Posted in Kertas 60

Hari Ketujuh (7) – Internet dan Buku

Ini hari Ahad dan saya terbebas dari internet. Saya sendiri telah bertekad untuk tidak terhanyut dalam gelombang riuh internet. Dalam keseharian kerja, saya telah memancangkan itikad untuk hanya mengecek internet sesekali dan tidak terus on line serta aktif di internet. Barulah selepas jam 5 sore saya dapat me-recap dan fokus menjelajahi internet. Sedangkan pada weekend, saya tidak memiliki jaringan internet di rumah. Alasannya ialah karena perhitungan matematik finansial dan kalkulasi rasional. Alasan matematik finansial yakni jika saya berinternet di rumah maka saya harus membeli modem dan berlangganan internet tiap bulannya. Dibandingkan harus spent uang tiap bulan, saya lebih memilih untuk membeli buku. Toh saya bisa berinternet di kantor di hari kerja, kalaupun kepepet berinternet, saya dapat pergi ke kantor (kantor saya jaraknya selemparan batu dari rumah). Sedangkan kalkulasi rasional yakni saya tidak ingin jerat internet begitu jauh melahap waktu kehidupan.

Internet memiliki dampak bagi dunia tulis-baca. Dengan adanya internet media konvensional seperti koran, mulai tergerus dengan kehadiran portal berita di internet. Internet juga memberikan kemudahan untuk mencari berbagai pengetahuan terkait dengan bidang yang ingin diketahui. Cukup dengan menggunakan metode search enginee ataupun mencari di link-link terkait. Dengan hadirnya internet juga memberikan ruang lebih luas bagi massifikasi tulisan. Di Indonesia, ada 6 juta pengguna blog, 40 juta pengguna facebook, 7 juta pengguna twitter- angka-angka kuantitatif yang kiranya dapat memberikan impresi mengenai kemungkinan dari sebaran tulisan yang dapat dijangkau.

Internet juga membentuk gaya membaca dan menulis. Ada kebutuhan cepat dalam mendapatkan informasi dan panjang tulisan yang ringkas. Dari blog yang dibuat oleh Raditya Dika dan Panji, saya mendapati satu snap shot mengenai begitu ringkasnya alinea yang mereka buat. Kedua entertainer ini merupakan sosok yang memiliki amplifier dan mendapatkan panggung yang memungkinkan mempengaruhi persepsi publik. Jadi gaya mereka menulis blog pun teramat mungkin digugu dan ditiru oleh rekan-rekan muda lainnya.

Dunia buku pun mendapatkan imbas dari internet. Dengan adanya e-book yang memungkinkan setiap pembaca tidak harus menenteng buku dalam bentuk fisik seperti yang lazim berlangsung selama beberapa abad. Cukup dengan menggunakan peralatan elektronik seperti i pad, laptop, maka buku seri elektronik dapat dibaca. Segala macam letupan teknologi ini mendamparkan pertanyaan mengenai masa depan buku. Saya percaya sekalipun teknologi berkembang sedemikian rupa, kehadiran buku tetap dinanti dan dibutuhkan. Ada keajaiban yang tak dapat digoyahkan oleh berbagai kemajuan perangkat teknologi dan kemajuan zaman tersebut. Membaca buku sembari menikmati kopi merupakan kenikmatan dan keajaiban yang tidak kentara serta sukar didefinisikan. Terlebih bagi para pengkreasi dan penulisnya yang menghadirkan rona-rona keajaiban itu di rumah-rumah Anda. Dan saya harap, saya berkesempatan untuk menghadirkan rona-rona keajaiban tersebut.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s