Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Sosial Budaya

Murni

Seberapa murni Anda sesungguhnya? Manusia dan kemurnian adalah dialektika tiada henti. Di setiap larik waktu hubungan manusia dan kemurnian selalu berupaya mencari titik equilibriumnya. Nazi, garis keturunan aristokrat, genocide, merupakan terminologi yang terkait dengan ide pemurnian dalam dunia yang kita kenal. Nazi berusaha memurnikan ras aria yang konon katanya sebagai ras terbaik di dunia, dari cengkraman kaum Yahudi yang menguasai sendi perekonomian Jerman. Garis keturunan aristokrat terpetakan melalui peta keluarga untuk menjaga trah darah biru dan untuk mengamankan bibit, bobot, bebet. Genocide merupakan kebijakan agar suatu wilayah yang telah terbaur coba untuk dimurnikan menjadi satu ras utama saja.

Dalam kisah fantasi, kemurnian juga menjadi tema yang menarik untuk diperbincangkan. Contohnya ialah tentang darah murni, darah campuran, dan darah lumpur dalam kisah Harry Potter. Mereka yang berdarah murni oleh para penganut konsep tersebut merupakan mereka yang istimewa dan terutama. Voldemort dan kelompoknya menerapkan ideologi darah murni. Baik dalam merekrut maupun ketika berhasil mengkudeta pemerintahan sihir. Meski dalam realitasnya kemurnian itu layak dipertanyakan di internal Voldemort cs. Voldemort sendiri sesungguhnya berdarah campuran. Bapaknya Tom Riddle merupakan muggle (manusia biasa). Pun begitu dengan pengikut Voldemort yang tidak semuanya berdarah murni. Dikarenakan ketakutan akan kejamnya kekuatan Voldemort mereka bergabung dan mengaku berdarah murni.

Murni sebagai manusia juga tidak didapati pada sejumlah kisah fantasi lainnya. Superman, Son Go Ku, sejatinya bukanlah manusia murni 100 %. Superman yang berasal dari planet krypton dikarenakan kehancuran planetnya, lalu mengarungi tata surya dan tiba di bumi. Superman yang untuk kemudian di bumi diberi nama sebagai Clark Kent mengalami sosialisasi politik dan pembentukan nilai sebagai manusia yang tinggal di bumi. Keluarga Kent melalui Martha dan Jonathan seakan menjadi ibu dan bapak yang membentuk lempung kepribadian sang Superman sebagai manusia. Meski begitu sang Superman tetap menyimpan rindu dan asa akan akarnya seperti tercermin melalui istana kristal di bumi atau kerinduannya mencari segala hal yang terkoneksi dengan planet Krypton. Sang Superman pun mempunyai nama dari planetnya yakni Kal-El.

Son Go Ku pun belajar untuk menjadi manusia. Meski sejatinya dia berasal dari planet Vegeta dan memiliki nama Kakarot. Bezita yang mengalami sosialisasi berbeda dengan Son Go Ku mengkritisi kompatriot satu planetnya ini menjadi melemah di bumi. Dalam kisah Dragon Ball hibrida-hibrida semacam Son Go Ku merupakan sesuatu yang lazim dan menjadi tokoh-tokoh utama dalam karya Akira Toriyama ini.

Saya percaya kisah fantasi di atas tidak sekedar lahir dari imajinasi. Ada pesan dan pengalaman sejarah yang membentuknya. Dan disinilah kita di abad 21, di bumi yang menua, di dialektika yang masih terjadi. Kemurnian masih menggaung di ruang-ruang kesadaran kita. Nicolas Sarkozy menyoroti tentang kaum imigran di Perancis yang dianggapnya tidak pandai membaur; pernikahan bagi beberapa orang masih harus melihat bibit, bebet, bobot; termasuk dalam memilih siapa yang berhak untuk menjadi pemimpin; dan banyak contoh lainnya tentu saja. Atau mungkin dialektika tentang kemurnian ini akan terus paralel sepanjang eksistensi manusia? Sejarah boleh terus mencatatkan lembarannya. Jatuh bangun bab tentang kemurnian. Lalu ada tema baru atau tema lama yang kembali menyeruak di panggung kehidupan manusia.

Dalam Catatan Pinggir berjudul Isak, Goenawan Mohamad bercerita tentang Hamsun pengarang novel Markens GrØde Knut Hamsun (terbit 1917, diterjemahkan W.W. Worster menjadi Growth of the Soil). Hamsun merupakan pendukung konsep asli dan murni – seperti diperlihatkan dalam tokoh utama dalam ceritanya yang bernama Isak. Hamsun menggambarkan Isak sebagai sosok hero. Dinarasikan bahwa Isak merupakan “Seorang penggarap ladang, jadad dan jiwa; seorang pekerja di tanah yang tanpa jeda. Sesosok hantu yang bangkit dari masa lalu yang menuju ke masa depan…tapi, dengan semua itu, seorang manusia hari ini.”

Hamsun di lain kesempatan menulis memuja pahlawannya Hitler. Hitler, katanya, “seorang pendekar perang untuk umat manusia, seorang nabi dengan syi’ar baik bagi semua bangsa.” Hamsun tak peduli bahwa syi’ar tentang kemurnian, keaslian, dan primordialisme dari iman Naziisme akhirnya membinasakan: yang tak murni dan tak asli harus dihabisi. Kemurnian: alasan yang tua untuk pembunuhan baru (http://caping.wordpress.com/2011/08/08/isak/).

Kemurnian: memang dapat menjadi akar bagi segala diskriminasi. Dalam kisah Harry Potter dibentuklah komisi khusus untuk men-screening siapa-siapa yang tidak berdarah murni. Muncullah kegemparan massal. Peta keluarga ditelusuri, mengharapkan pengakuan berkelindan dimana-mana, ada juga yang menjadi pelarian. Situasi mencekam di bawah pemerintah bayang-bayang Voldemort lahir dari ide kemurnian. Sebuah ide konyol yang menurut Sirrius Black yang telah terlempar dari pohon keluarga Black ialah sebuah kemusykilan mengingat telah meluasnya tali relasi antara darah dari penyihir murni dengan penyihir yang memiliki leluhur manusia biasa (muggle).

Kisah Harry Potter juga merupakan sebuah sikap mempertanyakan. Bahwa mereka yang berdarah tidak murni pun dapat berprestasi dan membanggakan. Hermione Granger contoh akuratnya. Berorang tua dari muggle yang berprofesi sebagai dokter gigi, Hermione Granger melalui kegigihannya dengan melahap berbagai literatur menjadi sang juara semenjak tahun pertama. Siapapun bisa menjadi yang terbaik baik darimanapun akar kehadirannya.

Hogwarts sekolah sihir di Inggris itu menjadi rumah bagi banyak jiwa, baik itu darah murni, darah campuran, ataupun darah lumpur. Hogwarts menjadi tempat dimana bakat-bakat muda diasah kemampuan sihirnya tanpa harus mempermasalahkan seberapa murni Anda. Jika ditarik ke kehidupan Indonesia di masa lampau, pendidikan Indonesia tidak dapat diakses oleh sembarang orang. Mereka yang orang tuanya bekerja di pemerintah, para darah biru, merupakan para pengecap pendidikan di era politik etis di Indonesia. Sedangkan dalam larik kisah Mahabrata yang dinarasikan melalui wayang, pendidikan memiliki ceritanya sendiri. Seperti Karna yang anak sais itu. Karna melalui surat kepada istrinya bertutur, “Aku datang berguru kepada Durna, tapi Durna menolakku karena aku bukan ningrat, bukan kesatria. Aku datang kepada Bhargawa, mengaku anak brahmana dan jadi muridnya – tapi kemudian ia mengutukku ketika ia menuduhku anak kesatria, kelas yang dibencinya itu, yang berbohong (Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 2: hlm.236). Rupanya pendidikan pun merupakan domain yang menelusuri seberapa murni Anda.

Karna melalui surat kepada istrinya juga berkisah dengan apik sebagai berikut: Tapi akhirnya hanya tindakan besar yang membebaskanku – tindakan Pangeran Duryudana. Dialah yang mengangkatku jadi penguasa di Angga, Istriku, dan dari sanalah aku seakan lahir kembali: kini benar aku bukan anak kasta yang dihinakan. Karna berfilosofi ‘Keberanian bisa datang dari siapa saja, karena seorang kesatria ada bukan hanya karena ayah-bundanya – api toh bisa keluar dari batu gunung yang tak dikenal’.

Kisah fantasi dan dunia nyata bermuara pada satu lini yang sama tentang kemurnian. Bahwa atas nama kemurnian dapat mendestruksi. Bahwa dari manapun akar seseorang, dia layak menjadi bintang, merebut takdir kepahlawanan. Hidup sejatinya memang seperti wajan. Dimana berbagai unsur melingkupi. Kita pun sesungguhnya merupakan pertarikan dari berbagai unsur dan menjadi produk hibrida. Seperti layaknya pertempuran dalam hidup kita tentang nilai. Nilai kebaikan dan kejahatan naik turun panggung kehidupan. Atau memang kemurnian adalah wilayah yang tidak 100 % otentik. Ada seolah-olah dan pemaksaan, seperti narasi Voldemort alias Tom Marvollo Riddle.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s