Posted in Kertas 60

Hari Kelima Belas (15) – Eight Day’s A Week

Apakah Anda pernah membaca novel Momo? Ketika pertama kali membacanya dahulu, saya tidak terlalu interesting dengan konsep ceritanya dan narasinya. Namun berbilang waktu kemudian dan sampai saat ini rupa-rupanya konsep dan pesan yang disampaikan dalam novel Momo begitu mengena dan tepat kiranya. Pesan dalam novel Momo ialah tentang terlampau sibuknya orang dewasa sehingga nyaris tiada waktu untuk menghabiskan waktu secara wajar dengan anak-anak. Bagaimana kesibukan dan ketergesaan melingkupi kehidupan orang-orang dewasa. Ide dari novel Momo itu paralel dengan apa yang saya alami dan mungkin juga Anda alami. Bagaimana benar-benar begitu singkat dan tiba-tiba telah menutup hari saja padahal masih banyak hal yang belum terkerjakan.

Komplikasinya ialah pemotongan dari waktu libur dan santai. Bahkan pada weekend masih bergelut dengan purna pekerjaan. Kebisingan kesibukan itu dapat menggerus kegembiraan dan kemampuan mengamati. Akibatnya segala instanisme dan kecepatan semerta-merta terjadi. Sementara itu, beberapa tokoh yang berhasil konon tidur dalam waktu yang lebih singkat dari orang kebanyakan. Era keemasan Islam juga mengajarkan tentang bagaiamana Nabi serta sahabat bangun di waktu malam untuk mengerjakan shalat tahajud. Mereka ibarat singa di siang hari dan rahib di malam hari.

24 jam waktu yang ada bisa berbeda penggunaannya pada setiap orang. Saya sendiri untuk mensiasati agar hidup saya tertata membuat jadwal harian dan mingguan tentang apa-apa yang saya kerjakan. Dengan demikian hidup saya lebih tertata. Meski saya akui kerap bolong-bolong dalam mengerjakan apa yang saya rencanakan. Seminimalnya saya telah berupaya dan berhasrat untuk mengerjakan hal-hal yang bermanfaat. Hari-hari ke depan sepertinya merupakan hari-hari sibuk. Alhamdulillah pekerjaan dari kantor masih ada dan menumpuk (hehe..) sehingga saya dapat terus berkreativitas menyusun kata. Tentu saja proyek-proyek personal saya dapat terpengaruhi dengan ketat dan banyaknya pekerjaan kantor, ataupun sebaliknya. Maka yang harus saya lakukan ialah dengan lebih keras lagi pada diri untuk bekerja cerdas, keras dan tekun.

Pengerjaan novel tantangan 60 hari ini ibarat sumbu api terus berkurang setiap detiknya. Tak ada injury time. Yang harus saya lakukan ialah mensiasati waktu yang ada dengan karya. Dengan itu maka ada implikasi waktu menulis dan membaca saya akan membengkak. Otomatis porsi-porsi waktu yang lain akan terkurangi. Selalu ada harga yang harus dibayar untuk sebuah karya. Dan untuk pengerjaan novel tantangan 60 hari ini sepertinya saya harus menjalankan eight days a week. Oke, tetap asah penamu.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s