Posted in Kertas 60

Hari Keenam (6) – “Hikikomori”

Saya percaya hari Sabtu dan Ahad ini merupakan momentum yang baik untuk berlari cepat-cepat menyelesaikan proyek tantangan novel 6o hari. Rencananya ialah saya akan melakukan “hikikomori” dalam dua hari tersebut. Tentunya “hikikomori” yang saya lakukan bukanlah “hikikomori” total, melainkan hanya beberapa bagian. Kenapa pula saya menaruhkan kutip pada kata hikikomori? Karena sejatinya konsep hikikomori ialah sebuah fenomena sosial yang terutama terjadi di Jepang. Hikikomori sebagai konsep diartikan mengurung diri di kamar, menarik diri dari kehidupan sosial.

“Hikikomori” yang saya berikan kutip lebih bermakna sebagai menepikan diri sejenak dari lalu lintas sosial yang padat dan menghasilkan karya di bilik personal. Saya pikir setiap dari kita perlu melakukan “hikikomori”. Sebuah proses pencarian jati diri, berbicara pada diri sendiri, fokus untuk berkreativitas dari internal diri. Sejenak mengisolasi dari kegaduhan sosial. Dengan “hikikomori” itulah ketika berada dalam lalu lintas sosial, maka diri dapat memberi makna. Diri dapat kokoh mendefinisikan konsep dan ide-idenya.

Masyarakat yang terbuka dan memungkinkan saling terkoneksi membuat beberapa orang terapung-apung dalam lalu lintas sosial. Saya pernah mendapati teman saya yang mempublikasikan durasi penggunaan facebook-nya dalam sehari ialah 7,5 jam. Wow..sebuah waktu yang secara akumulatif teramat panjang. Dunia internet memang dapat begitu menggoda. Membuat siapapun autis dan waktu pun tiba-tiba habis.

Untuk menyikapi pengaruh buruk dari internet itulah, saya secara personal membekali diri sebelum terjun ke velocity internet dengan konsep tertentu. Saya tak ingin hanyut dalam segala kebisingan dunia maya. Dan waktu yang tercecer ialah sinyalemen dari permaknaan hidup yang masih patut dipertanyakan. Maka saya pun menantang diri saya pribadi untuk membuat koran personal yang terbit hari Senin-Jum’at. Koran personal itu merupakan karya literasi saya yang kiranya akan saya lemparkan ke dunia maya. Bentuknya bisa beragam, seperti essai, puisi, cuplikan dari novel saya.

Dengan koran personal, saya berharap dapat memberikan sesuatu yang bermakna dan berwarna di jagat dunia maya, ketimbang sekedar mendeklarasikan hei..saya sedang berada di tempat makan ini, mengeluhkan hari, dan segala sampah-sampah kata dalam dunia maya.

Saya percaya “hikikomori” akan bermanfaat secara personal. Bagi personal, akan mampu menggali kemampuan, potensi, berdialog dengan diri sendiri, menghasilkan karya yang nyata. Bagi sosial, yakni dengan bermunculannya karya-karya dari masing-masing sosok, serta orang-orang dari komunitas maya telah mampu mendefinisikan dirinya sendiri, kokoh dalam konsep keakuan. Mari ber-“hikikomori”.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s