadi cerita yang utuh dan sedap untuk dihidangkan di hadapan pembaca. Dan ketika hasil tulisan investigatif diturunkan, reaksi pun dapat beragam bahkan menggugat. Kekuatan dari sebuah berita untuk mengkonstruksi konsep dan menggiring persepsi rupanya menjadikan laporan investigasi sebagai kisah yang dapat terus debatable.

Debatable bisa dilihat dari sumber berita yang diambil. Seberapa terpercayakah orang yang mengungkapkan kisah. Selalu ada ruang yang bisa diisi dengan kebohongan oleh para penutur kisah. Dan ibarat suatu proses di pabrik, input yang salah dapat menjebloskan pada output yang keliru. Untuk itulah sikap skeptisme perlu terus melekat pada wartawan yang sedang melakukan investigasi.

Rita Skeeter dalam sidang pembaca mungkin bukanlah tokoh favorit. Ia lebih dipersepsikan sebagai sosok yang menyebalkan. Namun harus diakui kegigihan, penelusurannya dalam mengungkap siapa Dumbledore layak mendapatkan apresiasi. Mengetahui siapa sebenarnya Dumbledore teramat mungkin melukai konsep putih, bersih dari Dumbledore yang selama ini terpersepsikan. Harry Potter mengalami itu, dan secara baik dilukiskan oleh JK Rowling, bahwasanya Harry Potter mengalami redefinisi terhadap sosok kepala sekolah yang dikaguminya itu. Bagi pembaca kisah Harry Potter, membaca ulang Dumbledore pun dapat melukai konsep terhadap simbol yang selama ini dapat dipercaya. Simbol yang selama ini agung dan seakan tak tersentuh dalam kesuciannya. Meminjam pendapat dari Goenawan Mohamad bahwa rasa kecewa memang gampang terbit setelah gerhana terjadi dan harapan tak lagi bermimpi yang berlebihan. Tapi kekecewaan kepada Bung Karno – patahnya kepercayaan kepada sebuah suluh, sebuah simbol – bisa merisaukan sekali. Apa boleh buat:mungkin salah satu tahap untuk jadi dewasa ialah jadi kecewa kepada seorang pemimpin (Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 2: hlm.521).

Goenawan Mohamad dalam cuplikan yang saya kutipkan di atas menerangkan tentang patahnya kepercayaan terhadap Bung Karno yang selama ini menjadi simbol revolusi, kemerdekaan, dan perjuangan memandirikan bangsa. Bisa jadi tuturan dari tulisan investigatif Rita Skeeter melukai kenangan kolektif dari pecinta kisah Harry Potter terhadap Dumbledore. Melukai konsep tentang simbol yang selama ini dipercaya 100% berada di sisi putih, di sisi kebenaran. Pada timbang pemikiran seperti itulah mungkin yang dapat menjelaskan dan dapat dihubungkan tentang penilaian, persepsi terhadap Rita Skeeter. Kebenaran kadang memang pahit, namun kebenaran itulah yang mendewasakan dan menjadikan kita lebih bijak.

(Bersambung)

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s