Posted in Kertas 60

Hari Kesepuluh (10) – Perjalanan

Perjalanan inipun kadang merampas bijak hatiku/Sekali waktupun mungkin menggoyahkan pundi cintaku/menetaskan setiaku/menafikan engkau disana/maafkanlah aku/cepat ku kembali..begitulah kiranya potongan lirik dari lagu Perjalanan yang dibawakan oleh grup band Padi. Perjalanan kiranya merupakan sinyalemen kehidupan. Dengan melakukan perjalanan maka denyut, sinyal kehidupan benar adanya. Perjalanan kiranya yang memungkinkan terjadinya transmisi nilai, pertukaran budaya, dan sederet kemajuan pengaruh mempengaruhi.

Kemarin adalah hari perjalanan. Ada tiga titik yang saya singgahi yakni gedung parlemen, mahkamah konstitusi, dan rumah di bilangan Bintaro. Kesemua titik yang saya singgahi tersebut terkait dengan pekerjaan formal saya. Masing-masing dari tempat itu mampu memberikan impresi yang berbeda. Parlemen ketika dulu saya pertama kali memasukinya ada perasaan something. Karena dari gedung parlemen inilah berbagai episentrum kejadian sosial politik Indonesia terjadi. Sekarang perjalanan ke parlemen lebih seperti mekanisme otomatis dan lazim bagi pekerjaan saya.

Titik destinasi kedua ialah mahkamah konstitusi. Untuk pertama kalinya saya masuk ke dalam mahkamah yang memutus hasil sengketa pemilihan umum tersebut. Secara tampilan fisiknya dari luar saya telah melewatinya beberapa kali. Dan secara arsitektur, cukup baguslah imajinasi yang dapat dihasilkan dari bangunan ini. Titik destinasi ketiga ialah di rumah bilangan Bintaro. Di rumah itu terdapat berbagai benda-benda buah tangan dari berbagai negara dunia. Ada yang dari Libanon, Belanda, Amerika Serikat, dan sebagainya. Benda-benda itu adalah bukti nyata dari perjalanan yang telah dilakukan penghuninya.

Kisah fantasi sendiri merupakan sebuah perjalanan. Sebut saja kisah fantasi, maka Anda akan menemui perjalanan disana. Harry Potter, The Lord Of The Rings, Narnia, The Bartimaeus Trilogy, Percy Jackson, Anak Rembulan, merupakan contoh dari bagaimana perjalanan merupakan DNA dari fantasi. Adapun tokoh yang akan saya jadikan tokoh utama dalam kisah novel yakni seorang yang gemar berpetualang dan melakukan perjalanan. Dia adalah pembenci stagnasi. Sudut-sudut tanah dan lautan menerbitkan hikayat dan membentuk si tokoh utama. Bagi saya personal, menghadirkan tokoh yang gemar berpetualang juga sebisa mungkin membetot daya imajinasi saya untuk menghayati bagaimana kiranya jiwa, intisari dari sang tokoh utama. Yap, perjalanan inipun kadang merampas bijak hatiku- bagaimana kiranya dengan si tokoh utama dalam novel? Akankah perjalanan menjadikannya sebagai sosok yang bijaksana atau justru merampas bijak hati dan menunjukkan karakter dasarnya?

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s