Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Film

Jabat (Film Negeri 5 Menara)

Dalam hidup yang hanya sekali ini kita harus memilih. Pilihan yang mungkin tidak kita gandrungi awalnya. Namun seiring perjalanan waktu dan meniti pilihan itu, kita mengerti bahwa itulah yang terbaik. Sebuah pilihan yang tak dapat dilepaskan dari kuasa besar Sang Maha Pencipta. Mimpi dan pilihan hidup merupakan frasa yang menuansai film Negeri 5 Menara yang beranjak dari novel dengan judul yang sama. Dalam edisi novelnya dijelaskan bahwa Negeri 5 Menara merupakan karya yang terinpirasi oleh pengalaman penulis menikmati pendidikan yang mencerahkan di Pondok Modern Gontor. Semua tokoh utama terinspirasi sosok asli, beberapa lagi adalah gabungan dari beberapa karakter yang sebenarnya (A.Fuadi, Negeri 5 Menara: hlm.V).

Film Negeri 5 Menara dibuka dengan cerahnya alam Minangkabau. Alif dan Randai yang baru saja tamat SMP sedang bergembira ria dan mereka-reka rencana untuk mengenyam kuliah di ITB. Di lain pihak, amak (ibu) Alif menginginkan agar Alif melanjutkan pendidikan di pondok pesantren. Ia getir dengan keadaan pendidikan pesantren yang pada beberapa hal menjadi tempat pembuangan bagi anak-anak nakal. Ibaratnya benih, benih yang masuk dalam proses merupakan benih yang lemah dan bermasalah. Bagaimana kiranya masa depan umat jika para agamawannya bukanlah sosok yang cerdas dan memliki budi pekerti luhur. Amak (Lulu Tobing) berketetapan hati untuk memasukkan Alif (Gazza Zubizareta) ke pesantren. Bujangnya itu dipandang cerdas dan diharapkan dapat menjadi seperti Buya Hamka.

Penolakan pun muncul dari Alif yang ingin menjadi seperti B.J. Habibie. Ia ingin duduk di SMA, lalu melanjutkan di ITB. Resistensi dari Alif melunak ketika ayahnya mengajak Alif pergi di pagi hari untuk menjual sapi satu-satunya kepunyaan keluarga. Hasil dari penjualan sapi itu akan digunakan untuk biaya sekolah Alif di pondok pesantren yang berada di bilangan Jawa Timur tersebut. Ayah Alif yang diperankan dengan apik oleh David Chalik berfilosofi bahwa hidup itu harus dijabat. Ia menganalogikannya dengan penjualan sapi keluarganya yang melakukan transaksi di dalam sarung. Jika tidak dijabat, maka tidak akan mengetahui berapa harganya. Begitu pula dalam hidup, jabat, jalani kehidupan, dan tidak melihat dari luarnya saja.

Alif pun akhirnya menuruti keinginan orang tuanya berangkat ke tanah Jawa. Begitu sampai di Pondok Pesantren Gontor, banyak kiranya orang tua dan calon murid yang bersiap untuk mendaftar. Setelah bermalam, keesokan harinya Alif dengan berbekalkan pena warisan keluarga menghadapi ujian masuk. Sempat terbersit untuk menggagalkan ujian dengan menjawab salah, namun ketulusan dan harapan sang ayah yang berada di luar ruang ujian kembali meluruskan konsep pikir Alif. Alif pun lulus dan akan menjalani 4 tahun masa pendidikan di Pondok Pesantren yang telah banyak menghasilkan tokoh nasional tersebut.

Rupa-rupa dinamika kehidupan pesantren pun mulai dijalani oleh Alif Fikri. Seperti misalnya dalam pelajaran yang didapatinya dari kelas yang diajar oleh ustad Salman (Donny Alamsyah). Setelah mengucapkan salam dan menuliskan namanya, ustad Salman memperlihatkan pelajaran dengan melalui tindakan. Ia membawa samurai tumpul dan batang pohon. Dihantamkannya samurai tumpul itu berkali-kali ke batang pohon. Tentu saja dikarenakan samurai yang dipakai tumpul, bukan hal mudah untuk membelah batang pohon itu. Namun konsistensi dan usaha keras dengan menggunakan samurai tumpul tersebut akhirnya dapat membelah batang pohon tersebut. Filosofi dari laku eksebisionis tersebut untuk menarasikan mantera ajaib yakni man jadda wajada: “Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil!”

Rupanya filosofi ayah Alif berupa jabat, benar berlaku adanya. Ketika menjalani kehidupan di pesantren Gontor banyak hal-hal tak terduga dan menarik yang dialaminya. Mulai dari hukuman jewer berantai, aktif di majalah Syams, makan bersama-sama, disiplin, ragam pelajaran yang mengisi kognitif dan menguatkan mental, hingga cinta sederhana anak muda. Jika dikomparasikan dengan novelnya, memang kisah Negeri 5 Menara ini merupakan fragmen-fragmen dari kehidupan Alif (A.Fuadi) di pesantren. Fragmen-fragmen ini masing-masing memiliki makna pembelajaran dan konsep keberartian.

Namun sayangnya dalam versi film, kehidupan pelajaran internal tidak ter-cover dalam cerita. Padahal menarik kiranya untuk membidik pelajaran langsung di dalam kelas. Dalam novel Negeri 5 menara, hal tersebut terbidik diantaranya melalui hal berikut:

Inilah repotnya, jadwal dan kewajibanku padat sekali. Ada hapalan mahfudzhat, lalu tugas membuat kalimat lengkap, tugas pramuka, belum lagi baju bersihku telah habis dan harus segera dicuci. Kapan aku punya waktu untuk menulis naskah pidato yang harus melalui riset pustaka? Dalam bahasa Inggris lagi (A.Fuadi, Negeri 5 Menara: hlm.150)

Atau dari pernyataan Atang yang melakukan komparasi dengan bangku SMA:

“Lif, cobalah kau dengar baik-baik. Memang SMA itu masa yang indah. Dunia setiap hari adalah dunia yang indah, senang dan gembira. Kita cuma agak stres kalau mau ujian saja. Selebihnya adalah bermain. Kalau di PM, setiap hari kita seperti ujian,” kata Atang menerawang sambil tersenyum (A.Fuadi, Negeri 5 Menara: hlm.157).

Antara Negeri 5 Menara dan Laksar Pelangi

Sukar untuk tidak membandingkan Negeri 5 Menara dengan Laskar Pelangi. Ada kesamaan antara keduanya, mulai dari beranjak dari kehidupan personal, nilai-nilai persahabatan, meneropong dunia pendidikan, menyajikan Indonesia yang berbeda dengan kacamata keseharian yang biasa kita dapati di layar televisi. Maka ketika saya pertama kali membaca novel Negeri 5 Menara, di benak pemikiran saya ada studi pembanding yakni Laskar Pelangi. Dan manakiranya yang menurut saya lebih unggul antara kedua karya ini? Dengan bulat hati saya katakan yakni Laskar Pelangi, baik secara novel dan film.

Secara novel, menurut hemat saya Laskar Pelangi memiliki kedalaman cerita, keliaran dan keliatan dalam kata, serta mampu menghidupkan imajinasi dengan begitu aktif. Dalam analisa saya, komparasi novel Laskar Pelangi dan Negeri 5 Menara tak dapat dilepaskan dengan latar belakang pengarangnya. Andrea Hirata tidak melewati basis pelajaran penulisan yang ketat semasa hidupnya. Ia lebih belajar otodidak. Namun itulah kelebihan dan eksplosivitasnya. Ia tidak terkungkung pada kotak-kotak aturan penulisan ataupun jurnalisme. Ia bebas bereksplorasi dan meletupkan imajinasinya dalam kata. Berbeda kiranya dengan A.Fuadi, ia semenjak muda merupakan sosok yang telah berkecimpung di dunia tulis menulis. Ketika di Pondok Pesantren Gontor, ia bergabung di majalah Syams, lalu ketika melanjutkan di Hubungan Internasional Unpad dia juga bergabung dengan majalah kampus Polar dan menulis beberapa artikel di koran. A.Fuadi juga belajar di Hubungan Internasional yang tentunya mengharuskan dia berakrab-akrab dengan menulis. Ketika berkecimpung di dunia kerja, ia juga berkiprah di dunia menulis dengan menjadi wartawan Tempo dan VOA. Rekam jejak menulis inilah yang menurut hemat saya membuat novel Negeri 5 Menara terlalu rapi untuk ukuran novel. A.Fuadi seperti menarasikan berita dalam novel Negeri 5 Menara. Kejutan dan drama menjadi sesuatu yang kurang dalam adonan novel yang tercatat sebagai best seller dan menerima penghargaan sebagai Buku dan Penulis Fiksi Terfavorit 2010 dari Anugerah Pembaca Indonesia.

Sedangkan dalam versi film layar lebarnya, harus saya akui bahwa peak dari film yang disutradarai oleh Affandi Abdul Rachman ini hanya terdapat hingga ayahnya Alif berpisah dengan Alif dan kembali ke kampung. Setelah itu relatif datar-datar saja film ini secara keseluruhan. Pada bagian ending, memang terlihat upaya untuk menaikkan tensi dengan membangun konflik dan menyajikan drama. Namun sayangnya dalam eksekusi hal tersebut tidak berjalan dengan optimal. Meski begitu film Negeri 5 Menara ini mampu menyajikan Indonesia yang berbeda dari keseharian lalu lintas televisi kita. Indonesia yang tidak sekedar sosok tampan dan cantik dengan kekayaan yang meluap-luap. Indonesia yang lebih dekat dengan keseharian dan realitas. Inilah kiranya Indonesia yang menurut hemat saya layak ditampilkan. Sebuah Indonesia yang kita jabat, bukan segala pupur dan gincu komersialisme yang melilitkan selendangya di nama Indonesia.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Film

Isaac Mendez

Lukisan yang dapat mengungkap tabir masa depan, begitulah kiranya tesis yang ditawarkan dari buah karya pelukis Isaac Mendez. Isaac Mendez dalam serial Heroes volume 1 merupakan sosok yang menjadi poros dalam jaring laba-laba besar yang mengkoneksi tokoh demi tokoh dari serial yang disutradarai oleh Tim Kring ini. Isaac Mendez yang diperankan oleh Santiago Cabrera dengan lukisannya men-drive, memberikan warning, akan masa mendatang. Yang menjadi permasalahannya ialah masa mendatang yang dinujumkan ialah tragedi. New York diramalkan dalam lukisan akan mengalami ledakan besar yang akan melumatkan segala pencapaian dan manusia yang berdiam di kota big apple ini.

Serial Heroes volume 1 menurut hemat saya merupakan seri yang paling impresif dalam menjaga alur dan koneksi antar tokoh serta dengan penontonnya. Penimat serial yang ditayangkan oleh Star Movies ini dibawa ke “titik akhir” yakni ledakan di kota New York. Bagaimana para protagonis berusaha untuk menggagalkan big explosion yang dapat menewaskan 0,07 % penduduk bumi tersebut. Para tokoh protagonis berjuang mencari makna dan terkoneksi satu sama lain dengan misi yang dibentuk oleh lukisan Isaac Mendez ini.

Isaac Mendez sendiri digambarkan sebagai seniman yang harus mengkonsumsi narkotika untuk menghasilkan karya. Narkotika dan seniman merupakan kata yang kerap berkelindan. Hal tersebut mungkin terkait dengan keharusan sebuah karya untuk menjadi distingsi dan membawa semesta pembuatnya kepada publik. Sang pembuat harus berada pada “dunia yang berbeda” dalam proses kreatifnya. Isaac Mendez yang doyan teler narkoba inipun selepas “meninggi” mendapati di hadapannya lukisan yang menujumkan masa depan. Sebuah visi yang menggoda dan dapat mengelabui.

Terkait narkotika dan proses kreatif pada akhirnya Isaac Mendez berhasil melepaskan ketergantungannya pada psikotropika tersebut setelah dibantu oleh Eden (Nora Zehetner). Awal mulanya seperti para pecandu, Isaac mengalami kesakitan dan gagal untuk menggoreskan gambar barang setitik pun. Dorongan semangat dari Eden plus upaya dari Isaac Mendez akhirnya membawa Isaac mampu melukiskan masa depan tanpa bantuan narkotika. Ia telah menjadi orang yang bersih.

Apa yang ditawarkan oleh Isaac Mendez dalam lukisannya? Anugerah atau kutukan? Mengetahui masa depan bukanlah perkara yang sekedar ulang alik waktu dan menarik garis lurus waktu. Ada konsep tabir yang sewajarnya tetap tersembunyi. Tersimpan sebagai enigma yang kuncinya akan terbuka seiring waktu yang telah tiba. Dalam kisah fiksi fantasi, kita mendapati kemampuan melihat masa depan ini misalnya dalam kisah Harry Potter dengan Profesor Trelawney ataupun Percy Jackson dengan Oracle. Potongan bocoran masa depan membawa Severus Snape pada penyesalan terbesar dalam hidupnya; sedangkan ramalan dari Oracle merupakan sebuah kalimat bersayap yang baru terungkap ketika telah dijalani. Masa depan sekalipun “telah dilihat” selalu memiliki area abu-abu dan enigmanya.

Lukisan Peter Petrelli yang terkapar salah satu bukti area abu-abu dan enigma itu. Nathan Petrelli (Adrian Pasdar) sang kakak, menyembunyikan potongan lukisan yang kiranya menjadi sinyalemen tewasnya sang adik yang memiliki kemampuan untuk mengusai kekuatan istimewa dari orang-orang terpilih dengan menyentuhkan tangannya saja. Alkisah, Peter Petrelli (Milo Ventimiglia) akhirnya mengetahui tentang nubuat dirinya yang terkapar dengan genangan darah, kaki yang terpelintir, dan waktu penunjuk yang menerangkan kejadian. Peter Petrelli yang percaya bahwa kemampuan istimewanya harus dimanfaatkan untuk kebaikan, telah mendapatkan pesan dari Hiro Nakamura. Pesan itu adalah “Save the Cheerleader, Save the World”.

Peter Petrelli tahu bahwa sang antagonis Sylar sedang mengicar kekuatan mereka-mereka yang memiliki kekuatan istimewa. Peter Petrelli harus menyelamatkan sang cheerleader (Claire Bennet) untuk menyelamatkan dunia, meski dia tahu benar bahwa taruhannya ialah kematian dirinya. Ramalan lewat lukisan Isaac Mendez tentang kematian Peter Petrelli dan sebuah misi “Save the Cheerleader, Save the World”, mana yang dipilih oleh Peter? Ia akhirnya memilih untuk menyelamatkan sang cheerleader dengan ramalan akhir dari hidupnya. Peter Petrelli bertemu dengan Claire Bennet (sang cheerleader yang memiliki kemampuan memulihkan diri). Dan Peter bertempur dengan Sylar. Setelah bergulat di atap, persis seperti yang diramalkan dalam lukisan, Peter Petrelli terjatuh dengan genangan darah, kaki yang terpelintir, waktu yang tepat menunjukkan kejadian.

Namun Peter Petrelli tidak mati. Ia tetap hidup karena sebelumnya telah menduplikasi kemampuan Claire Bennet (Hayden Pannetierre) yang dapat memulihkan diri. Meminjam terminologi dari kisah Hugo, bahwa jika seluruh dunia ini adalah sebuah mesin yang besar, aku pasti berada di sini untuk tujuan tertentu (Brian Selznick, The Invention of Hugo Cabret: hlm.388). Mungkin itulah kiranya fungsi dan raison d’etre dari Isaac Mendez. Dia bukanlah sang protagonis utama yang menyelamatkan New York dari kemusnahan. Namun Isaac Mendez merupakan bagian dari kelompok yang sekuat daya untuk mencegah kemusnahan massal tersebut. Ia memainkan perannya untuk mempertautkan para pahlawan yang terpencar di berbagai titik di bumi. Melalui karyanya dalam komik 9th Wonders!, ia mendamparkan Hiro dan Ando dari Jepang ke Amerika; melalui lukisannya, ia meneguhkan tekad Peter Petrelli untuk menempuh jalur kepahlawanan.

Bagaimana kiranya jika Anda melukiskan kematian dari Anda sendiri? Itulah kiranya yang terjadi pada sosok Isaac Mendez. Ia melukiskan nubuat tentang kematiannya. Sebuah kematian yang tragis dan menyakitkan, karena sang pembunuh membelah kepala sang korbannya. Di studio tempatnya bekerja dan tinggal, Isaac Mendez mendapatkan lukisannya menemui ajal. Bukan hal mudah pastinya. Namun kematian memang tak dapat dihindarkan bahkan ketika berada pada dinding-dinding kastil yang tinggi. Kematian adalah kepastian, dan telah siapkah untuk menghadapinya yang menjadi tanda tanya besar.

Sylar (Zachary Quinto) sang antagonis yang mengusai telekinesis akhirnya datang ke apartemen Isaac Mendez. Sylar yang dingin dan kejam membunuh Isaac Mendez tanpa ampun. Dan di lain pihak Isaac Mendez telah bersiap untuk hadirnya kematian yang tiba.

Masa depan, ramalan, dan segala ketidakpastian itu. Pada akhirnya spektrum kebermaknaan kita yang akan memberikan definisi. Setiap kali tahun baru, maka ramalan-ramalan akan menyeruak ke panggung publik. Beberapa sumir, beberapa optimis. Beberapa merupakan ramalan penuh gincu dan pupur, beberapa merupakan ramalan yang berangkat dari data dan fakta kemungkinan. Yang jelas masa depan memberikan sebuah imajinasi, possibility, area abu-abu. Namun seberapa nelangsanya ramalan yang ada, kita pulalah yang memilih untuk menghadapinya dan menjalaninya. Karena sesungguhnya masa depan direbut hari ini. Dan mungkin dengan misi besar dan alasan hidup, kita akan berani menghadapi ramalan segetir apapun seperti yang dijalani Peter Petrelli dan Isaac Mendez.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Film

Cita Rasa Amerika di Mars (Film John Carter)

Benarkah ada kehidupan lain di luar bumi? Tesis itulah yang ditawarkan dalam kisah John Carter. Mars, planet merah yang memiliki kedekatan dengan bumi, serta hingga saat ini masih dipertanyakan dapatkah menjadi wilayah hunian bagi manusia. Mars menjadi setting dari kisah John Carter. Dinarasikan Mars atau dikenal dengan nama Barsoom dikuasai oleh kota Zodanga (disimbolkan dengan warna merah) yang destruktif. Sedangkan kota Helium (disimbolkan dengan warna biru) merupakan kelompok oposan yang menjadi kerikil dalam sepatu dan terus melakukan perlawanan terhadap Zodanga. Perlawanan yang masih ketat, hingga Sab Than pemimpin Zodanga mendapatkan senjata (the “Ninth Ray”) dari Therns (para tetua pemuja dewi) yang merubah konstelasi pertempuran.

Sementara itu di bumi, John Carter (diperankan Taylor Kitsch) yang kaya raya dikabarkan “meninggal”. Dia lalu meninggalkan warisan dan sebuah buku catatan kepada keponakannya Ned (Daryl Sabara). Melalui buku catatan itulah terkoneksilah alur cerita yang menghubungkan John Carter yang lahir di bumi dengan tempat singgahnya kemudian:Mars. Setting waktu dari buku catatan dimulai pada tahun 1868 ketika Amerika Serikat masih dilanda dengan perang antara Utara-Selatan dan pertikaian dengan penduduk asli Amerika yakni kaum Indian. John Carter yang memiliki rekam jejak menakjubkan ingin direkrut kembali untuk menjadi tentara. Kiranya John Carter dapat menjadi distingsi dalam pertempuran yang menguras waktu, biaya dan tenaga tersebut.

Alkisah John Carter melarikan diri dari tuntutan menjadi tentara dan di tengah pelariannya ia tiba di gua laba-laba. Menelusuri ke dalam gua, John Carter bertemu dengan salah seorang Therns yang melakukan perjalanan antar planet. Setelah melalui pertempuran singkat, tembakan pistol dari John Carter menghabisi nyawa dari Therns tersebut. John Carter mendapatkan medali yang ternyata merupakan sarana untuk melakukan travelling lintas planet. Dengan mengucapkan kata Barsoom tibalah John Carter di planet Mars (atau dikenal dengan nama Barsoom).

Gravitasi yang berbeda di Mars dan kepadatan tulang yang lebih kohesif membuat John Carter memiliki kemampuan untuk meloncat tinggi. Hal yang dipandang istimewa oleh bangsa Tharks yang mendiami planet Barsoom. Bangsa Tharks sendiri secara tampilan merupakan hibrida dari manusia dan hewan. Hal yang mengingatkan saya pada bangsa Na’vi di film Avatar (2009). Bangsa Tharks lebih tinggi dari manusia, memiliki empat tangan, dan memiliki tradisi bertempur. Tradisi survival of the fittest terkonfirmasi dengan bayi-bayi lemah yang dihabisi serta pertarungan di tempat seperti amphiteater selayaknya Gladiator di masa Romawi.

John Carter tertangkap oleh bangsa Tharks dan dijadikan tahanan, serta diberikan pelindung yakni Sola (Samantha Morton). Rekanan dari John Carter untuk kemudian juga binatang yang seperti anjing yang selalu dapat menemukan kemanapun John Carter pergi. Rekanan John Carter berikutnya ialah Dejah Thoris (Lynn Collins) yang merupakan putri dari Helium. Dejah merupakan seorang professor dan ahli tarung yang semula ingin dinikahkan dengan Sab Than (Dominic West) pemimpin Zodanga. Pernikahan politik ini merupakan pilihan pahit mengingat kekalahan nyata yang diterima akibat senjata yang dimiliki oleh Sab Than telah meluluhlantahkan armada dari Helium.

John Carter yang menjadi tahanan dari bangsa Tharks untuk kemudian mengalami mobilitas vertikal yang pesat. Hal ini tak bisa dilepaskan dari ketertarikan pemimpin bangsa Tharks yakni Tars Tarkas (Willem Dafoe) terhadap John Carter. John Carter sendiri telah menunjukkan kemampuan bertarungnya ketika menyelamatkan Dejah yang terkepung oleh pasukan Zodanga. John Carter melakukan lompatan jauhnya (yang mengingatkan saya pada efek serupa pada film Spiderman dan Hulk) dan bertarung dengan spartan. John Carter akhirnya diangkat menjadi tangan kanan Tars Tarkas.

Intrik politik di bangsa Tharks untuk kemudian membawa perubahan kepemimpinan di pucuk tertinggi. John Carter, Dejah, Sola, dan binatang yang mirip dengan anjing, harus menempuh perjalanan ke tempat sakral di Barsoom dengan melewati River Iss. Tujuannya untuk menemukan informasi agar John Carter dapat kembali ke bumi. Mereka pergi sebagai pelarian karena sejatinya telah dianggap menghina kesucian gua bangsa Tharks dengan memasuki tempat suci tersebut dan menginterpretasikan lukisan di dinding gua. Perjalanan tim kecil inipun dimulai. Dan seperti lazimnya film khas Amerika, benih-benih rasa antara John Carter dengan Dejah semakin bersemi dan teruji di perjalanan.

John Carter dan Dejah setelah melalui perjalanan melelahkan tiba di tempat sakral yang berada diantara deretan tebing. Benar kiranya apa yang dikatakan oleh John Carter bahwa dirinya berasal dari bumi (Jarsoom). Itu kiranya kesadaran yang didapatkan oleh Dejah. Sebuah kesadaran bahwa hakikat rasa mereka beranjak dari tempat lahir yang terpisah sekian puluh kilometer. Mereka berdua pun keluar dari tempat sakral tersebut, karena untuk memecahkan enkripsi yang ada, Dejah harus kembali ke Helium untuk mendapatkan referensi yang kokoh. Begitu keluar, mereka telah ditunggu oleh gerombolan bangsa Tharks di bawah pimpinan Tal Hajus (Thomas Haden Church).

Kejar-kejaran pun terjadi. Dan sampailah John Carter pada mozaik ingatannya yang hilang. Ia mendapati bahwa anak dan istrinya di bumi telah mati. Hal itulah yang menjelaskan dua cincin di jarinya. Sengatan ingatan tersebut membuat John Carter benar-benar spartan dan nothing to lose untuk bertarung melawan kepungan bangsa Tharks. Hanya dibantu oleh binatang yang setia menemaninya, John Carter menghadapi ras petarung. Dan lagi-lagi gaya Amerika yang “heroik” dan sendirian menghadapi bertumpuk-tumpuk musuh. Pada akhirnya Dejah dan John Carter berhasil ditangkap, sedangkan Sola dan binatang serupa anjing berhasil meloloskan diri.

Pernikahan politik antara Sab Than dengan Dejah pun mengalami masa persiapan. Sementara John Carter yang ditawan berhasil lolos berkat bantuan dari pengawal pribadi Dejah yang berasal dari Helium. Setelah berkelit dari kejaran, John Carter melakukan lompatan yang teramat jauh dan membawanya ke tempat Dejah yang sedang didandani untuk hari pernikahannya. John Carter dan Dejah berbicara empat mata dan Dejah telah berhasil memecahkan enkripsi perjalanan lintas planet. Sementara di luar pintu gedoran dari Sab Than semakin menguat. John Carter berada pada dilema kembali ke bumi atau memperjuangkan rasa dan bertarung bersama untuk menyelamatkan Helium. Tentu saja Anda sudah dapat mengira tebakan ini jika mengambil referensi standar dari film besutan Amerika.

John Carter yang memilih untuk tinggal di planet Barsoom (Mars) telah berketetapan hati untuk berjuang dan memenangkan cintanya. Saya rasa cukup sampai disini alur cerita yang saya ungkap. Alur cerita sisanya dapat Anda lihat di bioskop ataupun melalui dvd. Yang jelas secara garis besar, saya mendapati film ini mengingatkan saya akan film Avatar yang menangguk sukses besar pada tahun 2009. Kesamaan itu terkonfirmasi dari science fiction, varian makhluk, planet selain bumi, bahasa dan budaya yang berbeda. Namun sayangnya dalam film John Carter ini acting dari para pemerannya hanya standar saja dan tidak istimewa.

Acting standar dan heroisme ala Amerika menjadikan adonan dalam film John Carter ini menjadi kurang menarik untuk disajikan. Meski harus diakui nuansa yang diciptakan melalui teknologi komputer cukup menarik dan memikat, namun penghayatan karakter dan cita rasa pahlawan ala Amerika membuat verdict akhir saya terhadap film ini yah lumayan. Carl Sagan dalam bukunya Kosmos menyatakan bahwa alam semesta tidak menunjukkan rahasianya sekaligus. Jalaluddin Rumi pernah berfilsafat, keterpisahan ini adalah tipudaya ruang dan waktu. Nampaknya film John Carter ini bergerak pada pendulum makna yang diutarakan oleh Carl Sagan dan Jalaluddin Rumi tersebut.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Film

Tujuan (Film Hugo)

Waktu dapat menipu kita.

Dalam sekejap mata, bayi-bayi muncul di kereta-kereta mereka, peti mati menghilang di dalam tanah, orang menang dan kalah perang, dan anak-anak berubah, seperti kupu-kupu, menjadi dewasa.

Itulah yang terjadi padaku.

Dahulu, aku adalah bocah bernama Hugo Cabret, dan aku mati-matian percaya bahwa sebuah automaton akan menyelamatkan hidupku. Sekarang setelah kepompongku hilang dan aku muncul sebagai pesulap bernama Profesor Alcofrisbas, aku dapat melihat ke belakang dan mengatakan bahwa aku benar. Automaton yang ditemukan ayahku benar-benar telah menyelamatkanku.

(Brian Selznick, The Invention of Hugo Cabret: hlm.519-520)

Beranjak dari novel The Invention of Hugo Cabret dibuatlah film yang berjudul Hugo. Dalam versi novelnya, beberapa penghargaan telah diraih diantaranya New York Times Best Illustrated Book of 2011, Quill Award, Los Angeles Times Favorite Children’s Book of 2007, Caldecott Medal 2008. Sedangkan dalam versi filmnya, Hugo mendapatkan beberapa penghargaan diantaranya Best Achievement in Visual Effects, Best Achievement in Cinematography, Best Achievement in Sound Mixing dalam piala Oscar tahun 2012. Cerita Hugo berintikan tentang tujuan. Jika dipadatkan dalam tesis utama yakni (Brian Selznick, The Invention of Hugo Cabret: hlm.388): Kamu tahu, tidak pernah ada bagian yang berlebih dalam sebuah mesin. Jumlah dan jenis setiap bagiannya tepat seperti yang mereka butuhkan. Jadi kupikir, jika seluruh dunia ini adalah sebuah mesin yang besar, aku pasti berada di sini untuk tujuan tertentu. Dan itu berarti, kamu berada di sini juga untuk tujuan tertentu.”

Hugo merupakan anak berusia 12 tahun yang tinggal di apartemen si Penjaga Waktu di stasiun kereta api. Ia tinggal bersama dengan automaton yang ditemukan ayahnya di loteng museum. Ayahnya sendiri yang seorang pembuat jam (horologis) meninggal dunia dalam sebuah kebakaran di museum tempatnya bekerja. Hugo lalu dibawa oleh pamannya Claude yang pemabuk dan ditinggalkan sendirian untuk memelihara seluruh jam yang ada di stasiun kereta. Adapun benda yang menjadi koneksi antara Hugo dan ayahnya ialah sebuah automaton yang rusak. Hugo beranggapan bahwa pastilah ayahnya menuliskan pesan melalui automaton tersebut. Automaton tersebut bagi Hugo bukan sekedar mesin, melainkan arti dan tujuannya. Berbekal buku catatan yang ditulis dan digambarkan oleh ayahnya, Hugo berusaha untuk memperbaiki automaton tersebut agar dapat berfungsi kembali.

Untuk dapat berfungsi kembali, Hugo membutuhkan berbagai perangkat mesin. Hal inilah yang membuat dia mencuri dari toko mainan milik Georges. Namun di kisah awal dari film Hugo ini, Hugo tertangkap tangan sedang berusaha mencuri. Kakek Georges sang pemilik toko mainan memergokinya dan menyita seluruh perangkat curian dari Hugo dan yang terpenting ialah buku catatan milik ayah Hugo. Sebuah buku catatan yang diistilahkan oleh kakek Georges sebagai hantu ketika melihat gambar di dalamnya.

Bagi Hugo buku catatan itu merupakan peta untuk memperbaiki automaton sekaligus harapan dan tujuannya. Ia pun mengikuti si pria tua tersebut hingga sampai ke apartemennya. Setelah menimpuk kaca jendela dengan salju, Hugo bertemu dengan Isabelle anak angkat dari Georges. Isabelle berjanji akan berusaha untuk mendapatkan buku catatan itu kembali. Keesokan harinya Hugo yang masih berkeras untuk mendapatkan kembali buku catatannya kembali menemui kakek Georges. Kakek Georges memberi sapu tangan yang di dalamnya berisi abu sisa pembakaran. Menurut pria tua itu, buku catatannya telah dibakar. Hugo yang remuk redam berpapasan secara tidak sengaja dengan Isabelle. Isabelle menenangkan gulana Hugo dengan menyatakan bahwa buku catatan tersebut tidak dibakar.

Bersama Isabelle yang seorang kutu buku, Hugo menjalani petualangannya. Berawal dari titik mula menemukan buku catatan, hingga akhirnya menemukan makna tentang tujuan dan arah kehidupan. Film Hugo sendiri didukung oleh beberapa nama yang telah tersohor dan memiliki kualitas akting mumpuni. Melihat Monsieur Frick (Richard Griffiths) si penjual koran harian dan Madame Emile (Frances de la Tour) si pemilik kafe, tentu Anda telah mengenal mereka sebagai bagian dari film Harry Potter. Richard Griffiths bermain sebagai paman Vernon di film Harry Potter, sedangkan Frances de la Tour bermain sebagai Madame Maxime. Meski keduanya lebih sebagai cameo, namun kehadiran mereka cukup menghibur. Akting dari dua bintang muda pemeran utama dalam film Hugo juga impresif. Hugo Cabret(Asa Butterfield) mampu memerankan sebagai anak yang kesepian, merindukan persahabatan, jago mekanik, dan mencari tujuan hidup. Sedangkan Isabelle (Chloe Grace Moretz) diperankan dengan aksen bahasa yang sengau (khas Perancis), kutu buku, menyukai tantangan. Georges Melies (Ben Kingsley) mampu menghadirkan nuansa nelangsa, kegembiraan imajinasi.

Ada beberapa perbedaan memang antara film dengan versi bukunya. Dalam versi bukunya ada Etienne yang merupakan sahabat Isabelle dan merupakan murid dari Rene Tabard. Dalam versi filmnya Etienne tidak hadir. Distingsi lainnya yakni dalam versi filmnya, Inspektur Stasiun (diperankan oleh Sascha Baron Cohen) mendapatkan porsi yang lebih dibandingkan dengan versi bukunya. Inspektur Stasiun versi film saya percaya menjadi magnet daya tarik yang menarik. Sekilas dia terlihat seperti tokoh antagonis, namun sesungguhnya peran yang dimainkan dengan apik oleh Sascha Baron Cohen ini memiliki tujuan dan mampu menampilkan sisi humanis.

Menonton film Hugo terasa amat menyegarkan dan memiliki distingsi yang tegas dari berbagai film lainnya. Dari segi sinematografi, mata Anda akan benar-benar dimanjakan dengan gambar-gambar yang memukau. Terkadang menampilkan kecerahan dan warna ceria, di lain kesempatan akan menggambarkan nelangsa dan kesuraman. Dari segi tata musik, Anda akan dibawa pada nuansa Perancis tahun 1930-an. Ketukan-ketukan berirama yang ceria dan menghangatkan jiwa.

Film Hugo juga akan memantik kesadaran sejarah kita tentang sinema. Kita akan dikenalkan pada sosok jenius bernama Georges Melies yang membuat film A Trip to the Moon (Le Voyage dans la lune). Dengan A Trip to the Moon (1902), Melies menciptakan cerita pertama dalam sejarah perfilman. Dibuat berdasarkan tafsiran bebas atas novel Jules Verne, film ini merupakan fiksi sains banyolan, dan astronot-astronotnya adalah pria-pria tua bertopi tinggi yang terbang ke bulan dengan kapsul luar angkasa yang terbuat dari baja. Film ini merupakan film fiksi sains bisu paling terkenal, meski bukan yang pertama (Mark Wilshin, Fiksi Sains & Fantasi: hlm.6).

Melalui film Hugo kita mendapatkan bagaimana dapur dari pembuatan film tempo dulu. Sebuah mesin pembuat mimpi. Georges Melies merupakan salah satu orang pertama yang menunjukkan bahwa film tidak harus selalu mencerminkan kehidupan nyata. Ia segera menyadari bahwa film memiliki kekuatan untuk mewujudkan mimpi (Brian Selznick, The Invention of Hugo Cabret: hlm.364-365). Salah satu frasa yang masih terngiang di benak saya ialah yang diucapkan oleh kakek Georges bahwa happy ending hanya terjadi di film. Tentunya pada akhirnya film berakhir, layar diturunkan, kita semua kembali ke tempat peraduan masing-masing. Dan kitalah masing-masing yang dapat menjawab apakah happy ending hanya terjadi di film? Apakah kita memiliki kekuatan untuk mewujudkan mimpi? Apakah tujuan dari kehadiran kita di bumi ini? Ya kita masing-masinglah yang dapat menjawab dan membuktikannya.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Resensi Buku

Salju Merah (Resensi Buku In The Name of Wish)

Judul Buku: In The Name of Wish
Penulis: Rendi [.Re]
Penerbit: well + done
Cetakan: Januari 2012
Tebal: 73 halaman

Mengenal penulisnya secara personal dan mengetahui rekam jejak karyanya membuat saya berada pada pendulum harapan ketika menerima buku In The Name of Wish di bilangan Plaza Senayan. Penulisnya (Rendi) sendiri menurut hemat saya merupakan sosok yang sukar untuk diam dan memiliki energi yang meletup-letup. Bentang karyanya sepanjang pengetahuan saya membentang mulai dari cerpen, light novel, novel, ilustrasi, komik, dan puisi. Sekurangnya itulah rentang karya yang pernah dibuat oleh alumnus Kriminologi Universitas Indonesia ini. Korelasi pertemanan dan kompetensi di berbagai ranah fiksi fantasi itulah yang membuat saya ketika memiliki ide untuk mengusung komunitas yang berbasiskan fiksi fantasi (Kaldera Fantasi-Kalfa), tanpa pikir panjang mengamit Rendi untuk ikut menjadi pendiri dan mewarnai rancang bangun dan pengembangannya.

Buku In The Name of Wish memiliki sinopsis sebagai berikut: Kota Scutleiss akan mengadakan Pertunjukan Salju untuk pertama kalinya. Velicious Drakhmann, sebagai Penjaga Keamanan Kota mencurigai ada yang salah dengan Pertunjukan ini. Bersama dengan Vita Italita, pelayannya, Ia melaporkan temuannya pada Gubernur Loban. Dan seperti yang ia duga, Gubernur menolaknya. Maka Drakhmann mulai menjalankan rencananya sendiri walau tahu akan dirinya sedang dimata-matai dan hendak dijauhkan dari pekerjaannya. Meski begitu, Sabotase Pertunjukan harus dilakukan demi keamanan Scutleiss…walau harus mengorbankan sesuatu yang berada di dekatnya.

Meninjau dari tampilan cover dan sinopsis, sekurangnya saya mendapati dua ide, yakni roman dan intrik politik. Bahasa gambar roman dapat dilihat di cover depan dengan Vita dan Drakhmann yang saling berpunggungan. Sedangkan konsep roman dalam sinopsis tertera dalam frasa “walau harus mengorbankan sesuatu yang berada di dekatnya”. Nuansa intrik politik terdefinisikan di cover belakang dengan gambar pedang yang berlumuran darah. Dalam sinopsis hal tersebut tertegaskan dalam idiom “ada yang salah dengan Pertunjukan ini” dan “Sabotase Pertunjukan”. Intrik politik yang membuat salju memerah.

Novel In The Name of Wish ini menurut hemat saya memiliki beberapa titik cabe. Baiklah akan saya uraikan. Banyak data dan istilah yang disajikan tanpa penjelasan yang berarti. Semisal Tahun 1645 S, Benua Sol Tengah, Eau dan Syllph, R-Knight, Fathia S. Konsep-konsep unfamiliar tersebut menurut hemat saya alangkah eloknya untuk dijelaskan, mungkin dalam bentuk glossarium. Hal tersebut akan membuat pembaca dapat menangkap definisinya dan mengaitkan dengan alur ceritanya.

Titik cabe berikutnya ialah pada adegan pertempuran yang kurang menggigit. Narasi pertempuran, dan nuansa pertempuran digambarkan dengan terlalu singkat dan kurang imajinatif. Berikut saya kutipkan (Rendi, In The Name of Wishes: hlm.54):

Satu tusukan lurus menembus leher salah satu Mentalist terdekat. Lenguhan pendek terdengar bersamaan dengan rubuhnya tubuh itu. Kejang-kejang. Napasnya masih ada meski hanya sesenggukan. Tidak ada darah tercecer. Seolah luka itu langsung tertambal setelah Rapier dicabut.

Kerusuhan selesai dengan cepat. Para Mentalist sudah bergelimpangan pingsan di lantai. Beberapa dari mereka masih bisa mengerang tapi dengan satu tusukan dari Drakhmann maka tiada lagi suara terdengar. Hening.

Menurut hemat saya dengan komplotan Mentalist yang bertarung dengan Drakhmann, maka ini dapat menjadi aksi sekaligus peak, namun sayangnya itu tidak terjadi. Padahal bahan baku untuk pertempuran cukup menarik, yakni para Mentalist yang berhadapan dengan Mentalist jenius (Drakhmann). Apalagi jenis pertarungan yang disajikan merupakan domain yang berbeda dari pertempuran biasa. Adapun adegan pertempuran yang layak menjadi referensi sepanjang pembacaan pustaka saya ialah Nagabumi dan The Bartimaeus Trilogy. Pertempuran di kedua contoh yang saya sebutkan tersebut, memikat dalam aksi dan memiliki nilai drama yang impresif.

Hal yang mengusik saya berikutnya ialah mengenai penggunaan puisi, pantun, dan gurindam dalam fase pertempuran. Saya tidak mendapatkan penjelasan dan korelasi mengenai mengapa terminologi sastra tersebut dapat berpadu dengan aksi pertarungan. Berikut saya kutipkan (Rendi, In The Name of Wishes: hlm.51-53):

Mentalist yang kalap justru merapal satu tingkat lebih tinggi: Pantun. Air menggeliat di udara, berubah menjadi Dakuda Laut dan meliuk mempertontonkan cakar tajam sebesar.

Ia merapal Gurindam imbuhan dan melempar pisaunya.

Drakhman mengulur waktu dengan pantun pertahanan. Ia mengeraskan air menjadi balok-balok es dengan pemahaman titel E dari Eau’ dan dengan Syllph, ia mengatur gerak balok es di udara.

Dua puluh! Mereka meracau pantun.

Dan titik cabe yang fundamental ialah saya tidak mendapatkan makna utama yang ingin disampaikan oleh penulis. Penulis dalam hal ini seperti mengurai cerita dan fragmen kisah, tanpa mengaitkan dengan pesan utama yang ingin disampaikan. Sebagai komparasi dalam karya penulis (Rendi) sebelumnya yakni cerpen Menggugat Fantasi, saya mendapatkan pesan utama mengenai dilema sang penulis best selller; sedangkan dalam In The of Ferrum, saya mendapatkan pesan utama mengenai kegigihan perlawanan.

Namun meski begitu novel In The Name of Wish tetap memiliki keajaiban dan kemenarikan. Penulis (Rendi) tetap melanjutkan konsistensinya dalam memproduksi kisah yang cukup imajinatif. Secara ide cerita dan penggambaran, membaca In The Name of Wish membawa pembaca ke dimensi yang berbeda dari ritme rutinitas keseharian yang ada. Mulai dari menghadirkan salju di masyarakat tropis, sihir, busana, peristilahan, satuan pengukuran, yang membawa kita sejenak beranjak dari alur hidup yang biasa kita geluti. Inilah menurut hemat saya, salah satu parameter keberhasilan dari suatu karya, ketika si penulis mampu membawa dunia ke dalam kepalanya dan “ditularkan” kepada sidang pembaca, sehingga pembaca mengalami denyut seolah-olah semesta si penulis benar adanya.

Scripta manent vorba volant, begitu kata bijak bestari Yunani. Yang berarti: kata-kata itu menguap, sementara tulisan itu tetap. Bentuk literasi dari penulis (Rendi) merupakan upaya darinya untuk mengejawantahkan apa-apa saja yang menjadi kegelisahan dan imajinasinya. Tentunya besar harapan saya, sang penulis akan terus berkarya di berbagai lini kreativitas dan menghadirkan semesta personalnya kepada publik. Lalu biarkan publik terkena ilusi dan hipnotisnya.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Politik

Politik dalam Kisah The Bartimaeus Trilogy

Apakah politik itu? Pertanyaan itu merupakan pertanyaan mendasar dan pertama, ketika dahulu saya menimba ilmu di jurusan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Maka izinkan saya menjawab dengan berbasiskan buku babon dan wajib dari mahasiswa ilmu politik Indonesia yakni Dasar-Dasar Ilmu Politik karangan Prof.Miriam Budiardjo. Politik menurut Miriam Budiardjo ialah usaha menggapai kehidupan yang baik. Orang Yunani Kuno terutama Plato dan Aristoteles menamakannya sebagai en dam onia atau the good life. Definisi lainnya dikemukakan oleh Peter Merkl:”Politik dalam bentuk yang paling baik adalah usaha mencapai suatu tatanan sosial yang baik dan berkeadilan”. Sedangkan dalam skenario terburuk menurut Peter Merkl:”Politik dalam bentuk yang paling buruk, adalah perebutan kekuasaan, kedudukan, dan kekayaan untuk kepentingan diri sendiri (Politics at its worst is a selfish grab for power, glory and riches)”(Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik: hlm.13-16).

Beberapa kisah fantasi yang pernah saya baca sesungguhnya memiliki muatan politik dalam substansi ceritanya. Cerita Harry Potter misalnya, dengan Voldemort yang melakukan kudeta sunyi dan “Kau Tahu Siapa” berkuasa melalui tangan Thicknesse yang sesungguhnya merupakan kaki tangannya. Hal tersebut terlacak dalam fragmen berikut:Kenyataannya dialah Menteri Sihir, tapi kenapa dia harus duduk di belakang meja di Kementerian? Bonekanya, Thicknesse, yang melakukan urusan sehari-hari, membuat Voldemort bebas memperluas kekuasaannya di luar Kementerian (J.K.Rowling, Harry Potter dan Relikui Kematian: hlm.279). Cerita Eragon pun memiliki muatan politik, ketika Galbatorix menegasikan segala saingannya dengan memberangus naga dan para penunggangnya. Galbatorix pun sedapat mungkin memastikan masa depan tetap miliknya dengan berusaha menguasai tiga telur naga yang tersisa. Dalam kesempatan ini, saya akan mencoba mengulas sisi politik dari kisah The Bartimaeus Trilogy karangan Jonathan Stroud.

Membaca kisah The Bartimaeus Trilogy menurut hemat saya seperti membaca fantasi politik, dikarenakan begitu banyak konsep politik yang terterapkan dalam kisah yang menjadi serial bestseller New York Times ini. Dikisahkan Nathaniel si penyihir muda yang memiliki ambisi untuk berkarier di pemerintahan harus berhadapan dengan segala ragam intrik, konspirasi, dan pemberontakan. Pada buku pertama Amulet Samarkand, Nathaniel masih merupakan anak berumur 12 tahun dengan idealisme dan ambisi untuk berkarier di pemerintahan kelak. Ambisi untuk berkarier di pemerintahan dinarasikan dengan Nathaniel yang berada di loteng dan melihat gedung parlemen. Disamping itu Nathaniel benar-benar berupaya keras untuk menunjukkan kompetensinya sebagai penyihir yang handal dengan belajar keras. Bukan hal yang mudah untuk menjadi penyihir, dari literatur yang harus dikuasai misalnya nyata terdefiniskan dalam mozaik berikut:Buku-buku ini ditulis dalam bahasa Inggris Pertengahan, Latin, Ceko, dan Yahudi sebagian besar, walaupun kau juga akan menemukan yang dalam bahasa Coptic tentang ritual kematian Mesir. Ada kamus Coptic untuk membantumu membaca. Terserah padamu bagaimana kau membaca semuanya (Jonathan Stroud, Amulet Samarkand: hlm.80). Otak yang cerdas dan kerja keras dari Nathaniel membuat dia dalam usia yang begitu muda memiliki kemampuan di atas penyihir seusianya. Hal yang diperlihatkan dengan kemampuannya memanggil jin berusia 5.000 tahun yakni Bartimaeus.

Apakah Anda ingat kisah film Troy (2004)? Dalam salah satu fragmen film tersebut, ibu dari Achilles meramalkan bahwa anaknya akan hidup bahagia berkeluarga jika tidak ikut ambil bagian dalam perang melawan bangsa Troya. Sebaliknya Achilles akan menemui kematian jika ikut ambil bagian di perang Troya, namun kematian dirinya akan paralel dengan namanya yang akan tetap bergema berbilang tahun kemudian (echo accross the centuries). Kemasyhuran, itu kiranya kata yang lekat dengan politik. Begitu juga dalam novel The Bartimaeus Trilogy, Nathaniel menolak untuk menjadi biasa-biasa saja. Ia ingin menjadi orang besar yang dikenang. Tak mengherankan jika dia mengidolakan William Gladstone. William Gladstone merupakan Perdana Menteri Inggris dari kalangan penyihir yang membawa Inggris menjadi negara nomor satu dalam konstelasi persaingan. Dalam bahasa lain digambarkan:”Dia satu-satunya penyihir terhebat yang pernah menjadi perdana menteri. Dia memerintah selama tiga puluh tahun pada masa Victoria dan membuat partai-partai penyihir yang berseteru berada dalam kuasa pemerintah. Kau tentu telah mendengar duelnya dengan si penyihir Disraeli di Westminster Green? Belum? Kau harus melihat lokasinya. Bekas hangus di dindingnya masih dipamerkan. Gladstone terkenal akan energinya yang besar dan keteguhannya saat keadaan tidak menguntungkan. Dia tak pernah mengubah tekadnya, bahkan keika keadaan menjadi buruk” (Jonathan Stroud, Amulet Samarkand: hlm.114). Begitulah kiranya tesis yang ditawarkan dalam cerita ini. William Gladstone sendiri jika melihat pada dunia nyata merupakan Perdana Menteri Inggris selama 4 periode (pada era 3 Desember 1868 sampai 17 Februari 1874; dari 23 April 1880 sampai 9 Juni 1885; dari 1 Februari sampai 20 Juli 1886; dan dari 15 Agustus 1892 sampai 2 Maret 1894).

Pesona kemasyhuran dari Nathaniel menunjukkan sinyalemennya ketika dia menginginkan nama resminya ialah William Gladstone. Sebagai informasi, penyihir memiliki dua nama, yakni nama pertama ialah nama lahirnya. Nama ini dilindungi, dijaga, agar tidak diketahui oleh siapapun. Jika nama lahir diketahui, maka rival dan jin dapat dengan mudah menjatuhkan si penyihir. Sedangkan nama berikutnya ialah nama resmi yang digunakan penyihir. Nama ini resmi didaftarkan di Loew’s Nominative Almanac dan menjadi nama yang resmi digunakan si penyihir dalam kehidupannya. Guru sekaligus bapak angkat Nathaniel menganggap penggunaan nama William Gladstone terlalu lancang dan tidak ada yang berani untuk menggapai kemasyhurannya, maka Nathaniel pun menyurut dengan obsesinya dan akhirnya memilih nama resmi John Mandrake.

Pusaran konflik dalam cerita ini tak bisa dilepaskan dari Nathaniel yang memiliki dendam kepada Simon Lovelace, dikarenakan peristiwa yang mempermalukan dirinya pada masa lalu. Nathaniel pun berupaya untuk membalas dendam dan mempermalukan Simon Lovelace yang digambarkan jangkung, kurus, tampan, sedikit berkesan kutu buku, dengan rambut yang licin disisir ke belakang dan dilumuri minyak rambut berbau tajam. Upaya balas dendam ini dengan cara mencuri Amulet Samarkand dari kuasa Simon Lovelace. Amulet Samarkand ternyata bukan sekedar aksesoris sihir biasa. Amulet Samarkand merupakan jimat pelindung; benda yang menghalau kekuatan jahat. Benda ini objek pasif dan meskipun dapat mengisap atau memantulkan segala jenis sihir berbahaya, amulet tak dapat secara aktif dikontrol si pemilik (Jonathan Stroud, Amulet Samarkand, hlm: 103). Amulet Samarkand merupakan artefak yang digunakan dalam rencana besar pemberontakan untuk menggulingkan pemerintahan berkuasa di Inggris. Tanpa disadari awalnya oleh Nathaniel bahwa dirinya telah terlibat dalam arus intrik sihir yang penuh darah, pemberontakan, dan pembunuhan.

Pada akhirnya pemberontakan yang dilakukan oleh Simon Lovelace berhasil digagalkan berkat kerjasama apik Nathaniel dan jin Bartimaeus. Namun simaklah narasi yang dijelaskan oleh Bartimaeus: Memang ciri khas anak itu. Setelah melaksanakan tugas terpenting dalam hidupnya yang menyedihkan ini, kau berharap ia akan terkulai ke lantai karena lelah dan lega. Begitukah? Tidak. Ini kesempatannya yang terbesar, dan ia menyambarnya dengan lagak sedramatis mungkin. Dengan semua mata tertuju kepadanya, ia terhuyung-huyung melintasi aula yang hancur seperti burung terluka, serapuh yang dapata kaubayangkan, langsung menuju pusat kekuasaan. Apa yang akan dilakukannya? Tak ada yang tahu; tak ada yang berani menebak (aku melihat sang perdana menteri mengernyit saat anak itu mengulurkan tangan). Kemudian, pada titik klimaks seluruh persekongkolan kecil-kecilan ini, semua terungkap: Amulet Samarkand yang legendaris – diangkat tinggi-tinggi sehingga semua dapat melihat – dikembalikan ke dada Pemerintah. Anak itu bahkan teringat untuk menundukkan kepala dengan hormat saat melakukannya (Jonathan Stroud, Amulet Samarkand: hlm.497).

Movement yang dilakukan oleh Nathaniel tersebut, itulah kiranya yang bertalian dengan pendapat ilmuwan bernama Thomas Hobbes bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk pemburu kekuasaan (Ahmad Suhelmi, Pemikiran Politik Barat: hlm 171). Apa yang dilakukan oleh Nathaniel merupakan upaya untuk menegaskan bahwa dirinya berada di pihak pemerintah. Nathaniel sebagai anak yang berumur 12 tahun dan masih hijau membutuhkan katrol, patron untuk melesatkan, melambungkan karier politiknya. Dan momentum itulah yang digunakannya untuk menegaskan dan menggaransi bahwa dirinya akan berada dalam jalur politik praktis. Ia telah menyelamatkan perdana menteri dan menteri-menteri dari pemberontakan yang nyaris berhasil di Heddleham Hall tersebut. Ia layak untuk berkarier di pemerintahan Inggris dan memiliki kompetensi, itulah kiranya tesis yang hendak dibangun.

Nathaniel si tokoh utama dalam kisah The Bartimaeus Trilogy tidak ditempatkan pada kongsi putih yang utuh. Ia terkadang bergerak ke pendulum yang tidak putih. Ia ambisius, keras, menyalahi janji, memainkan pion politik. Namun dalam dunia yang sungguh-sungguh kita singgahi memang sukar untuk menjadi putih seutuh-utuhnya. Dan dilema Nathaniel adalah dilema kita juga. Yang berupaya bergulat mencari makna sebagai zoon politicon.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Posted in Edukasi, Essai, Sosial Budaya

Tuang dan Isi

Jika hidup ini dianalogikan sebagai sebuah sistem, maka akan didapati adanya input, proses, dan output. Ada hal-hal yang masuk dalam sistem, lalu diproses di internal, untuk kemudian menghasilkan sesuatu. Mekanisme sistem tersebut alangkah eloknya jika mampu diterapkan dalam ritme kehidupan. Saya percaya ada ragam input yang masuk setiap harinya, dan dari input tersebut seyogyanya menghasilkan sesuatu. Jika dikaitkan dengan dunia tulis dan baca, secara sederhana, membaca merupakan input sedangkan menulis ialah output. Apa-apa yang kita baca merupakan bahan baku dalam penulisan. Menulis tanpa ketekunan membaca akan menjadi kehilangan referensi pengetahuan dan kerontang permaknaan.

Dalam istilah lain, bolehlah saya katakan dengan konsep tuang dan isi. Tuang berarti menghasilkan tulisan. Isi berarti melakukan internalisasi konsep, ide. Dengan konsep tuang dan isi, menurut hemat saya akan terdapat sebuah pencapaian signifikan bagi peradaban. Menuang saja akan membuat tulisan menjadi kehilangan stamina, substansi dan sekedar pengulangan demi pengulangan. Mengisi saja akan membuat terjadi tumpukan pengetahuan dan nir karya literasi yang terhampar. Memadukan antara tuang dan isi merupakan equilibrium yang membuat maju hakikat literasi.

Saya percaya setiap harinya ada begitu banyak orang yang melakukan pengisian bacaan ke internal dirinya. Namun seberapa banyak yang menuangkannya menjadi tulisan? Keberlimpahan informasi di kemajuan teknologi memungkinkan segala jenis bahan baca dapat disantap dan menjadi menu keseharian. Dengan demikian ada probabilitas untuk mengisi dengan ragam bacaan. Mengisi dengan bacaan yang berbobot penting kiranya untuk menginternalisasi bahan dan pengetahuan yang berkelas. Mengenai membaca bahan bacaan yang bagus baik kiranya saya kutipkan dari buku Cerita Di Balik Dapur Tempo: “Menulis bagus itu dimulai dari membaca bagus,” kata Redaktur Senior Amarzan Loebis. Di masa kepemimpinan Goenawan Mohamad, menurut Amarzan, membaca fiksi dan media asing adalah kewajiban setiap wartawan Tempo. “Goenawan sering mendadak mendatangi meja seseorang dan bertanya, “Sedang baca apa?” “Kalau kita tak membaca buku, atau katakanlah feature The New Yorker atau majalah asing, malulah kita,” kata Amarzan. Membaca buku atau media yang baik membantu menempa seseorang menjadi penulis (berita) yang baik (Tim Tempo, Cerita Di Balik Dapur Tempo: hlm.85).

Mengisi dengan bahan bacaan yang bermutu penting kiranya untuk membentuk pola intelektualitas dan kemampuan menulis. Jika dianalogikan dengan sistem, maka bacaan merupakan input utama. Jika kita menseleksi dan menginternalisasi dari bahan baku yang kadarnya lemah, maka tak mengherankan jika kualitas tulisan pun akan tidak impresif. Untuk mendapatkan input yang baik, meminjam istilah Helvy Tiana Rosa, kita harus menjadi predator buku. Buku-buku yang ada hendak kiranya kita lahap dan baca. Tradisi membaca dan intelektualitas menjadi menu yang senantiasa mengisi hari. Jika kita menelusuri sejarah, maka para founding fathers Indonesia merupakan para pembaca buku yang ulung. Tak mengherankan mereka memiliki ide, konsep, pemikiran yang melampaui zamannya dan bernas.

Mohammad Hatta melalui otobiografinya terungkap memiliki ritme hidup yang baik antara menulis dan membaca. Hatta yang terbiasa rapi, memiliki pola intelektualitas tersebut dalam kesehariannya. Kecintaan Hatta dengan buku terungkap misalnya melalui fragmen ketika dia memborong buku. Hatta membeli buku Gustav Schmoller, Grundrisz der Algemeinen Volkswirtschaftlehre, dua jilid, tebalnya kira-kira 1.400 halaman; buku Bohm Bawerk, Kapital und Kapitalzins, tiga bagian, tebalnya kira-kira 1.400 halaman; buku Werner Sombart, Der moderne Kapitalismus, terbagi dalam empat jilid, tebalnya kira-kira 2.100 halaman; dan sebagainya (Mohammad Hatta, Untuk Negeriku: Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi: hlm.154-155). Tak mengherankan ketika kembali ke Jakarta, Hatta buku-bukunya dalam 16 peti besi (Mohammad Hatta, Untuk Negeriku:Berjuang dan Dibuang: hlm.18). Adapun ritme waktu dari Hatta dapat dilihat pada cuplikan berikut: Sesudah sarapan pagi, pukul 08.30, aku pergi jalan kaki barang satu jam lamanya. Pukul 09.30 aku kembali di rumah dan belajar sampai pukul 12.30, sesudah itu aku beristirahat sebentar dan pukul 14.00 sesudah makan tengah hari aku beljar lagi sampai pukul 16.30. Sesudah itu aku mencuci muka sebentar dan keluar pergi berjalan-jalan atau aku duduk di suatu cafe di pinggir sebuah danau kecil di tengah kota dengan pandangannya yang indah. Malam hari sesudah makan malam aku belajar lagi atau membaca buku roman atau menonton (Mohammad Hatta, Untuk Negeriku:Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi: hlm.175).

Melakukan pengisian secara berkala dengan membaca membuat manusia memiliki ritme intelektualitas. Dunia membaca sayangnya di negeri ini belum tergiatkan. Benar jumlah melek huruf telah sedemikian banyak, namun dari melek huruf tersebut, seberapa banyak yang menjadikan membaca sebagai menu wajib keseharian. Jika membaca telah membahana maka otomatis berimplikasi pada banyaknya buku yang beredar di Indonesia. Nyatanya hanya ada 14.000 judul buku baru pada tahun 2011, untuk meng-cover penduduk Indonesia yang telah mencapai 240 juta jiwa. Terlebih kaum muda Indonesia yang mengisi ceruk 30-35% atau setara dengan 75 juta jiwa bisa jadi lebih memilih untuk menghabiskan waktunya di sosial media, dibandingkan dengan membaca.

Kemajuan teknologi dan kemudahan menduplikasi di sisi lain, malahan menghasilkan begitu rupa tulisan dari copy paste. Copy paste ini tentunya tidak kondusif bagi dunia baca dan menulis. Nyatanya untuk menulis memang dibutuhkan kemampuan membaca yang baik dan kuat. Copy paste adalah shortcut, jalan instan, untuk menghasilkan tulisan tanpa mau banyak-banyak membaca dan berpikir.

Menulis menurut hemat saya merupakan upaya untuk mengingat, mengingat apa-apa yang telah dibaca. Manusia memiliki karakteristik dasar untuk mudah lupa, maka untuk menolak lupa, kita dapat menuliskannya. Inilah kiranya yang membuat ada surat perjanjian yang termaktub mengenai hak dan kewajiban. Menulis juga saya percaya akan meningkatkan kemampuan dan penelusuran bacaan. Dikarenakan untuk menyusun tulisan, ada ceruk-ceruk yang masih tidak kita ketahui dan untuk menguji validasi kebenaran dari yang ditulis kerap dibutuhkan cross check ke berbagai sumber bacaan.

Menulis jika dianalogikan dengan menuang, merupakan upaya untuk menumpahkan apa-apa yang diketahui. Maka disinilah peran membaca (isi) penting kiranya. Dengan membaca (mengisi) yang baik, maka menulis (menuangkan) pun akan memiliki bobot yang baik. Salah satu bacaan yang saya kagumi secara substansi dan gaya bahasa ialah Catatan Pinggir dari Goenawan Mohamad. Melalui Catatan Pinggir (Caping), Goenawan Mohamad menuliskan banyak hal yang menyentuh berbagai diorama ilmu. Dengan membaca caping, kita tahu bahwa untuk menuangkan tulisan tersebut, Goenawan banyak membaca dan mengamati. Simaklah referensi yang senantiasa berada di caping. Hal yang mengindikasikan daya jelajah bacaan dari jebolan fakultas psikologi UI ini. Tak mengherankan jika Satyagraha Hoerip berpandangan, “…yang masuk ke dalam dirinya bukan hanya para tokoh dari negerinya saja, melainkan juga sebatlyon para pembawa paspor negara asing. Albert Camus, Carter, Mishima, E.F.Schumacher, Tagore, Mahatma Gandhi, Farough Farrokhzad dan banyak lagi.”

Menulis juga menunjukkan eksistensi. Dengan menulis, maka aku ada. Menulis akan membentuk siapa kita. Oleh karena itu dalam dunia akademik parameter untuk melihat kompetensi intelektualitas salah satunya ialah dengan karya ilmiah yang dihasilkan. Anda mungkin bertanya, jika saya menulis, lalu hasil tulisan itu akan dibawa kemana? Menurut hemat saya, blog dapat menjadi rumah intelektual Anda. Dengan membuat blog, Anda dapat mengkodifikasi tulisan-tulisan sesuai genre dan spesifikasi yang Anda tulis. Saat ini di Indonesia telah ada 6 juta blog. Meski begitu layak dipertanyakan, seberapa banyak yang berkualitas. Dewi Lestari misalnya menyoroti sebagai diare kata-kata. Blog tidak hanya sekedar dapat menjadi arena curhatan, namun juga dapat menjadi medium transmisi dan diseminasi gagasan.

Berada pada equilibrium yang tepat akan menghindarkan kita dari ekstremitas dan ketimpangan. Sekedar membaca dan membaca, memungkinkan lupa dan terjadi tumpukan pengetahuan, tanpa pernah terdistribusikan dan dipublikasikan dalam bahasa sendiri. Sekedar menulis dan menulis, akan menyebabkan hampa permaknaan dan sekedar lagu itu-itu lagi yang direpetisi. Menuang dan mengisi melalui menulis dan membaca merupakan equilibrium yang memungkinkan taman ilmu akan terus memekar. Bunga-bunga ilmu akan bermunculan melalui aneka tulisan dari berbagai divisi pengetahuan, dari berbagai profesi, dari varian yang ada di bumi. Bunga-bunga ilmu akan dapat dinikmati, dari para pembaca yang senantiasa menjaganya melalui membaca dan mencegahnya menjadi seonggok pengetahuan berdebu dan terlupa di perkakas sejarah. Selamat menuang dan mengisi.