Posted in Buku, Edukasi, Essai, Fiksi Fantasi, Politik, Sosial Budaya

Imajinasi Itu

Apa jadinya hidup ini jika daya cinta imajinasi dirampas dari umat manusia? Kehidupan akan menjadi teramat monoton, membosankan, dan bahkan mungkin manusia dapat menemui kemusnahannya. Menurut Albert Einstein si jenius itu, imajinasi lebih berarti dari sekedar ilmu pasti. Banyak kiranya penemuan ilmiah yang bermula dari titik tolak imajinasi. Teori relativitas yang digagas Einstein misalnya berasal dari imajinasi pria yang meraih hadiah nobel pada tahun 1921 ini. Dengan adanya imajinasi, maka ada lambungan-lambungan kemungkinan dari segala masalah, problema yang menjerat. Selalu ada ruang kemungkinan, selalu ada solusi yang diawali dari hulu imajinasi.

Bermimpilah maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu, tutur Arai dalam novel Sang Pemimpi. Siapa nyana dua anak Belitong miskin dengan kekuatan imajinasi mampu mengarungi Eropa dan Afrika seperti dinarasikan dengan apik dalam novel Sang Pemimpi. Simaklah tuturan dari Andrea Hirata berikut:”Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium:meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, terurai, dan berpencar ke arah yang mengejutkan (Andrea Hirata, Edensor: hlm. 43).

Soekarno yang dikategorikan oleh Herberth Feith sebagai solidarity making merupakan sosok pemimpi yang ulung. Mimpi-mimpinya besar dan monumental. Hebatnya lagi ialah ia dibekali oleh kemampuan memikat khalayak. Bangsa besar ini pun dibawa dan digerakkan oleh sedikit banyak kekuatan imajinasi sang putra fajar. Kemerdekaan yang baginya merupakan jembatan emas, revolusi yang belum selesai, merupakan fragmen-fragmen mimpi dari pengagum Bima ini. Soekarno sendiri merupakan sosok yang bergerak di ruang imajinasi. Seorang “pembentuk solidaritas” bicara dengan hati bergelora tentang rakyat – tentu saja “rakyat” bukan sebagai kenyataan yang terbagi-bagi, melainkan suatu keutuhan, suatu daya, suatu gairah. Bagi banyak orang, dalam sebuah bangsa yang baru menyentuh dengan gemetar dan gugup ambang kehidupan modern, politik memang berfungsi “membangun dan mempertahankan tertib dalam diri pribadi”. Mereka butuh simbol, mereka perlu hal-hal yang ideal (Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 2: hlm.479).

Soekarno si pelajar otodidak itu telah melakukan sejumlah tamasya intelektual yang memungkinkannya untuk mengumpulkan hikayat-hikayat makna dari belahan dunia. Bung Karno membaca Mazzini, dan tentu saja riwayat Garibaldi. Garibaldi digambarkan oleh Goenawan Mohamad sebagai berikut: Garibaldi mungkin satu contoh: ia tak akan berhasil menjadikan Italia satu bangsa seandainya tak ada “imajinasi”. Ia memang bertempur. Tapi seakan segala gerak besar hidupnya didikte oleh angan-angan seorang penulis roman agung di langit ketujuh (Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 2: hlm. 426).

Sayangnya di negeri ini imajinasi ditertawakan. Imajinasi seakan menjadi kata bagi para pengkhayal utopis yang tidak berbasis realitas. Pragmatisme, jangka pendek menjadi frase yang memenuhi sudut-sudut negeri. Komik, game, buku fiksi fantasi bagi beberapa kalangan dianggap childish, membuang tempo, tidak bermanfaat kiranya. Padahal baik itu komik, game, buku fiksi fantasi merupakan sarana untuk melentingkan imajinasi. Dan negeri ini butuh lesatan letupan langkah nyata yang dimulai dari bibit imajinasi. Tak mengherankan jika keruwetan, cul de sac masih setia di jalur nadi negeri ini, karena hulu solusinya telah dibantai dengan tragis. Hulu solusi itu adalah imajinasi.

Mau bukti? Lihat saja dari pola pendidikan yang mengagungkan otak kiri. Sistem yang membekuk imajinasi dan menempatkannya di ruang berdebu. Imajinasi dibantai sejak dini. Contoh kasus ialah dalam pelajaran mengarang. Seberapa bebas anak didik dibiarkan bermain dengan kata. Ada frase “wajib” yakni pada suatu hari, berlibur ke rumah nenek. Ada tirani bagi imajinasi kata yakni segemplok aturan tata bahasa. Maka fungsi turunannya ialah keringnya daya tulis. Mengarang adalah torture. Bahasa menjadi tidak hidup, liat, dan bergairah. Banyak bibit-bibit pengarang yang “wafat narasinya” semenjak usia dasar menginjak bangku sekolah.

Imajinasi memang dapat menjadi runyam dan mengkhawatirkan bagi penguasa. Jika imajinasi tumbuh menggeliat maka selalu ada jalan tidak monolitik. Selalu ada purna jalan, selalu ada alternatif. Maka letoynya imajinasi suatu bangsa dapat dikaitkan dengan kehidupan sosial politik yang digagas oleh pemerintah berkuasa. Imajinasi dapat berkonotasi pada oposisi.

Maka sebuah negeri yang hanya memberi tempat bagi oposisi loyal untuk hidup atau dalam sebuah pidato menyatakan, “Ada pers yang mengeruhkan situasi dan mengadu domba. Ini gangguan pada stabilitas politik dan nasional. Kalau tak bisa diperingatkan, akan kita ambil tindakan karena mengganggu pembangunan sebagai tumpuan kita.” Negeri tersebut telah menjadikan imajinasi sebagai gagasan yang sunyi. Imajinasi merupakan gagasan yang alienatif, periferi.

M.Ridwan Kamil seorang master desain urban memiliki impian untuk membangun creative center yang akan jadi pusat berkumpulnya orang-orang kreatif. Era reformasi telah memberikan kebebasan untuk berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat (seperti dilindungi oleh UUD tahun 1945 pasal 28E ayat 3). Kemajuan teknologi juga memungkinkan dunia lebih datar dan munculnya kekuatan-kekuatan horizontal baik dari individu maupun entitas. Kemajuan teknologi memungkinkan untuk menegasikan halangan jarak dan waktu. Sepanjang memiliki gagasan yang setipe dan sebangun komunitas kreatif dapat dibentuk.

Maka berbahagialah dengan seraut optimisme sepanjang nafas imajinasi masih panjang. Imajinasi dengan dibantu oleh teknologi dapat menjadi kekuatan yang dahsyat. Kehadiran teknologi dan internet sendiri juga merupakan buah karya dari imajinasi. Anda misalnya dapat menelusuri kekuatan imajinasi dari seorang pemimpi ulung dalam biografi Steve Jobs yang ditulis oleh Walter Isaacson. Pada beberapa bagian, mimpi dari John Lennon dalam syair lagunya Imagine telah terwujud. John Lennon menggagas the world has become one. Dan kita kini merasakan pada beberapa mozaik, dunia telah menjadi satu.

Imajinasi kiranya yang dapat menjadi titik awal bagi ragam solusi. Dunia yang dihadapkan pada rentetan ketakutan dan masalahnya, mulai dari kerusakan lingkungan, penyakit, ledakan jumlah penduduk, dan sebagainya. Saya percaya sepanjang imajinasi masih sehat dan terus meletup berkarya maka selalu ada harapan. Tentu saja imajinasi itu selayaknya mewujud dalam karya. Karya itulah yang menjadi manifestasi distingsi antara imajinasi berbuah dengan imajinasi sang utopis.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s