Posted in Kertas 60

Hari Kelima (5) – Dan Ketidakabadian Itu

Mulai hari ini fakta otentik di kantor saya akan kehilangan satu orang. Pekerja Lay out di kantor saya akan dikaryakan di percetakan daerah Ciputat (masih satu payung perusahaan). Korelasi saya dengan si lay outer ialah persahabatan yang menyenangkan. Ia adalah sosok yang senantiasa saya ceng-cengin dan gangguin. Segala ceng-cengan itu bagi saya personal teramat membantu untuk menjaga letupan kreativitas karya tetap gurih dan nikmat disantap. Nuansa yang konstruktif merupakan bagian dari proses dapur kreativitas yang determinan dalam solidnya suatu karya.

Perpindahan orbit kerja rekan saya tersebut, kembali melabuhkan saya pada satu terminologi, yakni ketidakabadian. Ada perubahan, ada ketidak kekalan. Maka dalam hidup kita harus bersiap untuk kehilangan. Kehilangan orang-orang yang selama ini mengisi kegaduhan hidup. Kehilangan yang dapat membawa pada ruang hampa tak terjelaskan dalam jiwa.

Ketidakabadian kiranya juga yang membuat saya memiliki bahan bakar energi untuk terus menulis. Saya tak ingin musnah. Saya tak ingin terlupakan. Dan saya tidak sendiri dengan konsep itu. Soekarno misalnya dengan membangun sejumlah bangunan-bangunan yang di kemudian hari dikenal dengan proyek mercusuar. Monas diangankan sebagai bangunan yang akan bertahan 1.000 tahun lagi, begitu pikir Soekarno.

Begitu juga dengan proyek novel ini yang rencananya akan menjadi jejak pemikiran. Sebuah artefak pemikiran dari buah tangan imajinasi. Hei..sudah hari Jum’at dan itu berarti officially ada hari Sabtu dan Ahad untuk sejenak mengambil jarak dari kantor dan pekerjaan formal. Tentunya saya menyambut weekend ini dengan gembira. Ini momentum yang tepat untuk menggeber pengerjaan novel ini. Taktiknya ialah maraton dan sprint untuk hari Sabtu dan Ahad. Maraton karena saya akan sambung menyambung mengerjakannya, sembari mengkombinasikannya dengan membaca buku dan koran. Sprint dikarenakan speed dari pengerjaan novel ini sebisa mungkin meng-cover sebanyak mungkin untuk menjadi lumbung halaman di edisi hari kerja kantoran.

Di sepenggal bumi ini. Di keterbatasan waktu ini. Menolak musnah. Menolak untuk kalah pada kepastian. Berkarya, dan siapa tahu masih dapat bergema 1.000 tahun lagi.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s