Posted in Cerpen, Fiksi Fantasi, sastra

Karnaval Sunyi (3)

Selepas sarapan pagi, Erda memacu kudanya. Dia pergi sendiri.

“Rudovo..Rudovo.. ini aku Erda,” teriak Erda ketika berada di dalam hutan Fangeon. Sialnya dia tidak ingat persis dimana tempat pertemuan terakhir kemarin. Hutan ini seperti bergerak.

“Kau tak perlu berteriak seperti orang kalap begitu Erda,” derai jenaka dari Rudovo. “Ini tangkap!”

“Suling?” tanya Erda sembari mengamati ukiran kasar dan tidak rata dari suling tersebut.

“Kau bisa memanggilku dengan suling itu, ketika berada di hutan Fangeon,” kata Rudovo seolah hal itu telah jelas.

“Bagaimana bisa..”

“Haha..di dunia ini banyak keajaiban. Anggap saja itu sebagai keajaiban. Tanya ditutup,” putus Rudovo.

“Tapi…

Rudovo pun berlari cepat diantara pepohonan. Segera Erda mengikutinya. Merasakan bumi merangkul erat anak manusia.

Sungai. Rudovo berenang-renang di dalamnya dengan berbagai gaya. Ia menyelam, ia timbul. Ia menggoda Erda untuk lebur di air.

“Kenapa kau takut tenggelam?” tanya Rudovo lalu kembali menyelam cepat-cepat.

Erda pun langsung terjun ke sungai dengan busana lengkap. Membiarkan tiap jengkal tubuhnya dialiri kemurnian. Merasakan tiap jengkal dari denyar-denyar kemerdekaan. Setelah puas bermain 1 jam di air, Erda pun beringsut naik ke daratan, pamit dan menunggangi kudanya kembali ke kastil. Ia terlambat mengikuti sesi pelajaran. Tapi siapa peduli. Sementara fisiknya berada di ruang perpustakaan kastil, pikiran dan jiwanya berkelana lepas ke hutan Fangeon sana.
***

Pada keesokan harinya ia baru pergi ke hutan Fangeon ketika matahari telah menjelang senja. Kali ini mereka bermain panjat pohon.

“Aku berani bertaruh kau belum pernah naik ke pohon setinggi ini,” tantang Rudovo sembari menepukkan tangannya ke pohon yang diameternya kurang lebih sama dengan meja di kastil Curve.

“Aku pernah kok melihat dari ketinggian,” jawab Erda tak mau kalah.

“Ketinggian dari atas kastilmu. Terlindung. Ketinggian palsu,” rentet Rudovo mengutarakan fakta.

Pohon-pohon yang menjulang itupun mereka panjat. Perlahan bagi Erda, cepat bagi Rudovo yang begitu piawai menempatkan kakinya dan berpijak satu dua langkah.

“Kau tahu ketinggian ini dapat membunuhmu Erda. Lihatlah ke bawah dan bayangkan tubuhmu menemui gravitasi di bawah sana,” girang Rudovo yang telah tiba di tempat tertinggi pohon itu.

“Tutup mulutmu Rudovo, aku akan sampai di atas segera.”

Tantangan naik pohon ini sejatinya benar-benar melelahkan. Bahkan mengandung ancaman kematian, sekurangnya patah tulang. 206 tulang dalam tubuh manusia, dan rentetan numerik itu bisa tiba-tiba brak patah dari ketinggian seekstrem ini. Namun senyuman jailnya, siulan yang makin tak karuan, keberhasilan Rudovo sampai di puncak tertinggi, dan tantangan ini- benar-benar membuat Erda Curve merasa harus menuntaskan naik ke titik tertinggi pohon ini. Ketika akhirnya sampai di cabang tertinggi, Erda pun telah kelelahan.

“Lihatlah Erda bodoh. Kau tidak membuang tenagamu dengan percuma.”

Hamparan alam yang membentang. Sungai, hijau, sunyi alam, misteri, horizon, kesemuanya berpadu dalam sensasi berada di cabang tertinggi. Untuk kali pertama Erda Curve benar-benar merasakan memiliki sahabat.
***

Hari ini Erda Curve bertekad untuk mengajak Rudovo ke kastil. Dia akan menunjukkan koleksi lukisan keluarga Curve, keluasan ruang demi ruang – mulai dari lantai bawah tanah hingga titik tertinggi bangunan ini. Dia juga akan mengajak Rudovo ke perpustakaan kastil ini yang koleksinya memuat buku-buku tua dan tebal, tentu saja buku terbaru juga ada. Berani taruhan si berandal Rudovo bukanlah pembaca buku yang handal. Tahu apa dia tentang puisi Sarve, teori titik kulminasi, sejarah jatuh dan cemerlangnya peradaban, dan banyak lagi damparan ilmu lainnya.

Semenjak pagi, Erda telah tiba di hutan Fangeon. Kali ini dia cukup memainkan suling kayu pemberian Rudovo. Tak berapa lama kemudian Rudovo datang dengan wajah jenakanya seperti biasa.

“Aku ingin mengajakmu ke kastilku,” ajak/perintah dari Erda.

“Kastilmu?” tanya Rudovo.

“Ya kastilku, aku ingin memperlihatkan tempat tinggalku. Anggap saja sebagai sinyal agar kau lebih mengerti aku,” kata-kata yang sebisa mungkin diintonasikan dengan rendah hati.

“Pertanyaannya Erda, apakah kau mengenal aku?” tangkas tanya dari Rudovo.

“Apakah kau mengenal dirimu?”

“Siapakah dirimu Erda?” tutup tanya dari Rudovo dengan mata tertuju tepat ke wajah pucat anak berusia 12 tahun tersebut.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut seakan mendamparkan Erda Curve pada keterusikan memori. Dia seketika mencoba untuk memutar waktu, menggali sejarah. Ya dia belum mengenal Rudovo secara lebih jauh, siapa orang tuanya, dimana letak rumah tepatnya. Dia hanya mengenal Rudovo sekilasan dan dirinya telah menempatkan Rudovo sebagai sahabatnya. Lalu, siapakah diriku, tanya Erda dalam hati. Ia mencoba mengingat keras, tapi memorinya seketika hampa. Hanya ada rol 8 hari terakhir yang diingatnya. Ingatan ke hari yang lebih jauh lagi seperti berkabut, labirin, remang-remang.

“Siapa aku?” tanya Erda lebih kepada dirinya sendiri. Dan dia pun tak sadarkan diri dengan impresi terakhir yang diingatnya seutas senyum tipis dari Rudovo.

Waktu telah berdetak ke malam hari. Erda Curve akhirnya ditemukan oleh Torva dan dibawa kembali ke kastil. Dia kini telah kembali pulih dari pingsan dan memanggil Aldredo, Rinkel, Kesne dan Torva ke perpustakaan baca. Dari balik cahaya lilin yang digoyang-goyangkan angin, wajah Erda lebih pucat dan kali ini seperti ada aura berbeda yang terdapat pada dirinya.

“Ceritakan padaku siapa diriku?” Erda bertanya dengan nada tegas kepada keempat orang di hadapannya.

Sunyi menggantung di udara.

“Anda adalah Erda Curve, pewaris tunggal dari kekayaan trah Curve,” jawab Kesne mantap.

“Katakan yang sebenarnya,” kata Erda bengis.

Sunyi merayap di udara.

“Kau ingin yang sebenarnya tuan Erda?” pecah kata dari Aldredo memberanikan diri.

(Bersambung)

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s