Posted in Cerpen, Fiksi Fantasi, sastra

Karnaval Sunyi (1)

Hidup ini seperti perputaran menjemukan terkadang. Kau menjalani hidup yang sama dan sama lagi, sekalipun harinya berbeda, sekalipun tanggalnya berbeda. Itulah yang dialami oleh Erda Curve sang pewaris kekayaan dari keluarga Curve. Hidupnya penuh dengan keteraturan dan segala manner. Seperti pagi ini, dia telah siap di meja makannya dengan hidangan pagi. Bisakah kalian mencium aroma makanannya? Hmm..hidangan yang disajikan di atas meja kayu jati tersebut sebenarnya merupakan kuliner dengan citarasa yang sukar dicarikan padanannya dalam kata. Tapi Erda Curve sedang tidak berselera untuk menyantapnya. Sensasi keengganan yang sama selama 5 hari terakhir.

Kentang, kambing guling, telur, kacang, dan susu panas merupakan menu yang tersaji tepat jam 7 pagi ini. Matahari telah memberkas membentuk spektrum diantara kaca pantri kastil tua ini. Erda Curve dengan mata jengah menatap pisau dan garpu di piring porselen bersama dengan kuliner yang terhidangkan. Dengan wajah canggung Aldredo si pelayan pribadi dari Erda Curve berdiri tidak jauh dari kursi kayu berukiran rumit yang ditempati anak berwajah pucat itu.

“Katakan kepadaku Aldredo, apa agendaku hari ini?” tanya Erda sembari memukulkan garpu ke piringnya pelan.

“Hari ini, jadwal Anda adalah belajar ilmu sejarah jam 8 pagi, lalu jam 10 pagi belajar ilmu ekonomi. Pada jam 12 siang, Anda makan siang, lalu berburu dari jam 1 siang hingga setengah tiga. Pada jam tiga, ada pertunjukan musik di taman kastil hingga jam 4. Sisa hari Anda boleh memanfaatkan waktu sesuka Anda. Begitulah jadwal Anda hari ini tuan Erda Curve,” tutup Aldredo dengan arah mata yang tertuju pada bayangan sang tuan.

“Kelihatannya membosankan,” muram suara dari Erda.

“Tapi Anda harus menjalani jadwal-jadwal tersebut. Anda adalah pewaris tunggal dari keluarga Curve dengan segala kemegahan dan tanggung jawab di belakangnya,”Aldredo mengkonfirmasi gulana dari anak bermata cokelat ini.

“Ya, aku tahu itu Aldredo. Bisakah kau tinggalkan aku sendiri. Aku ingin sarapan tanpa diganggu.”

“Baik tuan,” jawab Aldredo sembari membungkukkan badan.

“Dan Aldredo…, tolong tutup pintunya, aku membutuhkan lebih kehangatan di ruang ini.”
***

Rinkel adalah guru sejarah yang linglung. Dia kerap lupa tentang segala detil dari pelajaran sejarah. Sebagai gantinya dia malah lebih banyak menarasikan kisah sejarah seperti kisah dongeng. Rinkel seperti si penutur dongeng yang akan dengan mata lahap didengarkan oleh anak-anak yang merindukan kisah-kisah mitologi. Tapi tidak dengan Erda Curve, dia adalah seorang yang senantiasa skeptisme dan satire. Menanggapi kisah-kisah dari Rinkel, dia akan mengkonfrontirnya dengan tumpukan buku sejarah yang pernah dibacanya. Dan Rinkel akan mengelus-elus janggutnya pertanda dia bingung tentang keluasan pengetahuan dan daya jangkau bacaan dari anak berumur 12 tahun ini.

Kesne adalah guru ekonomi yang praktis. Erda sering bertukar pendapat dengan Kesne tentang rupa-rupa permasalahan. Erda si kutu buku kerap menyanggah pendapat Kesne tentang segala varian ilmu ekonomi. Kesne biasanya tersenyum dan berkata, “Tak semua kebenaran ada di buku yang ditulis itu. Para cendekia harus sering-sering turun dari menara gadingnya dan menapak ke bumi.”

Setelah makan siang, Erda pun bersiap untuk berburu. Seperti biasa mereka berburu dalam kelompok. Segala macam persiapan berburu telah siap. Tombak, panah, kuda, jaring, teropong, pedang, baju pelindung – kau harus bersiap dengan segala kemungkinan. Total ada 5 orang yang bergabung dalam kelompok berburu. Pimpinan berburu adalah Torva. Perawakan Torva sendiri tidaklah tinggi besar, dia adalah sosok yang malahan kurus. Tapi jangan kalian tanyakan kecepatan, kegesitan, dan naluri membunuhnya. Dia akan merubuhkan binatang buruan bahkan ketika kalian masih berpikir langkah apa yang tepat untuk menghadapinya.

Area buruan sendiri berada di hutan Fangeon yang berada di sisi utara dari kastil. Di hutan Fangeon sendiri masih terdapat banyak satwa dan pohon-pohon tinggi yang seakan menghalau sinar matahari. Seperti semesta yang asing, begitulah hutan Fangeon.

Mereka berlima pun memacu kudanya cepat-cepat. Memukulkan debu ke udara, melewati padang rumput yang menghijau. Binatang yang akan mereka buru ialah kijang. Kijang adalah binatang yang cepat dan jika kau dapat, maka dagingnya akan dapat menjadi hidangan makan malam yang lezat. Erda Curve sendiri merupakan seorang pemburu yang menurut Torva terlalu percaya diri. “Kau harus mengecilkan kepalamu untuk menjadi pemburu yang hebat, begitu yang diujarkan Torva menyikapi sombongisme yang menyembul di diri Erda.

“Kau harus tahu hewan pun memiliki intelegensi. Hewan juga akan melakukan apa saja untuk bertahan hidup. Bukankah semua makhluk hidup akan berdaya upaya untuk tetap hidup? Dengan segala cara, dengan segala upaya. Sekalipun langkah yang ditempuh ialah cara pengecut dan anomali,” Torva dalam salah satu sesi perburuan pernah bernarasi seperti itu.

Kuda-kuda yang memasuki hutan Fangeon telah memasuki bagian lebih dalam dan sunyi dari hutan tersebut. Hal itu dapat dilihat dari semakin pekatnya cahaya yang terberkas. Sementara mereka belum mendapatkan buruannya.

Torva turun dari kudanya dan mencoba untuk melacak jejak kemana kiranya kaki kijang melangkah. “Aku rasa cukup untuk hari ini tuan Erda. Ada kalanya keberuntungan tidak berpihak kepada panah-panah kita,” Torva membujuk untuk menghentikan perburuan dan kembali ke kastil.

“Baiklah kita kembali,” ujar Erda dengan nada pelan.

“Tapi jika kalian bisa mengejar laju kudaku haha..,” tantang lantang Erda kepada empat orang kawanannya.

“Bagaimana ini?” tanya seseorang dari kawanan itu.

“Tentu saja kita harus mengejar dan mendahuluinya,” ungkap Torva lalu meloncat ke kudanya dan memacunya keras-keras.

Angin, udara, sejenak kebebasan ini. Sensasi itulah yang dalam waktu sekejap dirasakan oleh Erda Curve setelah melepaskan diri dari empat rekan pemburunya itu. Kehidupan di kastil dengan segala ritme dan keteraturannya telah mengantarkannya semenjak 5 hari terakhir pada limit kejemuan. Dan disinilah dia. Memacu kuda di hutan Fangeon. Merasakan kebebasannya. Berada pada chaos.
Memberontak dari sistem yang selama ini mengatur pola hidup kesehariannya. Tawanya belum pernah selepas ini. Ada letupan kebahagiaan yang menyeruak.

Sampai dia tidak tahu dimana posisinya kini berada. Sialnya hutan Fangeon ialah seperti labirin enigma. Hutan ini seperti memiliki intelegensi tersendiri. Dan menolak tunduk pada hukum alam yang berlaku. Dan kini Erda tersesat. Apa pilihan yang dimilikinya? Meminta tolong dengan berteriak, bukan opsi yang akan ditempuhnya. Dia akan menemukan jalan keluarnya sendiri. Maka Erda pun melajukan kembali kudanya sembari mengingat segala lekuk tanda dari pepohonan yang dilewatinya.

Pada bukaan jalan menurun ia bertemu kijang dengan mata tajamnya. Paling tidak aku akan pulang dengan kejutan menggotong kijang ini, pikirnya. Maka dia pun dengan gerakan perlahan turun dari kudanya. Merayap mendekat seolah tanpa jejak di tanah. Dalam jarak pandang yang dekat, Erda bersiap dengan panahnya. Busur yang siap untuk dilepaskan, berhitung, sensasi adrenalin. Semua itu langsung buyar ketika sebuah batu kerikil dilemparkan oleh seseorang hanya 50 cm dari kaki depan si kijang. Kijang pun berlari dengan cepat membuyar dari pandangan.

(Bersambung)

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s