Posted in Essai, Politik, Sosial Budaya

Ruang

Setiap dari kita membutuhkan ruang. Untuk mengartikulasikan kata, untuk menyampaikan pendapat. Maka ruang-ruang publik berarti. Karena dari sanalah ada keterkenalan. Ada kesempatan untuk melontarkan gagasan, ide, pemikiran, dan melambungkan nama. Maka ruang-ruang publik adalah harga. Perusahaan membeli space-space ruang publik untuk mempromosikan barang dagangannya, politisi membeli ruang-ruang publik untuk memperkenalkan siapa dirinya. Bagi para ideolog, ruang juga penting untuk mendiseminasi gagasan. Untuk menyakinkan bahwa gagasan itu hidup, diterima, dan tidak teronggok di tempat sunyi.

Apa jadinya para ideolog jika tidak mendapatkan ruang? Ide-idenya dapat menua, layu dan tenggelam. Ide yang terpublikasi memungkinkan adanya ruang dialogis untuk menguji seberapa solid pemikiran tersebut. Seberapa reliable pemikiran tersebut. Ideologi menemukan ruangnya dalam ranah kenyataan di tangan para praktisi. Konsep tersebut tidak lagi sekedar tulisan dalam kertas, mimpi-mimpi yang tertera, juga telah turun ke bumi, menemui realitasnya sehari-hari. Hari-hari kita merupakan manifestasi dari gerak ideologis sadar ataupun tidak sadar. Kita pun sesungguhnya menjadi praktisi ideologi sadar ataupun tidak sadar. Kita memberi ruang bagi ideologi untuk hidup dalam keseharian.

Ruang-ruang yang menyempit, itulah yang menjelaskan perlawanan dan kebencian. Tumpukan manusia dalam teritori lebih memudahkan untuk terjadinya eksplosi. Bergerak sedikit telah berbenturan dengan ego demi ego. Maka lihatlah tabiat mereka yang di kota dan di desa. Di kota dengan segala keterdesakan ruangnya cenderung lebih kerap dan siap berkonfrontasi. Apalagi pemerintah kota tak cukup memberikan ruang terbuka hijau, ruang publik, ataupun kanal bagi pemikiran.

Ruang-ruang yang menyempit, itulah yang menjelaskan tentang praktek dominasi kekuasaan. Segenap ruang ingin dikuasai atas titah penguasa. Maka seolah tak ada jalan alternatif, tak ada ruang lapang bagi pemikiran berbeda. Ruang yang maha itu pun didesakkan oleh pesan-pesan penguasa. Melalui bentuk fisik, melalui ancaman intelektual. Namun jangan lupa setiap orang masih memiliki ruang dalam dirinya. Ruang untuk berkata “tidak”. Mungkin dalam keseharian dan kesempatan “tidak” itu disimpan dalam diam. Namun kata “tidak” itu nyata. “Tidak” itu hidup. Dan “tidak” itulah yang menjelaskan terjebolnya ruang-ruang diktatorisme dan terbukanya lahan kesempatan baru.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s