Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Film

Panggung Para Angsa (Film Black Swan)

Pertarungan hitam dan putih adalah pertarungan keabadian. Siapakah yang pada akhirnya menang? Ataukah memang pertarungan itu sesungguhnya tidak pernah dimenangkan oleh siapapun? Hanya ada sisi putih dan sisi hitam yang bergantian menyeruak dari panggung kehidupan ini. Dari saya. Dari Anda. Dari kita.

Pada hari Sabtu Malam (3 Maret 2012) untuk pertama kalinya saya menonton film Black Swan. Film yang diperankan oleh Natalie Portman, Mila Kunis, Vincent Cassel. Film Black Swan sendiri membetot perhatian pada penyelenggaraan Oscar tahun 2011. Melihat trailer sebelum filmnya tayang saya pun langsung berkonklusi untuk menontonnya. Harap maklum saya memiliki pengalaman kurang mengenakkan dengan film juara. Film King Speech yang merajai Oscar, setelah saya menonton di sinema ternyata jauh panggang dari api menurut hemat saya.

Film Black Swan sendiri mengisahkan Nina Sayers (Natalie Portman) yang mendapatkan peran utama sebagai angsa putih dan angsa hitam dalam pertunjukan besar Swan Lake. Dikisahkan angsa putih sesungguhnya merupakan seorang perempuan yang terkena mantra dan hanya dapat dibebaskan dengan cinta. Sang pangeran untuk kemudian jatuh hati pada angsa putih. Namun saudara kembarnya, si angsa hitam menggoda pangeran. Dan pangeran pun jatuh hati pada si angsa hitam. Merasa kecewa dan terluka, angsa putih meloncat dari tebing. Bunuh diri. Dan pada pilihannya itulah dia merasakan kebebasan dan kemerdekaannya.

Dalam pertunjukan balet Swan Lake, angsa putih dan angsa hitam diperankan oleh orang yang sama. Tentunya ada perbedaan kutub antara angsa putih dan angsa hitam. Angsa putih merupakan representasi dari kerapuhan, kecantikan, memerlukan perlindungan. Sedangkan angsa hitam merupakan representasi dari menggoda, kedengkian, kejahatan. Kedua kutub peran tersebut harus mampu diejawantahkan dalam gerakan dan penghayatan. Sebuah tugas maha yang tidak mudah untuk diemban oleh siapapun. Dalam audisi, Nina dipercaya mampu memerankan angsa putih dengan baik. Namun bukan hanya angsa putih yang harus diperankan, angsa hitam juga harus dihidupkan. Dan Nina gagal menghadirkan angsa hitam pada audisi tersebut.

Sebuah peran, obsesi, hasrat. Apa yang dilakukan Nina kemudian? Dia kembali keesokan harinya berusaha untuk menyakinkan Thomas Leroy (Vincent Cassel) sang sutradara lakon balet Swan Lake bahwa dirinya layak untuk mendapatkan peran utama. Nina datang dengan lipstik warna merah menyala yang dicurinya dari kamar artis pendahulunya Beth (Winona Ryder). Nina datang dengan kaku, rapuh, untuk meminta peran tersebut. Thomas menampiknya dan menyatakan peran utama tersebut telah dimenangkan oleh Veronica. Ketika telah sampai di penghujung pintu, Thomas mencium Nina dengan gairah, yang direspons dengan gigitan oleh Nina. Gigitan itulah kiranya yang menjadi sinyalemen sisi black dari Nina disamping lipstiknya yang menyala. Thomas pun akhirnya memilih Nina sebagai pemeran utama di pertunjukan Swan Lake. Nina sebagai angsa putih dan juga angsa hitam.

Peran, panggung, dan obsesi kesempurnaan. Rupanya itulah yang ditawarkan dalam kisah Black Swan ini. Bagaimana Nina yang tak kunjung menghayati peran angsa hitam. Bagaimana dia menemukan kejahatannya. Menggali segala potensi evil yang selama ini terpendam. Luapan kebencian yang untuk kemudian menghadirkan wajah Nina yang lain. Nina yang manunggal dengan perannya sebagai angsa hitam.

Panggung. Rupanya di bawah lampu sorot, tepuk tangan penonton, sanjungan dimana-mana, dapat memabukkan dan mengulik sisi persaingan dari manusia. Nina tidak ingin menjadi seperti ibunya yang hanya menjadi penari latar. Ia ingin menempati spot utama. Disamping itu paranoid, delusi mencengkram dirinya bahwa posisi utamanya di panggung hiburan akan direbut, dikudeta oleh pesaingnya (Lily yang diperankan Mila Kunis). Paranoid dan delusi ini merupakan hal yang tidak sekadar milik para penghibur di atas pentas. Para politisi pun mengalaminya. Maka mereka pun memagari diri dari serangan barisan oposisi. Mereka membungkam suara rakyat. Mereka ingin tetap berada di panggung utama, dengan lampu sorot utama, sekalipun penonton telah jemu.

Obsesi kesempurnaan. Sebagai seni pertunjukan, balet merupakan pagelaran yang menuntut latihan demi latihan agar di hari-H benar-benar tertampil impresif. Obsesi untuk kesempurnaan inilah kiranya yang menekan dan membangkitkan Nina pada kongsi angsa hitam. Ia melawan ibunya, ia berlatih begitu keras, ia berusaha menyingkirkan Lily. Dan pada akhir cerita film Black Swan, diantara kegilaan yang terjadi pada diri Nina. Ia mendapatkan tepukan tangan meriah, ia dipuja dengan sorakan “Nina..Nina..”, ia mendapatkan sorotan lampu utama. Namun selayaknyakah segala itu dengan kompensasi yang harus dibayar? Delusi, paranoid, kegilaan, sisi jahat, darah.

Lagu Panggung Sandiwara yang dipopulerkan oleh Nicky Astria dapat menjadi penutup dari essai ini. Dunia ini panggung sandiwara/ Cerita yang mudah berubah/…/Setiap kita dapat satu peranan/Yang harus kita mainkan/Ada peran wajar ada peran berpura-pura/Mengapa kita bersandiwara/Mengapa kita bersandiwara/…/Dunia ini penuh peranan/Dunia ini bagaikan jembatan kehidupan. Benar kiranya setiap dari kita memiliki obsesi untuk menjadi tokoh utama dalam panggung kehidupan. Kita tidak ingin sekadar menjadi latar tidak penting dari panggung besar kehidupan. Namun ketahuilah untuk mendapatkan peran utama dalam panggung kehidupan ada harga yang harus dibayar. Harga itu terkadang ialah dengan menghadirkan sisi kejam, jahat, dark.
Dalam frase panggung sandiwara, Shakespeare berfilosofi melalui karyanya sebagai berikut:

“All the world’s a stage,
And all the men and women merely players;
They have their exits and their entrances;
And one man in his time plays many parts,
His acts being seven ages. At first the infant,
Mewling and puking in the nurse’s arms;
Then the whining school-boy, with his satchel
And shining morning face, creeping like snail
Unwillingly to school. And then the lover,
Sighing like furnace, with a woeful ballad
Made to his mistress’ eyebrow. Then a soldier,
Full of strange oaths, and bearded like the pard,
Jealous in honour, sudden and quick in quarrel,
Seeking the bubble reputation
Even in the cannon’s mouth. And then the justice,
In fair round belly with good capon lin’d,
With eyes severe and beard of formal cut,
Full of wise saws and modern instances;
And so he plays his part. The sixth age shifts
Into the lean and slipper’d pantaloon,
With spectacles on nose and pouch on side;
His youthful hose, well sav’d, a world too wide
For his shrunk shank; and his big manly voice,
Turning again toward childish treble, pipes
And whistles in his sound. Last scene of all,
That ends this strange eventful history,
Is second childishness and mere oblivion;
Sans teeth, sans eyes, sans taste, sans everything.” — Jaques (Act II, Scene VII, lines 139-166).

Layakkah untuk bersandiwara?

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s