Posted in Kertas 60

Hari Kedelapan (8) – Lalu Lintas Tulisan

Selepas pulang dari makan di Ganthari Blok M semalam, nyaris bin tipis saya mengalami kecelakaan lalu lintas. Maksud hati ingin berbelok kanan, lalu dari arah berlawanan, satu mobil melaju kencang, dan di belakang mobil itu terdapat kendaraan yang memacu kencang pula untuk kemudian mengambil jalur di seberangnya. Saya pun merasakan deras angin dari mobil yang dipacu deras dan tentu saja ketegangan, shock dari peristiwa yang nyaris terjadi. Saya pun pulang sembari mengucap syukur dan bertekad untuk menuntaskan novel tantangan 60 hari ini. Pengalaman hidup-mati tersebut menjadi bahan bakar untuk semangat menulis sekaligus mengingat ada kepastian berupa kematian.

Lalu lintas Jakarta dalam perspektif saya merupakan hikayat yang semakin teruk. Kegaduhan, kekacauan menjadi menu sehari-hari dari lalu lintas ibukota negeri ini. Lalu saya tertarik untuk mengkomparasikan lalu lintas kendaraan dengan lalu lintas tulisan. Dentang reformasi telah membawa sejumlah perubahan termasuk menggagas berbagai hal baru di dunia penulisan. Tirani-tirani dalam menulis kini semakin mengikis seiring dengan secara formal adanya Undang-Undang No 40 tahun 1999 tentang kebebasan pers, ataupun kebebasan mengemukakan pendapat.

Dengan perkembangan teknologi setiap harinya kita dijejali dengan luberan informasi. Kepungan informasi itu dapat datang dari media cetak, elektronik, internet. Ragam tulisan juga bermunculan, dimana tidak sekedar mereka yang setiap hari bergulat dengan aksara. Ada citizen journalism, ada 6 juta blog di Indonesia yang memungkinkan siapa saja dengan gaya menulis apa saja. Kontestansi tulisan untuk dibaca dengan demikian semakin ketat, karena kuantitasnya kini telah mencapai luberan informasi. Eksesnya secara personal saya rasakan ketika bergabung di kompasiana, dimana beberapa gelintir orang untuk menarik pembaca membuat judul yang menjurus, adapun isinya ialah sampah kata-kata.

Lalu dimanakah kita dalam lalu lintas tulisan yang semakin padat? Menjadi pembaca, menjadi pembaca dan penulis, atau apa? Saya percaya sekalipun kepadatan lalu lintas penulisan semakin crowded, kualitas penulisan tetap terutama. Kualitas yang baik akan membentuk barisan pembaca yang loyal dan memungkinkan untuk mengalami perluasan penggemar. Kualitas akan menjadi distingsi dari berbagai kelebatan tulisan-tulisan yang ada. Saya harap dalam lalu lintas penulisan, dapat menjadi mobil yang cepat, keren secara kuantitas dan kualitas. Bagaimana dengan Anda?

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s