Posted in Kertas 60

Hari Kedua Belas (12) – Pere

Maksud hati ingin me-recap segala tumpukan tanya yang belum terselesaikan via internet. Maka saya pun bergegas berangkat ke kantor lebih pagi. Apa daya, internet di kantor ternyata error dan tidak dapat didayagunakan entah kenapa. Peristiwa pagi ini kembali menjadi reminder saya bahwa jangan bergantung pada variabel-variabel di luar diri. Lebih banyak mengecewakan dan dapat menguras hati. Jika dapat dilakukan secara mandiri, maka lakukanlah. Dan teknologi seperti pagi ini merontokkan segala rencana saya tersebut. Sisi positifnya dari pere-nya internet ialah saya dapat fokus pada menulis dan membaca. Nir internet ini segera melabuhkan pikiran saya pada era mesin tik. Bagaimana dulu untuk menghasilkan tulisan harus berketak-ketuk dulu dengan mesin tik.

Teknologi dipuja, teknologi dibenci. Pada beberapa kutub ekstrem teknologi dapat merusak empunya:manusia. Tak terkecuali dalam dunia tulis-baca. Instanisme dalam dunia tulis-baca misalnya terjadi dalam plagiarisme dan copy paste. Tinggal baca selintasan, dirasa bagus, dicupliklah. Dan pola semacam ini jika terus menerus terjadi akan mendangkalkan kemampuan menulis dan membaca. Dalam jejaring sosial juga ada harapan bagi saya untuk berterbitannya tulisan-tulisan kreasi sendiri di time line yang ada. Pada kenyataannya persentasenya masih rendah. Lebih banyak seliweran-seliweran tidak makna. Padahal melalui jejaring sosial dapat menjadi kanal untuk menggagas dan mendiseminasi gagasan.

Novel yang saya buat ini sendiri akan saya ungkap beberapa bagiannya lewat dunia maya. Saya berharap ada point of view dari pembaca dan penilaian tentang apa yang saya tulis. Lalu ketika mendapatkan point of view dan penilaian dari pembaca akankah saya akan merombak novel saya? Saya cukup percaya diri dengan apapun cabe, miring komentar – saya akan menimbang segala itu, dan mungkin menerimanya. Tapi merombak total dan tersurutkan, bagi saya tidak masuk dalam kamus penulisan karya saya.

Pere internet juga kiranya yang membuat limpahan tulisan saya lebih banyak dan lebih bisa dapat terfokus untuk merampungkannya. Internet memang tidak selalu mendatangkan kebaikan. Terkait dengan pengerusan daya tulis-baca, lebih baik mem-pere-kan sejenak internet, jangan sampai ter-addict wajib berinternet ria. Toh Anda dan saya tak akan mati walau sesekali tidak berinternet.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s