Posted in Edukasi, Essai, Sosial Budaya

Menulis dan Membaca

Menulis dan membaca merupakan panel yang saling menguatkan. Dengan rajin membaca maka semakin mengokohkan ketika menulis. Dengan rajin menulis maka semakin menggeluti dalam membaca. Bagi seorang yang memiliki habit untuk menulis, apa-apa yang dibaca bukan sekedar untuk memenuhi waktu dan sebagai pemuas hobi. Membaca merupakan upaya untuk mengumpulkan bahan baku tulisan. Membaca merupakan upaya untuk menggugah inspirasi dalam menulis. Membaca juga merupakan upaya untuk memverifikasi baik konsep ataupun data.

Saya percaya Indonesia akan lebih maju dari titik sekarang jika berkembang wabah menulis dan membaca. Akan terjadi persebaran gagasan, ilmu, dialektika konsep. Dengan tumbuh kembangnya budaya literasi, maka banyak jejak-jejak ilmu yang dapat terpelihara dari kemusnahan. Setiap anak bangsa juga dapat menelusuri mengenai khazanah kekayaan dari negeri ini. Thomas Stamford Raffles yang menyusun The History of Java merupakan contoh otentik mengenai pembacaan dan penulisan. Untuk menulis The History of Java, Raffles mengumpulkan aneka ragam bentuk literasi seperti naskah Baratayuda versi Bali, Serat Manik Maya, babad kesusastraan Jawa. Total 30 ton dokumen tentang Jawa yang dibawa oleh Raffles ke London sebagai bahan baku penulisan The History of Java. Raffles berhasil menyusun dua jilid buku: The History of Java, sebuah buku babon 1.000 halaman lebih yang berisi pembahasan luas mengenai geografi, agrikultur, adat istiadat, sastra, agama, tumbuh-tumbuhan, ekonomi, dan statistik kependudukan Jawa (Majalah Tempo, 100 Catatan yang Merekam Perjalanan Sebuah Negeri: hlm.24). Sebuah penemuan ilmu dan penghayatan yang mendalam untuk menggali dan menuliskan tentang salah satu bagian dari Indonesia.

Bagaimana kiranya dengan kondisi kontemporer menulis dan membaca di negeri ini? Ada sejumlah kekhawatiran dan sejumlah fakta yang diungkap. Salah satunya ialah melalui surat edaran Dikti yang memaparkan bahwa karya mahasiswa Indonesia di jurnal ilmiah hanya 1/7 dari karya mahasiswa Malaysia. Kekhawatiran juga muncul dengan semakin tergerusnya minat baca dan menulis dengan massifikasi teknologi. Waktu-waktu membaca dari mereka yang telah terkoneksi dengan internet dapat semakin berkurang mengingat ada tarikan dari magnet media jejaring sosial, film, televisi. Membaca menadapatkan perlawanan serius dari apa yang diistilahkan dengan kata “modern”.

Di lain pihak, teknologi juga dapat membantu bagi berkembangannya daya penulisan. Kini manusia tidak mesti harus berjibaku dengan mesin ketik untuk membuat tulisan. Ada komputer yang memungkinkan seseorang lebih menghemat energi dalam membuat tulisan. Kemajuan teknologi juga mengenal istilah blog. Blog dapat menjadi rumah intelektual bagi banyak orang. Di Indonesia saja pengguna blog telah mencapai 6 juta orang. Teknologi juga memungkinkan untuk melakukan pencarian informasi dengan berada di satu tempat, di depan layar. Dengan menggunakan metode search engine, mencari di jurnal ilmiah, maka segala pertanyaan yang masih menggelayut di kepala dapat terjawab.

Meski begitu di sisi lain kemudahan mencari informasi dan menduplikasi juga dapat menimbulkan penulisan metode copy paste. Mencomot sana sini dengan serampangan dalam kanal tulisan yang dibuat. Copy paste merupakan bentuk pelanggaran tradisi akademik, membekukan kreasi berpikir. Pada dasarnya menulis merupakan proses yang membutuhkan waktu. Dari ide, konsep, data, verifikasi, editing. Oleh karena itu dapat saya katakan menulis merupakan sebuah pekerjaan yang tidak mudah juga. Menulis membutuhkan tanggung jawab dari penulisnya akan apa yang dituliskan. Untuk memverifikasi apa yang ditulis dapat melakukan studi pada berbagai literatur yang ada. Pada titik inilah yang menjelaskan bahwa konsep menulis dan membaca saling berkelindan.

Dengan menulis juga merupakan upaya untuk merawat ingatan dari apa yang dibaca. Teramat memungkinkan bagi kita untuk lupa dengan apa-apa yang telah dibaca. Tak berlebihan jika Ali bin Abi Thalib menyatakan,”Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. Dengan menuliskannya segala ilmu yang telah dibaca akan memiliki jejak historis, dan bagi penulisnya akan lebih terkokohkan di memori. Menulis juga memungkinkan untuk merekam apa yang diucapkan, dilihat. Sesuatu yang belum menemukan bentuk literasi dapat ditumpahkan dalam bentuk tulisan. Mentransformasikan dalam bentuk tulisan ini merupakan bagian dari dokumentasi sejarah. Seperti diperlihatkan oleh Tempo yang membuat serial khusus 100 catatan yang merekam perjalanan negeri Indonesia. 100 catatan itu dari beragam bentuk mulai dari maklumat, peta, pidato, catatan harian, puisi, prosa, serta buku fiksi dan non fiksi.

Memperhatikan apa yang dibaca menurut hemat saya merupakan upaya untuk menjaga kualitas dari penulisan. Membaca dapat membentuk pola berpikir, mengakses pengetahuan, dan membentuk gaya penulisan. Maka awasi betul apa yang dikonsumsi dalam bentuk bacaan. Membaca ibaratnya memberi makanan pada pemikiran. Membaca bahan-bahan yang lemah dan tidak berbobot ibaratnya menyantap makanan tidak sehat dan dapat mengundang penyakit. Dengan luberan informasi dan berlimpahnya bahan bacaan menurut hemat saya membaca buku yang menjadi magnum opus, buku babon merupakan keharusan. Bacalah dari bahan yang kualitasnya super dan numero uno untuk mendapatkan kompetensi menulis yang baik pula.

Memperhatikan apa yang dibaca secara personal saya lakukan dengan sebisa mungkin membaca sumber bacaan dari koran dibandingkan portal berita di internet. Portal berita di internet umumnya hanya agar pembaca tahu, namun kurang konstruktif bagi membangun daya penulisan yang baik dan logika berpikir yang sistematis. Sebisa mungkin juga hindari berkecimpung dalam jumlah waktu yang banyak di jejaring sosial. Umumnya perkataan yang melintas di dunia maya, banyak yang dalam istilah saya merupakan sampah kata-kata. Menekuni terlampau intens sampah kata-kata akan menurunkan dan membentuk gaya penulisan yang tidak baik.

Membaca berbagai literatur dalam satu genre pastinya akan membentuk bata demi bata pengetahuan apabila menuliskan tentang genre tersebut. Seperti misalnya dengan intents membaca literatur politik, maka konsep, diksi, pengetahuan tentang ranah politik akan terdapati. Maka ketika menulis pun akan mendapatkan kemudahan. Dibandingkan misalnya menuliskan tentang kedokteran. Hal inilah yang penting kiranya bagi mereka yang memiliki habit menulis untuk memilah bahan bacaan. Menekuni genre tertentu dengan membaca berbagai literatur di genre tersebut akan menjadikan kualitas tulisan berbobot, mendalam dan mengena. Luasnya spektrum ilmu menurut hemat saya membuat seseorang harus memilih untuk ingin menekuni genre penulisan apa. Pilihan yang spesifik juga memudahkan untuk menentukan positioning dari penulis. Seperti misalnya Albertiene Endah yang memiliki spesifikasi di bidang biografi, Andrea Hirata di bidang novel.

Berada di komunitas yang mengapresiasi menulis dan membaca juga akan mengakselerasi kemampuan serta memungkinkan terjadinya tukar menukar informasi. Berada di komunitas yang mendukung akan men-support secara utuh daya intelektual. Contohnya saya dapati dengan seorang teman saya yang di rumahnya bertebaran buku di tiap sudut. Hal ini membentuk kultur membaca dan tradisi intelektualitasnya. Tak mengherankan teman saya tersebut merupakan salah seorang yang memiliki daya jangkau pengetahuan yang luas dan mendapatkan sukses di akademik serta organisasi. Dengan perkembangan tekonologi juga telah bertebaran di dunia maya berbagai komunitas yang menjadi tempat aktif untuk saling menulis, dan membaca. Berteman dengan penjual minyak wangi akan mendapatkan harumnya, sedangkan berteman dengan pandai besi akan mendapatkan panasnya api. Begitu juga dengan bersahabat dengan para pecinta dan pengapresiasi dunia tulis-baca maka akan mengkonstruksi kultur tulis-baca menjadi satu dalam ritme kehidupan.

Untuk membentuk kultur menulis dan membaca, hal sederhana yang dapat dilakukan ialah dengan menanyakan sudahkah Anda menulis hari ini? Atau buku apa yang sedang Anda baca? Saya percaya meningkatkan kemampuan menulis dan membaca tidak akan datang dengan sendirinya. Diperlukan kesungguhan. Dan layaknya kita bertanya sudah seberapa mampu diri pribadi dalam menjalankan ritme menulis dan membaca di personal? Selamat menulis dan membaca.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s