Posted in Edukasi, Essai, Fiksi Fantasi, Sosial Budaya

Menulis dan Chef

Menulis ternyata memiliki paralelisme dengan pekerjaan chef. Chef merupakan kepala koki yang memiliki tanggung jawab dalam proses dan hasil akhir masakan. Apa kiranya persamaan menulis dengan profesi chef? Menulis merupakan proses memproses dari berbagai bahan yang ada, begitu juga dengan memasak. Dalam acara masak di televisi ataupun resep masakan di majalah akan Anda dapati bahan-bahan dari masakan dan cara pengolahannya. Menulis pun memerlukan bahan-bahan. Jika menulis dalam kerangka ilmiah, maka bahan-bahannya ialah referensi yang kokoh dan dapat dipercaya. Memilih bahan yang berkualitas akan menentukan hasil akhir, baik dalam memasak ataupun menulis.

Seorang chef yang handal memperhatikan bahan yang akan diolahnya. Mengetahui karakteristik dari bahan makanan. Seperti sejauhmana bahan tersebut dapat bertahan, kandungan gizi dalam bahan makanan, serta kemungkinan persilangan dengan bahan makanan lain. Menulis pun begitu. Mengetahui bahan baku tulisan dengan baik teramat membantu dalam menyusun tulisan secara baik. Bahan yang terpilih misalnya dapat dilihat dari referensi yang diambil. Kantor berita Perancis Agence France-Presse (AFP) melarang para wartawannya untuk mengambil referensi dari wikipedia. Seperti diketahui wikipedia masih dipertanyakan derajat kebenarannya karena dapat diedit oleh siapa saja. Mengenai membaca bahan bacaan yang bagus baik kiranya saya kutipkan dari buku Cerita Di Balik Dapur Tempo: “Menulis bagus itu dimulai dari membaca bagus,” kata Redaktur Senior Amarzan Loebis. Di masa kepemimpinan Goenawan Mohamad, menurut Amarzan, membaca fiksi dan media asing adalah kewajiban setiap wartawan Tempo. “Goenawan sering mendadak mendatangi meja seseorang dan bertanya, “Sedang baca apa?” “Kalau kita tak membaca buku, atau katakanlah feature The New Yorker atau majalah asing, malulah kita,” kata Amarzan. Membaca buku atau media yang baik membantu menempa seseorang menjadi penulis (berita) yang baik (Tim Tempo, Cerita Di Balik Dapur Tempo: hlm.85).

Kandungan gizi dari bacaan dapat dilihat dari kaliber yang menghasilkannya. Bagi penulis, membaca dari bahan bergizi akan teramat membantu dalam membentuk kualitas tulisan. Memilih bacaan yang bergizi akan menyehatkan pemikiran dan teramat membantu dalam mengolah tulisan yang baik. Secara referensi kekuatan analisa, data yang mendukung, akan teramat mempengaruhi tradisi intelektual kita. Saya sendiri secara personal berhati-hati untuk membaca tulisan. Bacaan yang bergizi buruk, secara tata bahasa, alur berpikir, serta konsep yang disampaikan akan mengkreasi bagaimana cara berpikir. Oleh karena itu perhatikanlah internalisasi bacaan yang masuk ke dalam diri. Telahkah memenuhi standar gizi? Membaca dengan kadar gizi rendah akan dapat mengkorosi daya tulis dan daya pikir.

Bahan bacaan juga memiliki masa kadaluarsa. Perhatikan tanggal dari penerbitan tulisan. Apabila informasi yang kita cari, merupakan referensi yang terus bergerak dan berkembang, maka sedapat mungkin jangan sampai bacaan kita tertinggal. Membaca dari bahan yang kadaluarsa membuat ada jarak dan kesalahan dalam informasi. Otomatis dari input yang salah, maka output tulisan pun akan keliru. Jangan sampai tulisan Anda menjadi ketinggalan zaman dan tidak reliable.

Menulis juga merupakan persilangan dari berbagai bahan yang ada. Disinilah dibutuhkan ketrampilan, intuisi dari penulis. Menggabungkan berbagai bahan bacaan secara serampangan akan menyebabkan porak poranda dan alur tulisan menjadi meracau. Dibutuhkan takaran yang pas dalam menyatukan berbagai bahan dan bumbu dalam menulis. Tidak ada rumus pasti memang mengenai takaran dalam menulis. Ada kalanya membutuhkan narasi yang panjang, data yang mengkonstruksi, alur dialog yang cerkas, dan sebagainya. Kelihaian dan kepiawaian untuk menentukan metode yang dibutuhkan diperlukan. Sama kiranya ketika memasak dimana varian makanan membutuhkan cara yang berbeda-beda dalam pengolahan.

Dapur adalah ruang bagi chef untuk mengolah bahan makanan untuk kemudian menjadi makanan yang layak saji. Di dapur inilah kesibukan dan aneka bahan bertumpukan. Jika dianalogikan dengan menulis, jangan ragu-ragu untuk memilih “dapur” dalam menulis. Anda bisa memilih kamar Anda sebagai “dapur” penulisan. Dimana dari “dapur” ini lahir portofolio tulisan demi tulisan. BJ Habibie ketika menuntut ilmu di Jerman menjadikan kamarnya sebagai “dapur” bagi karya ilmiahnya. Tumpukan buku, kertas, dan keriuhan penelitian yang dilakukannya nyata terlihat. Seperti dinarasikan oleh Ainun dalam buku A.Makmur Makka sebagai berikut:,,Saya bahagia malam-malam hari berdua di kamar: dia sibuk diantara kertas-kertasnya yang berserakan di tempat tidur, saya menjahit, membaca atau berbuat yang lainnya.” Kamar dapat menjadi ruang kreatif karena disana ada teritori kemerdekaan untuk mengatur dan bisa meminimalisir gangguan lainnya.

Dengan kemajuan teknologi dan banyaknya tempat yang kondusif, “dapur” bagi penulisan dapat lebih beragam lagi. Kini Anda dapat membawa laptop ataupun i pad kemana-mana, dan di tempat berlabuh itulah Anda dapat menuliskan aksara demi aksara. Berbagai fasilitas di ruang publik yang menyajikan internet gratis juga memungkinkan menjadi “dapur” bagi proses penulisan. Seperti yang sama dapati di perpustakaan Fisip UI dimana bertebaran para mahasiswa yang membawa laptop dan mengerjakan tugas kuliahnya dengan di-support oleh aliran internet gratis. Bagi yang memiliki sisi finansial berlebih dapat menjadikan kafe dengan nuansa yang cozy sebagai “dapur” karya penulisannya. Internet, suasana tenang, musik yang mengalun merupakan fragmen yang dapat menyokong lahirnya literasi tertulis.

Pada beberapa acara masak, sejumlah chef handal menyajikan masakannya di alam terbuka. Sebuah paduan antara wisata dan kuliner. Begitu juga dengan penulisan. Untuk menghasilkan tulisan, Anda dapat melakukan perjalanan ataupun mengasingkan diri sementara bagi laju karya. Untuk melakukan penelitian, misalnya maka diperlukan terjun langsung ke lapangan. Untuk mendapatkan data, hidup bersama dengan semesta yang diteliti. Dengan demikian hasil penelitian dapat benar-benar memotret secara utuh fenomena nyata yang terjadi. Dalam karya fiksi, Dewi Lestari pernah melakukannya ketika membuat novel Perahu Kertas. Ia tinggal di tempat kos yang berada di lingkungan mahasiswa untuk mendapatkan feel dan cerita yang bertalian erat dengan novelnya. Pada beberapa novel lain, juga kita dapatkan bahwa sang penulis melakukan perjalanan nyata untuk menangkap apa yang dirasakan untuk kemudian dituangkan dalam tulisan. Andrea Hirata dalam tetralogi Laskar Pelanginya menangkap fragmen-fragmen kisah kehidupan yang pernah dilaluinya. Kita dibawa ke berbagai negara seperti Inggris, Belanda, dan negara-negara Afrika. Contoh lainnya ialah American Gods karya Neil Gaiman yang membawa kita pada nuansa Amerika. Neil Gaiman menuturkan: Saya menulis bab pertama dalam perjalanan kereta dari Chicago ke San Diego. Dan saya terus bergerak, dan saya terus menulis. Saya menyetir dari Minneapolis ke Florida melalui jalan-jalan kecil, mengikuti rute yang saya pikir akan ditempuh oleh Shadow di dalam buku. Saya menulis, dan terkadang, ketika saya tidak punya ide, saya akan kembali ke jalan. Saya makan kue pastel di Upper Peninsula dan hush puppies – kudapan dari tepung jagung – di Kairo. Saya berusaha keras untuk tidak menulis tentang tempat yang belum pernah saya datangi (Neil Gaiman, American Gods: hlm.8). Contoh lainnya ialah Percy Jackson karya Rick Riordan yang membawa kita pada titik-titik penting dari Amerika seperti Empire State Building, Las Vegas, dan sebagainya.

Setiap Chef memiliki karakteristik dan kekhasan. Dalam acara Master Chef Indonesia kita mendapatkan ada yang core competence-nya di bidang kue, masakan barat, dan sebagainya. Begitu juga dengan menulis. Ada begitu banyak genre yang dapat dipilih dan masing-masing memiliki distingsi. Spesifikasi yang ada di toko buku cukup membantu untuk memilah dan memilih karya sesuai genre. Ada yang di genre teenlit, roman, misteri, novel fiksi fantasi, dan banyak lagi. Ketika menulis Anda juga sesungguhnya sedang mengukuhkan branding dari portofolio tulisan Anda. Akan dikenal sebagai penulis apa Anda? Dengan demikian ada karakteristik yang khas dari masing-masing. Termasuk soal cita rasa tulisan.

Cita rasa tulisan dapat menjelaskan mengapa seseorang dapat mem-verdict bahwa tulisan ini menarik dan di lain orang tulisan tersebut tidak menarik. Ibaratnya hasil masakan yang akan dimaknai berbeda oleh lidah yang berbeda. Menurut hemat saya, konsistenlah dalam membentuk karakteristik penulisan. Untuk membentuk karakteristik dan kekhasan penulisan sendiri membutuhkan waktu, pembiasaan, dan terus menerus menulis. Jika dalam dunia kuliner ada para pencicip, maka dalam dunia penulisan ada pembaca. Anda dapat mengajak teman-teman Anda untuk menilai dan menimbang tentang cita rasa tulisan Anda. Jika teman-teman Anda berpendapat bahwa tulisan yang dihasilkan telah memiliki cita rasa khas dari Anda atau dalam terminologi loe banget, berarti telah terbentuk karakter penulisan yang unik dan personal.

Saya percaya bahwa segala sesuatunya membutuhkan waktu. Untuk menjadi chef handal dibutuhkan waktu. Ada proses dalam pencarian dan pembentukan hingga mencapai limit chef yang diakui. Pun begitu dengan menulis. Dibutuhkan waktu dan pembelajaran. Menulis bukan pelajaran yang dapat dicangkokkan dan sekedar dihafal saja. Menulis merupakan kerja nyata yang perlu senantiasa diasah dengan cara menulis, menulis, dan menulis. Jadi, selamat menyajikan aksara.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s