Posted in Kertas 60

Hari Kesebelas (11) – Menggali Sejarah

Di awal pagi ini saya mencari-cari dokumen pekerjaan. Diantara tumpukan kertas, buku dan ruang yang terpisah, saya pun menelusuri sembari mengingat-ingat dimana kiranya dokumen itu saya simpan. Dokumen itu terkait dengan tulisan pekerjaan saya berbulan-bulan yang lalu. Akhirnya dokumen itu ditemukan setelah mengudek-udek di dua titik tempat tumpukan kertas. Mencari dokumen ternyata mengkoneksi emosi, pemikiran dengan kata sejarah. Oleh karena itu sebisa mungkin saya mem-print tulisan-tulisan saya (sayangnya sudah beberapa bulan rutinitas ini saya alpa mengerjakannya). Memang ada data elektronik, namun ganasnya virus dapat menjadikan file tulisan menjadi empty. Memprint out selain sebagai cadangan simpanan tulisan juga berguna untuk mengukur sejauh mana tulisan yang ada dan kualitasnya.

Dalam menulis, saya juga selalu percaya terkait dengan sejarah. Membuat tulisan terkoneksi dengan past time. Seperti misalnya ketika membuat essai, maka ingatan-ingatan pengetahuan coba dirangkai, disusun untuk menjadi satu bangunan utuh. Membuat cerita juga mengkoneksikan dengan sejarah. Untuk mendapatkan setting, karakter, cerita, maka saya kerap memutar ingatan ke masa yang ada di belakang. Untuk membubuhkan emosi, taste, feel juga begitu, saya kerap merekonstruksi segenap emosi dari hari-hari yang telah berlalu. Maka beruntunglah para pengingat ulung yang memiliki otak encer untuk mengingat fragmen-fragmen dari masa lalu. Mohammad Hatta melakukannya ketika membuat otobiografinya yang benar-benar secara detil dihadirkan ke sidang pembaca dibawa kepada narasi era lampau yang dijalani oleh Bapak Koperasi ini.

Untuk mengingat apa yang terjadi saya juga membuat catatan harian. Tentang apa yang saya lakukan, harapan, kegetiran, dan sebagainya. Bagi saya catatan harian teramat berguna untuk memantek sejarah. Catatan harian juga berguna untuk pemanasan sebelum saya menulis macam-macam. Dalam konteks perbukuan, catatan harian telah mampu menjadi suar tersendiri. Kita mengenal catatan harian seorang demonstran punya Soe Hok Gie, pergolakan pemikiran Islam punya Ahmad Wahib, catatan tentang getir perang dunia II punya Anne Frank. Catatan harian merupakan upaya untuk menghidupkan era, nuansa, dan cerita.

Saya percaya sejarah merupakan bahan baku untuk menyusun tulisan. Waktu memang terus bergerak, namun simpangan permaknaan secara umum masih tetap sama. Manusia dengan pergulatannya. Tokoh utama dalam novel saya sendiri merupakan pecinta sejarah. Untuk menjalankan aksinya dia harus mengetahui secara benar tentang riwayat target buruannya. Dan sejarah selalu menyimpan kisah. Ada kebohongan, penutupan realitas, penggelembungan peranan. Sejarah punya tendensi menjadi kebohongan. Sekianlah saya cukupkan tulisan kali ini, mari membuat sejarah.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s