Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Sosial Budaya

Fantasi Citarasa Indonesia

Majalah Tempo edisi 13-19 Februari 2012 mendamparkan pemahaman saya pada fragmen yang berbeda dari kisah fantasi Indonesia. Pada halaman 48-50, melalui ulasan yang ditulis oleh Leila S. Chudori dibedahlah sebuah kekayaan historis dari dunia fantasi Indonesia. Sebuah nama dan rangkaian cerita itu adalah Djokolelono? Apakah Anda kenal dengan Djokolelono? Terus terang sebelum saya membaca artikel di majalah Tempo, saya tidak mengetahui tentang sosok Djokolelono. Djokolelono yang lahir di Desa Beru, Wlingi, Jawa Timur, merupakan penulis petualangan dan fantasi lokal yang mengalami masa kejayaan pada era 1970-1980-an.

Beberapa karya dari Djokolelono antara lain Getaran, Jatuh ke Matahari. Sedangkan dari segi genre, beliau merupakan pelopor dari cerita fiksi ilmiah di Indonesia. Selain fiksi ilmiah, ia juga merambah ke genre thriller, detektif, cerita anak dan petualangan. Penulis produktif ini setelah 25 tahun kembali mementaskan karyanya yang berjudul Anak Rembulan.

Rentetan pencapaian dan multi genre yang dirambah oleh Djokolelono tersebut, segera membuat radar keingintahuan saya meningkat. Keesokan harinya setelah membaca artikel Tempo, saya mencari buku Anak Rembulan dan tidak mendapatkannya di toko buku bilangan Senayan City. Baru berselang lusa, saya mendaratkan buku Anak Rembulan di rumah saya dan segera saya mencoba menelaah buah karyanya. Nuansa yang saya dapati setelah membaca 30 halaman awal ialah begitu kuat dalam menggambarkan cita rasa Indonesia. Melalui novel tersebut, saya dibawa untuk menelusuri suasana Wlingi beserta penggambarannya yang seperti memutar film dalam pikiran.

Akan coba saya kutipkan cuplikan kisahnya (Djokolelono, Anak Rembulan: hlm. 21):
Mandi di Sungai Lekso menyegarkan sekali, setelah kemarin seharian digembleng habis-habisan di warung – menimba air, mengisi gentong, membantu Mbah Mas memasak, menghidangkan makanan ke pelanggan (harus menghitung daging yang ada di rawon!) menyiapkan kopi, teh, mencuci, membelah kayu bakar ….Wuah! Nono jadi bisa merasakan penderitaan Cinderella di dongeng. Hanya, ia melakukan semuanya dengan gembira, tak tahu kenapa. Tadi malam ia terpaksa tidak bisa pergi dengan Min menonton wayang kulit. Badannya capai sekali.

Membaca novel Anak Rembulan seakan mempertautkan saya pada sebuah konsep: “Apakah selayaknya kisah fantasi Indonesia seperti ini?” Dari pengalaman personal saya membaca beberapa kisah fantasi buatan Indonesia saya mendapati kesamaan benang merah yakni hegemonik terinspirasi dari luar negeri. Hal tersebut terlihat dari penamaan, gaya bertutur, dinamika bercerita, penokohan, dan banyak lagi. Pada beberapa kisah fantasi Indonesia yang pernah saya baca, beberapa istilah agak sulit untuk menyantel di ingatan. Teramat mungkin istilah tersebut terinspirasi dari asing. Pertanyaannya kemudian, apakah salah jika menerapkan gaya yang terinspirasi dari asing?

Menurut hemat saya adalah kontraproduktif untuk mengkotak-kotakkan dan mempartisi karya fantasi Indonesia harus begini dan begini. Akan lebih baik dan berdayaguna manakala dengan memberikan sokongan bagi karya anak negeri ini di ranah fantasi. Saya sendiri lebih condong pada kualitas yang baik dari fantasi Indonesia dibandingkan pendekatan haruskah bermuatan lokal disana sini atau terinpirasi kuat dari luar negeri.

Basis yang menjelaskannya ialah karena sejak semula Indonesia merupakan Negara yang tak dapat terpisah dari internasionalisme. Soekarno bertutur bahwa nasionalisme dan internasionalisme merupakan konsep yang bergandengan erat satu sama lain. Menurut Soekarno, Internasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak berakar di dalam buminya nasionalisme. Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup dalam taman-sarinya internasionalisme (Herbert Feith dan Lance Castles, Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965: hlm. 20).

Indonesia semenjak dulu juga merupakan masyarakat terbuka yang memungkinkan terjadinya transmisi nilai, inspirasi dari luar negeri. Masyarakat terbuka menurut Soros ialah dilandasi oleh kesadaran bahwa pemahaman kita akan dunia memang tidak sempurna (imperfect). Pada kenyataannya, pengetahuan kita mengenai dunia tidak pernah akan mencapai kata akhir. Sehingga yang perlu kita lakukan adalah menyusun suatu desain sistem yang memungkinkan adanya perbaikan terus-menerus (continuous improvement) dalam masyarakat (Firmanzah, Mengelola Partai Politik: hlm. 4). Dalam ranah fantasi Indonesia keterbukaan inspirasi dapat ditilik pada era kejayaan komik Indonesia, seperti diakui oleh Djair Warni ( pengarang Jaka Sembung) bahwa para komikus Indonesia terinspirasi dari para komikus Amerika (Marvel Comics).

Yang menurut hemat saya layak menjadikan concern dan timbang saran dari para penulis fantasi Indonesia ialah bahwa untuk membuat kisah fantasi kuatkan pada cerita. Djair Warni menyatakan dalam acara Indonesian Comic Fair II bahwa para komikus era sekarang memiliki kemampuan teknis menggambar yang baik, namun lemah dalam penceritaan. Saya sendiri secara personal membaca beberapa karya fantasi Indonesia terlampau sibuk untuk membangun kesan fantasi, kerumitan dalam jalinan cerita, konsep asing (yang mungkin diharapkan dapat mem-blow your mind). Padahal yang paling esensial dan fundamental ialah pada penceritaan (yang sayangnya kerap tercecer dan lemah).

Membaca buah karya dari Langit Kresna Hariadi yakni Gajah Mada. Candi Murca; Seno Gumira Ajidarma yakni Nagabumi, Djokolelono yakni Getaran, Jatuh ke Matahari; melentingkan konsep bahwa untuk menjadi penulis yang best seller dan baik secara kualitas penulisan dapat dengan menggali nilai-nilai lokal Indonesia. Ada kedekatan budaya, keterpautan sejarah, serta emosi yang terkait dalam cerita-cerita tersebut dengan kekitaan sebagai warga Indonesia.

Lalu jalan mana yang Anda pilih, menggali nilai-nilai lokal dari budaya Indonesia ataupun terinspirasi dari kisah luar negeri, saya percaya bukanlah sebuah jalur yang harus dipertentangkan dan dibenturkan. Mengapresiasi karya fantasi Indonesia, men-support bagi tumbuh kembangnya karya fantasi Indonesia, menulis dan berkarya sebagai anak bangsa Indonesia saya rasa merupakan jalan yang lebih elok bagi kemajuan genre fantasi di negeri ini.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

2 thoughts on “Fantasi Citarasa Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s