Posted in Cerpen, Fiksi Fantasi, sastra

Karnaval Sunyi (2)

“Kau tak seharusnya membunuh disini. Hanya untuk kesenangan. Bukan untuk bertahan hidup. Dunia ini punya keseimbangan.”

Kata-kata itu keluar dari mulut anak berwajah jenaka yang rupanya melempar kerikil ke arah kijang itu.

“Siapa kau? Aku Erda Curve pewaris kastil keluarga Curve,” kata Erda dengan mata mencemooh. “Oh dan kau tidak berhak menceramahiku tentang apa tadi kau bilang? Keseimbangan alam?”

“Oh pantas saja kau Erda Curve si pewaris tunggal kastil beserta meter demi meter yang mengelilingi wilayah kekayaanmu,” kata anak bertampang jenaka itu sembari melihat dari ujung kaki hingga ujung kepala sosok Erda. “Tapi kuberitahu kau Erda satu hal, wilayah kekuasaanmu tidak sampai hutan Fangeon. Kekuasaan dan uangmu memiliki batasan. Dan kau tidak dapat menyentuh wilayah ini dengan semena-mena.”

“Dan kau belum memberitahu namamu bocah nakal sok tahu,” ujar Erda sembari berkacak pinggang.

“Namaku Rudovo.”

“Hmm..Rudovo, terdengar seperti nama jelata. Omong-omong Rudovo bisakah kau tunjukkan jalan keluar dari hutan ini? Anggap saja sebagai membayar hutang kaburnya binatang buruanku. Aku harus kembali ke kastilku, matahari telah sampai di penghujung hari.”

“Haha..tampaknya Erda yang terhormat tersesat di hutan ini. Mari ikuti aku,“ tutur Rudovo sembari menatap mata Erda lekat-lekat.
***

Kembalinya Erda Curve ke kastil disambut dengan kebimbangan dan kesunyian. Erda yang tiba-tiba ngeloyor hilang entah kemana di hutan untuk kemudian kembali. Aldredo, Rinkel, Kesne, berdiri beriringan di depan pintu kastil yang tingginya 5 meter. Di bawah penerangan obor yang ditiup angin, wajah cemas mereka kentara.

“Tuan kemana saja? Kami disini khawatir,” ungkap Aldredo sembari menatap tanah. “Torva dibantu rekan-rekannya yang lain masih mencari tuan di hutan karena tuan tiba-tiba terpisah dari kelompok.”

“Kau kirimkan pesan pada Torva bahwa aku telah kembali dengan selamat tanpa kekurangan apapun juga,” titah Erda jelas.

Sunyi sesaat, Erda seperti berputar konsep di kepala untuk mengutarakan kata bertanya.

“Apa ada pesan lain lagi tuan Erda?” gugup tanya Aldredo.

“Bukan pesan, aku hanya ingin bertanya, apakah kalian tahu ada anak bernama Rudovo yang tinggal di sisi utara kastil ini, tidak jauh dari hutan Fangeon?” tanya Erda mengungkap penasarannya.

Seketika kekikukan, kegugupan, kebingungan tanpa suara menyeruak diantara Aldredo, Rinkel, dan Kesne. Namun nuansa itu tidak ditangkap oleh anak berwajah pucat itu karena dia sedang berputar dengan laju pikirannya sendiri tentang anak seumurannya yang begitu getas mengutarakan pemikiran dan berani bertukar pendapat serta menentangnya.

“Kami tidak mengetahui tentang anak bernama Rudovo itu tuan,” Kesne akhirnya memecah hening dan menjawab tanya.

“Oh baiklah. Kenapa bergetar begitu Aldredo. Apa kau sakit? Sebaiknya kau beristirahat saja kalau begitu. Biar Rinkel yang mengerjakan tugasmu,” kata Erda yang tak habis pikir dengan lompatan bahasa tubuh dari Aldredo yang seperti menyimpan sesuatu. Tentunya Erda tidak memiliki kepentingan dan keinginan untuk mengetahui musabab perubahan Aldredo tersebut.
***

Kastil ini kini sepi
Ditinggal warna cerianya
Semua tentang kebersamaan yang sirna
Permutasi tawa menjadi setangkup luka

Kastil ini kini muram
Dindingnya tertunda terlunta
Atapnya meringkuk takluk
Bias takjub mentari terusir pergi
Takut melihat bayangan sendiri di cermin
Hilang dipeluk hampa

Kastil ini kehilangan jamuannya
Panganan kreasi cinta
Minuman mengepul di kala dingin menelusup tulang
Canda dan cerita bersama hidangannya
Kini hanya meja makan megah tanpa menu, tanpa kehangatan

Kastil ini megah dalam kesunyiannya
Membusuk digerogoti kenangan terkuatnya

Dan Aldredo pun membenahi pena dan tinta di waktu dinihari. Dia beranjak menuju peraduannya.
***

Dari tingkat tertinggi kastil kau dapat melihat sejauh mata memandang: horizon. Wilayah ini seakan menjadi titik-titik kecil dimana kastil ini menjadi jangkar sekaligus episentrumnya. Ruang-ruang di dalam kastil ialah keindahan dalam sunyi. Maka akan kau dapati ruang-ruang luas dengan atapnya yang tinggi. Kau akan menemukan ukiran-ukiran rumit ketika mendongakkan kepala. Patung-patung juga mengisi pojok-pojok kastil ini. Ada yang hanya sekepala, ada yang seukuran badan, beberapa juga memperlihatkan keelokan tubuh manusia yang tersembunyi.

Namun semua keindahan itu terasa sunyi bagi Erda dalam 6 hari terakhir ini. Dia kini telah kembali berada di meja makannya siap jam 7 pagi.

“Siapkan kudaku Aldredo,”perintah Erda sembari memotong kentangnya, tanpa melihat wajah pelayan pribadinya.

“Tapi, jam 8 Anda?” jawab Aldredo meragu.

“Aku tahu jadwalku. Aku akan kembali tepat waktu. Kalaupun tidak, hei..aku pewaris segala ini. Jadi keinginanku adalah hukum, perintahku adalah kepastian.”

(Bersambung)

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s