Posted in Kertas 60

Hari Keempat (4) – Berat

Kalau ada satu kata yang dapat menyatukan, menggambarkan tentang tulisan saya, maka kata itu adalah berat. Berat selalu menjadi kata yang memenuhi memori impresi dari orang-orang yang pernah membaca tulisan saya. Ajaibnya kata itu terus sambung bersambung dari orang ke orang. Sekalipun orang-orang tersebut tidak saling mengenal, namun keluarnya kata “berat” kerap tertemui sebagai komentar setelah membaca tulisan saya. Apakah saya terganggu dengan label berat itu? Tidak sama sekali. Saya malah merasa “berat” menjadi positioning, diferentiation, branding dari warna tulisan yang ada. Membayangkan karakter tulisan saya menjadi 180 derajat berbeda terus terang rasanya sukar. Karena saya percaya bahwa gaya penulisan yang ada merupakan hasil dari pergulatan personal.

Tulisanku merupakan hasil aksi-reaksi dari perjalanan hidup yang tidak hanya 1 tahun, dua tahun. Ada endapan dan tumpukan yang telah membentuknya. Kalau boleh dilacak saya pikir salah satu akar dari muara tulisan saya menjadi berat ialah dari bahan bacaan. Semenjak kecil saya membaca koran dan majalah, hal yang saya yakini mengkonstruksi cara berpikir serta bernarasi dalam tulisan. Lalu juga dari pembacaan buku yang saya lahap membuat karakter tulisan berada pada radius berat tersebut. Membaca lintas genre bagi saya akan memperkaya spektrum pengetahuan, maka saya pernah membaca buku dengan spesifikasi teenlit. Hitung-hitung untuk studi komparasi tentang penulisan dan tamasya di bahan baku tulisan yang berbeda. Ada Eifel I’m In Love yang best seller itu, namun ketika saya baca seperti diary abg labil yang cinta-cintaan. Ada Fairish yang menurut hemat saya sekalipun bergenre teenlit, namun memiliki makna dan tidak menye-menye.

Apa yang saya janjikan dalam novel tantangan usai 60 hari ini? Dari halaman-halaman awal dan imajinasi ke depannya saya berasumsi novel ini akan tetap berada pada jalur gaya penulisan saya yang berat. Ada berbagai macam kritik sosial, kritik kemanusiaan, dan sejumlah keresahan-keresahan yang akan coba saya tawarkan. Yang jelas saya akan coba meramu novel ini dengan sebaik-baiknya dan seapik-apiknya. Adapun impresi dari sidang pembaca, saya tak dapat menerka secara utuh karena berpulang pada verdict dari masing-masing orang.

Saya percaya ketika kita terus berkarya maka akan menemukan karakter, gaya, dan pembelajaran terus menerus. Menuntaskan tantangan novel selama 60 hari ini juga merupakan sebuah wahana candradimuka yang saya harap dapat membawa kualitas penulisan saya lebih baik secara kualitas. Yap, tetap asah penamu.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s