Posted in Kertas 60

Hari Ketujuh Belas (17) – Gaptekisme

Akhirnya cerpen untuk lomba bulanan di Kastil Fantasi berhasil saya usaikan dan telah terkirim. Permasalahan sebelum semuanya selesai ialah pada teknologi. Bergabung dalam goodreads dan mem-posting tulisan, kembali menempatkan saya pada gerbang gaptekisme. Ada keengganan personal saya dengan segala teknologi dikarenakan tingkat kegawatan gaptek yang saya idap. Maka ketika menghadapi lomba cerpen bulanan ini dan mengetahui harus mem-posting dan segala macam, maka saya memutuskan untuk meminta bantuan dari yang lebih ahli. Saya pun menginap di kantor sobat saya yang tak jauh dari Bundaran Hotel Indonesia.

Benar kiranya kekhawatiran awal saya dengan irisan teknologi terjadi. 24.000 karakter, sedangkan tulisan saya mencapai 23.400-an karakter. Jadilah harus dipotong dan dimodifikasi oleh teman saya. Dan setelah mengutak-atik dan mengedit, fiuh..akhirnya berhasil cerpen saya secara utuh. Saya merasa inilah cerpen pertama saya yang tuntas. Dan ini benar-benar menantang. Ada dimensi berbeda yang saya dapati ketika menulis cerpen. Apalagi kelenturan bertutur saya di ranah dunia penceritaan fiksi fantasi agak lama belum tersentuh. Saya lebih kerap menghasilkan puisi, essai, ataupun tulisan sosial politik. Menulis cerpen beda kiranya dengan menulis essai. Jika essai, maka saya harus stabil untuk menulis dengan karakter dasar. Sedangkan ketika membuat cerpen, maka saya harus dapat memberikan perbedaan pada karakterisasi para tokoh.

Penyelesaian cerpen ini membuat saya kurang tidur hari ini. Terus terang ada kabut di otak karena kurang tidur. Tapi memang begitulah kerap harga yang harus dibayar dari sebuah karya. Ketika karya telah usai sendiri ada kepuasan yang tidak dapat terjelaskan. Hanya merasakan dan mengalaminya. Apakah saya optimis untuk menang? Ketika karya saya telah usai, saya sendiri memiliki harapan untuk menang. Kompetisi dan kemenangan adalah sesuatu yang selalu yang saya hasratkan. Kalaupun nanti di hari pengumuman, tidak menang, seminimalnya saya telah menang menaklukkan diri sendiri.

Kembali ke tema awal yakni gaptekisme. Ingatan saya terdampar tentang Rosihan Anwar yang pernah mencoba menggunakan komputer namun file tulisannya untuk kemudian hilang. Rosihan Anwar lalu kembali menggunakan mesin tik hingga akhir hayatnya. Yang ingin saya gariskan disini ialah jangan sampai teknologi menggantungkan kemampuan manusia. Dengan kecanggihan teknologi, serta adanya search enginee, membuat akses informasi dapat begitu cepat, namun saya percaya cita rasa tulisan bukan sekedar data. Ada jiwa dari penulis yang manunggal dengan penulisan. Gairah untuk menulis dan berkarya seperti diperlihatkan oleh Rosihan Anwar hingga akhir hayatnya, saya harap bisa saya miliki. Dan saya merasa memiliki patron yang agaknya mengalami gaptekisme pula.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s