Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Film

Mimpi Berwarna yang Pecah – Film Up

Sebuah kisah akan mampu menancapkan pengaruh di memori manakala mampu memadukan antara visualisasi, asosiasi, absurditas dan humor, emosi, sinestesia, warna, makna, rhythm (Adam Khoo, I Am Gifted, So Are You: hlm. 61-62). Rupanya resep itulah yang selalu menjadi kunci sukses dari keberhasilan kisah animasi buatan Pixar. Animasi buatan Pixar tidak sekedar menyajikan warna, keindahan gambar, namun benar-benar menyajikan paket komplet yang mampu menyentuh hati dan teringat di benak setelah sekian lama menontonnya. Hari Sabtu kemarin (18 Februari 2012) saya melihat salah satu film kreasi Pixar yakni Up.

Sebelumnya saya belum pernah melihat film Up secara utuh. Impresi yang tertanam di benak saya tentang film UP sebelum menontonnya secara penuh ialah sebuah gambaran tentang rumah yang ditarik ke angkasa oleh balon warna-warni. Sebuah konsep yang begitu kuat. Lalu setelah Sabtu kemarin, saya melihat film Up, kembali saya terkagumkan dengan produk fantasi yang satu ini. Menarik kiranya pembelajaran yang dapat dipetik dari film Up. Dalam kesempatan essai kali ini saya akan mengangkat tema mimpi berwarna yang pecah.

Dikisahkan Carl Fredrickson adalah seorang pemimpi yang semenjak kecil memiliki impian untuk dapat terbang jauh melintasi wilayah tempat tinggalnya. Carl kecil lalu bertemu dengan Ellie yang ceria, cerewet, dan seorang pemimpi pula. Ellie memiliki buku petualangan yang bercerita tentang perjalanan mimpinya. Ellie memiliki ekspektasi bertempat tinggal di Lost Land di daerah Amerika Selatan. Rumah itu berdiri di perbukitan dimana tak jauh dari situ terdapat air terjun yang menderu.

Ellie dan Carl untuk kemudian menikah serta menjalani kehidupan sakinah mawaddah wa rahmah. Dengan cerdik penceritaan dan lompatan fragmen-fragmen monumental hidup dari Carl dan Ellie digambarkan dalam narasi tanpa dialog yang kuat di penggambaran. Dalam lintas waktu yang singkat penonton dibetot emosinya untuk larut dalam kehidupan keluarga kecil tersebut. Fragmen-fragmen itu dengan cerdas dimainkan seperti Ellie yang divonis tidak memiliki keturunan, ketegaran mereka berdua untuk menjalani hidup berdua tanpa anak, toples tabungan untuk menuju Lost Land yang kerap harus dipecahkan karena kebutuhan-kebutuhan hidup, dan sebagainya.

Rupanya mimpi untuk pergi ke Amerika Selatan yang diidamkan oleh Ellie semenjak kecil belum terealisir hingga pasangan keluarga kecil ini telah menjadi nenek dan kakek. Mereka berdua sendiri telah berusaha untuk menuju Lost Land di Amerika Selatan tersebut dengan menabungkan koin demi koin yang dikumpulkan di toples. Namun kebutuhan hidup sepanjang usia pernikahan mereka membuat pasangan ini terpaksa memecahkan toples tabungannya. Mulai dari membetulkan mobil, Carl yang kecelakaan, merupakan musabab bagi pecahnya toples tabungan tersebut.

Perjalanan waktu dan usia nyaris mengubur obsesi mimpi masa kecil tersebut. Sampai Carl mengingat kembali mimpi Ellie melalui foto masa kecil Ellie dengan giginya yang ompong dengan kacamata pilot serta buku petualangan milik Ellie. Mimpi ini harus terealisir, pikir Carl. Maka Carl membeli tiket ke Amerika Selatan untuk mereka berdua. Dan mimpi masa kecil itu harus menemui takdir sejarahnya ketika Ellie meninggal dan tinggal Carl dengan segala beban luka dan mimpi yang masih tertunda.

Carl di masa tuanya harus menghadapi hempasan realitas ketika rumahnya terancam untuk digusur sebagai buah dari pembangunan kapitalisme yang evil. Dibekuk situasi simalakama, Carl pun memutuskan untuk menjemput mimpinya dan juga mimpi Ellie. Dengan balon warna-warni sebagai pengangkat, rumah keluarga kecil Carl dan Ellie pun terbang ke angkasa untuk menuju destinasinya Lost Land di Amerika Selatan.

Istimewanya film-film besutan dari Pixar secara substansi cerita ialah pada kemampuannya menghadirkan makna dan mengolah emosi. Begitu pula dalam film Up ini yang pada hemat pemikiran saya merangkum berbagai permaknaan. Film Up mengusik, mempertanyakan tentang mimpi. Jika dikaitkan dengan kekitaan, bagaimana kabar Anda dengan mimpi yang dimiliki? Apakah ada jurang yang menganga antara realitas dan mimpi. Melalui narasi di film Up dikisahkan tentang mimpi bocah yang mengidamkan rumah di tempat indah jauh sana. Pernahkah Anda di usia sekarang ini mengecek mimpi ketika masa kecil? Sejenak memutar memori tentang cita-cita dan harapan masa kecil dulu. Mungkin akan terdengar klise, kekanak-kanakan, imajinatif, dan mungkin mustahil terwujud. Namun apapun mimpi masa kecil Anda, itu adalah lembar harapan dan bukti nyata dari imajinasi seorang bocah.

Mimpi ternyata memiliki masa edar. Usia menjadi mekanisme seleksi. Ketika menginjak usia tertentu, pada beberapa orang balon-balon mimpi dilepaskan dan dipecahkan. Mungkin itu saya, mungkin itu Anda, ketika menginjak perjalanan umur tertentu perlahan melepas mimpi-mimpi dari balon bernama harapan. Film Up besutan studio animasi Pixar kembali mengingatkan tentang harapan dan mimpi-mimpi. Bahkan kakek berumur 78 tahun pun masih berjuang untuk merealisasikan mimpinya. Saya percaya Anda belumlah berumur 78 tahun, namun bisa jadi Anda mulai melupakan, mengubur dan memecah impian Anda karena berasumsi tidak mungkin tercapai. Rupanya Carl dapat memberikan permaknaan bahwa tak pernah ada kata terlalu tua untuk mengejar mimpi, sepanjang hayat masih di badan mimpi masih dapat terjadi.

Perjalanan meraih mimpi rupanya juga dapat tercecer dan tertunda. Seperti diperlihatkan dalam film Up melalui tabungan dari koin demi koin yang dikumpulkan, namun akhirnya toples itu dipecahkan karena berbagai kebutuhan situasional. Saya percaya begitu juga dalam menempuh mimpi ada cabaran, tantangan, ujian untuk menggapainya. Untuk mencapai mimpi terkadang memang harus mencicil etape demi etape pencapaiannya. Seperti membuat novel, maka etape demi etape itu ialah dengan menuliskan halaman demi halaman hingga akhirnya berakumulasi pada sebuah cerita yang utuh.

Mencatatkan harapan juga penting kiranya. Seperti yang ditunjukkan oleh Ellie dengan buku petualangannya. Karakter dasar manusia yang mudah lupa memungkinkan kita abai terhadap pencapaian imajinasi harapan. Mencatatkan harapan merupakan lembar janji, pengingat, evaluator bagi parameter besar mencapai mimpi. Berbilang waktu kemudian, kita dapat melihat kembali catatan mimpi tersebut untuk kembali mempertanyakan telahkah mimpi tercapai, telahkah langkah dijalankan untuk mencapainya, poin-poin apa saja yang mengganjal?

Mimpi dan perjalanan meraihnya merupakan sebuah hikayat perjuangan. Menganalogikan dengan lagu balonku, dalam hidup ini sukar kiranya untuk memenuhi semua mimpi, ada balon yang meletus dan pecah, namun sisa balon berwarna yang ada hendaknya dipegang erat-erat dan diperjuangkan untuk menjadi nyata. Selamat berjuang wahai para pemimpi.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s