Posted in Cerpen, Fiksi Fantasi, sastra

Karnaval Sunyi (4/Tamat)

“Ya yang sebenarnya. Kata demi kata.”

Aldredo tersenyum tipis dalam ironi. Entah kenapa senyum itu mengingatkan Erda pada senyum seseorang.

“Kau adalah monster tuan Erda,”Aldredo menjatuhkan definisi pertamanya.

Sontak Rinkel, Kesne, Torva merepet dan bersiap untuk menerima perlakuan yang kejam.

“Aku ingin kau berjanji terlebih dahulu. Sebelum kuceritakan kebenarannya. Bahwa kau tidak akan membunuh kami,” kalimat tawaran dari Aldredo.

“Aku berjanji dengan jiwaku takkan menghabisi kalian,” dingin kata dari Erda.

“Kurasa merapuhnya ingatan Anda diawali 9 hari yang lalu. Ketika itu Anda entah melakukan apa di kamar Anda. Hanya ada suara-suara keji yang kami dapati dari luar pintu. Kami ketakutan semua. Dan akhirnya kami memutuskan untuk mendobrak pintu. Anda pingsan tak sadarkan diri. Diantara tubuh pingsan Anda ada kapur, dupa, dan buku tua yang kami tak mengerti bahasanya. Anda baru sadarkan diri keesokan harinya dan ajaibnya Anda lupa pada beberapa fragmen penting dalam hidup Anda. Anda bahkan memiliki beberapa konsep baru dalam kepala Anda yang diutarakan kepada kami.”

“Anda menamakan diri Anda sebagai Erda Curve. Anda berpendapat sebagai pewaris tunggal kekayaan dan kekuasaan trah Curve,” ujar Aldredo senyap.

Erda mendengar tanpa bersuara sedikit pun. Bahkan ekspresinya enigma.

“Dan Anda tanya siapa Anda sebenarnya?” tanya Aldredo retoris.

“Kami pun tak tahu siapa Anda sebenarnya. Yang kami tahu Anda datang pada suatu pagi 3 tahun yang lalu. Anda datang ke desa tempat tinggal Rinkel, Kesne, Torva yang berada di sisi utara dari kastil ini,” lanjut Aldredo pahit.

“Anda mengatakan bahwa Anda adalah penyihir dan akan membunuh semua warga desa tanpa kecuali. Aku, Rinkel, Torva, tertawa dengan keras ketika Anda mengatakan itu di tugu tengah desa,” ungkap Kesne mengurai hampanya.

“Anda hanya tersenyum sekilas. Lalu mulai merapal mantra terkutuk entah apa. Kilatan cahaya terang. Aku, Rinkel, Torva pingsan dan ketika terbangun seluruh warga desa tanpa perlu kuperiksa denyut nadinya, aku telah tahu mereka telah meninggal dengan cara yang menyakitkan,” Kesne berujar dengan pedih tertahan.

“Kau lihat kastil disana, kata Anda. Disanalah kita akan menuju. Sekali kalian memilih untuk masuk ke dalamnya, maka takdir kalian selanjutnya akan terkait disana. Kalian akan menetap selamanya di kastil itu.

Torva membuka kata,”Pilihan apalagi yang kami punya. Kami baru saja dikejutkan dengan kematian serempak yang melanda desa. Dan kami memiliki pilihan untuk hidup dan bertahan di bumi ini. Maka kami pun mengambilnya.”

“Kita pun berjalan seperti karnaval sunyi kematian, aku di yang paling depan,” ungkap Erda tiba-tiba seperti mulai mendapatkan ingatannya pulih kembali perlahan.

“Di kastil inilah tempat tinggalku, beserta putra tunggalku yang berani,” ucap Aldredo menyambung cerita.

“Hmm..anak yang menolak tunduk pada kuasaku, anak yang memilih untuk melawanku,” kata Erda dengan petah yang semakin mantap.

“Rudovo,” kata Erda.

“Rudovo Curve,” imbuh Aldredo. “Dan nama lengkapku Aldredo Curve.”

“Akulah pewaris dari trah Curve untuk kemudian seharusnya kuwariskan kepada anakku Rudovo,” ujar Aldredo Curve hampa.

“Sebelum menghabisi nyawanya, aku menyadap semua memori yang pernah dimilikinya,” urai kata dari Erda tanpa rasa penyesalan.

“Memori itulah yang kurasakan dan mengapung ke permukaan dalam 8 hari terakhir,” tambah Erda.

“Rudovo membenci semua kekangan ini Aldredo. Dia muak dengan segala aristokrat dan upaya Anda menjadikan dia manusia unggul dalam berbagai bidang. Dia muak harus hidup dengan pola yang Anda diktekan,” pungkas Erda seakan menjadi penyambung lidah Rudovo.

“Dan lihatlah kalian para pengecut yang takut mati. Memilih untuk menetap hingga membusuk di kastil ini,” ungkap Erda dengan mata mengejek melihat keempat sosok di hadapannya satu demi satu.

“Bagaimana kau bisa mengingat kembali tuan Erda?” tanya Aldredo dengan luka yang semakin membuncah di jiwanya.

“Aku tidak tahu persisnya. Itu sama misteriusnya dengan saat aku kehilangan ingatan temporer ketika mencoba melakukan eksperimen sihir. Bukankah hidup terkadang tak perlu terjelaskan dan biar menjadi enigma abadi?” Erda balik berfilosofi.

“Aku ingat kalian -Kesne, Torva, Rinkel, kalianlah yang tertawa ketika kukatakan aku seorang penyihir dan akan membunuh semua warga desa tanpa kecuali. Maka aku menghukum kalian sebagai abdiku. Sebagai pengingat bahwa kekuatanku nyata dan kejam. Jengkal demi nafas kalian kini adalah pengabdian bagiku.”

Erda menambahkan dengan warna suara keji,”Kau dulunya adalah pendongeng antar desa, benar begitu Rinkel? Kau dulunya adalah pedagang, benar begitu Kesne? Dan kau dulunya adalah pemburu yang handal, benar begitu Torva?”

“Karena itu saya tak dapat mengingat detil tanggal sejarah,” Rinkel berargumen lemah.

“Karena itu aku mengetahui pengetahuan praktis di lapangan ekonomi dibandingkan teori kaku di literatur,” pungkas Kesne

“Karena itu saya pernah berkata bahwa bukankah semua makhluk hidup akan berdaya upaya untuk tetap hidup? Dengan segala cara, dengan segala upaya. Sekalipun langkah yang ditempuh ialah cara pengecut dan anomali,” renung kata dari Torva.

“Dan kau memilih untuk tetap hidup di kastil ini Aldredo Curve. Sekalipun anakmu telah meninggal, sekalipun kastil ini kini menjadi milikku, sekalipun kau hanya menjadi abdiku,” ujar Erda dengan tatapan muak.

“Ya aku memilih untuk hidup dengan segala nelangsanya. Meski kastil ini megah dalam kesunyiannya. Membusuk digerogoti kenangan terkuatnya.”

Erda menepukkan tangannya dua kali.

“Kalau begitu semua sudah jelas. Kalian boleh istirahat malam ini.”

“Dan Aldredo.. ambilkan aku susu panas dari dapur, ada desa yang harus kubantai besok pagi.”

-Tamat-

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s