Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Games

Mari Bermain (Toys & Comic Fair 2012)

Bukankah hidup adalah permainan dan senda gurau belaka? Sepanjang usia saya percaya kehidupan dari manusia selalu terkoneksi dengan kata bermain. Adalah sebuah penipuan sejarah dan konsep ketika menyatakan pada usia dewasa merupakan limit pemberhentian bermain. Hanya arena dan jenis permainannya saja yang berbeda. Ketika dalam lingkup pekerjaan misalnya, maka arena bermain-mainnya dapat seperti beberapa PNS pajak itu yang menggelembungkan pendapatannya dan merugikan negara; atau seperti sejumlah politisi yang gemar memanipulasi suara rakyat untuk meraih kuasa, kekayaan, dan pengaruh; atau sejumlah orang tua yang menjadikan anaknya sebagai barbie dan robot yang harus menuruti skema yang diinginkannya.

Pada hari Sabtu dan Ahad (10-11 Maret 2012) bertempat di Balai Kartini diselenggarakanlah perhelatan The Jakarta 8 th Toys & Comic War Fair 2012. Sebuah perhelatan akbar yang memanjakan terutama para pecinta mainan. Saya sendiri menghadiri Toys & Comis Fair tersebut pada hari Sabtu dan berikut ulasan dari pena saya. Acara Toys & Comic Fair memuat banyak panel acara, seperti Lego Build A Brick Competition, X Men Animated Cabaret, Star Wars Costume Performance, Saint Seiya Cabaret, Robot Gatotkaca & Garuda Performance, US Cosplay Costume Performance, dan sebagainya. Sedangkan dari pengisi stand banyak varian yang terdapat seperti Lego, Marvel Toyz, Toys Army, Kizaru, beberapa komunitas yakni Superman Fans of Indonesia, Komunitas Tintin, Indo Marvel Community, Indonesia Zombie Club.

Bagi para pecinta action figure bolehlah dikatakan bahwa Toys & Comic Fair merupakan festival yang benar-benar memanjakan dan menjadi surga. Ada begitu banyak action figure yang dijual dan menjadi etalase menarik untuk dipotret. Bagi pecinta action figure perang terdapat action figure Nazi, tentara Amerika lengkap dengan segala atribut di berbagai medan tempur. Bagi pecinta action figure yang horor terdapat Jason si pembunuh bertopeng. Bagi pecinta action figure berbasiskan Jepang tentu saja banyak pilihan- mulai dari Saint Seiya, Conan Edogawa, Dragon Ball, Final Fantasy, dan sebagainya. Action figure ala Indonesia juga ada seperti replika Soekarno dari wilayah pundak hingga kepala yang berharga 4,5 juta, ada juga tokoh dari kisah perwayangan yakni Dasamuka, Gatotkaca.

Toys & Comic Fair juga menjadi tempat eksistensi bagi sejumlah komunitas. Yang agak mengerikan, menakutkan, dan membuat saya agak bergidik ialah dengan aksi Indonesia Zombie Club. Ketika sedang berjalan berkeliling, saya berpapasan dengan seorang berkostum dan berlagak penjagal dengan pisau daging di genggaman. Bajunya dikemas agar penuh dengan bercak-bercak darah dan tampilan wajah yang menunjukkan kegilaan. Tak jauh dari situ ada seorang wanita dengan rambut terurai berantakan, berbaju putih nan horor. Dia juga membawa manekin kaki.

Adapun aksi di panggung utama yang sempat saya saksikan ialah Starwars Costume Performance dan Saint Seiya Cabaret yang dilakoni oleh Opera Pan Japan (OPJ). Pada Starwars Costume, saya masih mendapati kostum-kostum yang dikenakan oleh para pecinta serial yang diciptakan oleh George Lucas ini. Ada pedang laser, ada sosok The Dark Side, yang melambungkan imajinasi pada dimensi yang berbeda dari Jakarta kontemporer. Pada Saint Seiya Cabaret ada duplikasi dari konsep Opera Van Java, dimana terdapat dalang atau pewarta cerita. Kisah yang diangkat ialah tentang pertarungan untuk mendapatkan armor Sagitarius dan pertarungan kuil dua belas bintang. Dikarenakan penampilan panggung dari Saint Seiya ini bertepatan dengan waktu Maghrib, maka saya tidak dapat melihatnya secara full.

Untuk memeperebutkan armor Sagitarius dilaksanakan sejumlah duel yakni: Seiya vs Hyoga; Shun vs Unicorn; Seiya vs Shun; Seiya vs Shiryu; Seiya vs Ikki; dan Ikki menghadapi Seiya, Hyoga, Shiryu, serta Shun. Duel yang terjadi berlatarkan musik seperti cerita anime-nya. Lingkup nuansa yang mendamparkan ingatan saya pada bilangan tahun yang telah berlalu. Gaya pertarungannya pun menduplikasi seperti anime-nya. Mulai dari pukulan beruntun Seiya, terengah-engahnya Seiya, gaya memukul yang seperti panah melesat. Untuk penampilan di atas panggung pelakon Seiya cukup berani beraksi jatuh-jatuhan dalam duel tersebut.

Selepas dari duel memperebutkan armor Sagitarius, Athena terkena panah dari entah siapa. Beredar juga warta bahwa Athena yang terkena panah ialah Athena palsu. Seiya cs untuk kemudian harus melewati kuil 12 untuk menyelamatkan nyawa Athena. Pertarungan melawan Gold Saint pun terjadi dengan diawali oleh Shiryu melawan Cancer. Idem dito dengan anime-nya dimana rekan-rekan perjuangan terus berlari memburu waktu, sedangkan duel terjadi antara dua ksatria. Shiryu pun memenangkan duel dengan Cancer. Pada kuil berikutnya, Seiya menghadapi Leo. Leo berhasil mengalahkan Seiya, namun Leo berbaik hati dan mengijinkan Seiya lewat dari kuilnya. Setelah itu saya beranjak untuk shalat Maghrib di gedung sebelah dan ketika kembali ke panggung pertunjukan lakon telah selesai.

Dalam lakon Saint Seiya Cabaret tersebut saya tidak tahu apakah ceritanya paralel dengan cerita dalam kisah asli Saint Seiya. Menurut sobat saya, Yusuf, cerita Saint Seiya tersebut bermuara pada konklusi bahwa Athena yang terkena panah ialah Athena asli. Paus sang pemimpin tertinggi dibunuh oleh Gemini dan Gemini merupakan sosok yang menyebarkan desas desus bahwa Athena yang ada merupakan Athena palsu. Gemini yang memiliki dua perwajahan dan dua sisi (baik dan buruk) mengalami pertempuran internal dirinya antara konsep baik dan buruk. Konsep yang sesungguhnya terjadi pada setiap insan manusia. Gemini baik akhirnya menyesal atas segala kejadian yang berlangsung dan ia menebus segala kesalahannya dengan membunuh diri di hadapan Athena.

Perhelatan Toys & Comic Fair juga menghadirkan sejumlah komik. Rata-rata komik yang mengisi stand ialah komik-komik edisi lama, seperti komik Mahabrata karya R.A.Kosasih, komik Tintin, komik Batman, dan sebagainya. Jika merujuk pada judul besarnya yakni war antara Toys dan Comic maka jelas terlihat ketimpangan antara Toys dan Comic. Toys lebih mendominasi dan menghegemoni dalam perhelatan yang telah menginjak tahun kedelapannya ini. Selain Toys dan Comic juga terdapat variasi lainnya seperti kaus bernuansa anime, binatang peliharaan, majalah bertemakan toys, cosplay, penayangan thriller film yang di-support oleh pocongmen.

Saya sendiri membeli baju dari Kizaru. Toko baju ini sendiri secara personal telah mendapat di hati saya dikarenakan kualitas dan desainnya yang kreatif. Aslinya toko baju ini bertempat di Jl.Trunojoyo 23 Bandung, dan dalam beberapa kesempatan saya ke Bandung, toko baju ini menjadi destinasi bagi saya dalam membeli kaos yang bertemakan fantasi. Ternyata Kizaru telah membuka cabang di Jakarta di daerah Tebet.

Diantara berbagai stand yang ada, saya tertarik dengan cita rasa Indonesia yang dihadirkan oleh stand Damn I Loved Indonesia. Damn I Loved Indonesia sendiri merupakan bentuk kreativitas dan menumbuhkan semangat kebangsaan dalam cita rasa kontemporer. Beragam desain dari kaos dari toko yang digawangi oleh Daniel Mananta ini seperti Gatotkaca dalam tampilan kontemporer, Semar, Petruk. ataupun dengan kalimat-kalimat yang bertemakan muda dan patriotik. Dalam Toys & Comic Fair kemarin yang menyita perhatian tentu saja replika Soekarno dari pundak hingga kepala yang dibandrol dengan harga 4,5 juta. Replika Soekarno ini sebelumnya mengisi lapis memori saya ketika melihat liputan toys photography di Metro tv yang menghadirkan Fauzie Helmy. Fauzie Helmy memotret replika Soekarno dengan latar belakang istana Bogor dan hasil jepretannya fantastis dalam penilaian saya.

Film Gamer yang diperankan oleh Gerard Butler menuturkan bahwa sesungguhnya manusia memiliki free will dan semangat pembebasan untuk menolak tunduk pada despotik. Dalam kehidupan sehari-hari bisa jadi kita merupakan bidak, obyek yang dipermainkan oleh pihak lain. Kita bisa jadi sekedar lakon yang diberikan suara, diberikan peran oleh dalang yang berada di belakang layar. Sudah selayaknya bagi kita untuk mempertanyakan peran dan makna eksistensi kehadiran kita di bumi. Dan pagelaran toys & comic fair semoga dapat memberikan makna filosofis dan filsafat bagi peran manusia-manusia di negeri ini agar lebih baik lagi. Mari memainkan peran dan tidak menjadi mainan dari pihak lain.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s