Posted in Buku, Edukasi, Essai, Fiksi Fantasi, Politik, sastra, Sejarah, Sosial Budaya

Kisah Klasik Indonesia

Entah apa yang ada di benak para penggagas kebijakan pendidikan Indonesia. Ketika pelajaran bahasa Indonesia mengalami sejumlah reduksi serius. Sebuah pelajaran yang memerlukan pelajaran. Pelajaran bahasa yang memisahkan dari elan vital, gairah, dan jiwa berbahasa. Maka tak mengherankan jika hilirnya ialah sejumlah dekadensi dan kerusakan seperti yang kita lihat dan rasakan dalam rumah besar bernama Indonesia. Padahal peran sastra penting kiranya bagi pembentukan jiwa dan pembentukan karakter. Umar Bin Khattab berujar, “Ajarkanlah anak-anakmu karya sastra agar anak yang pengecut menjadi pemberani.” Adapula dari era pendidikan era kolonial Belanda yang mewajibkan siswa didiknya untuk membaca karya-karya sastra dunia. Para founding fathers Indonesia seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, Natsir, merupakan sejumlah nama yang merasakan manfaat segi dari sistem tersebut. Output-nya ialah membentuk para pemikir autodidak dan karena tuntutan historis menjadi politikus moralis (Ahmad Suhelmi, Seri Studi Politik-Menegakkan Amar Ma’ruf Nahyi Munkar.Biografi Mohammad Natsir: hlm.102).

Sastra semestinya mendapat tempat lebih dalam kurikulum pendidikan negeri ini. Metode pengajarannya juga harus benar kiranya. Jangan sekedar memberikan materi pembelajaran agar siswa mampu menjawab aneka ragam soal di berbagai ujian. Pelajaran tentang karya sastra tidak semestinya menjadi pelajaran beku, kaku, dan membosankan. Sekedar menjadi pelajaran menghafal. Pengarang dan karyanya, pengarang dan angkatannya, namun tidak diberikan dorongan bagi para siswa untuk menyelami indahnya untaian kata dari karya sastra Indonesia, ide yang termaktub dalam karya tersebut, bagaimana karya tersebut menjadi jiwa zamannya.

Majalah Tempo edisi khusus tanggal 19-25 Mei 2008 dengan judul besar 100 catatan yang merekam perjalanan sebuah negeri, mengulas beberapa karya sastra klasik. Karya-karya itu yakni: Siti Nurbaya, Belenggu, Dari Ave Maria Ke Jalan Lain Ke Roma, Surabaya, Layar Terkembang, Salah Asuhan, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Adakah Anda pernah membaca karya-karya tersebut sampai tamat? Saya memprediksi seminimalnya Anda pernah mendengar judul karya tersebut, meski untuk menamatkannya masih merupakan tanda tanya. Saya sendiri dari deretan judul di atas, telah menamatkan membaca Belenggu, Salah Asuhan, dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Permasalahannya dalam pelajaran bahasa Indonesia ialah kerap muncul soal dari karya sastra tersebut, namun para siswa sesungguhnya belum pernah membaca karya yang dipertanyakan. Bahkan dengan metode pengajaran yang ada, dapat menimbulkan antipati dan membuat siswa berpersepsi karya sastra Indonesia era lawas tidak menarik. Padahal menurut hemat saya karya-karya sastra Indonesia era lampau sangat memukau. Ada keindahan dalam bertutur, ada nuansa filmis yang berhasil dibentuk, dan ada pesan kuat yang digagas.

Roman Siti Nurbaya misalnya menyorot kawin paksa juga mendobrak kekakuan adat. Roman Belenggu memuat pesan yang paralel dengan perkataan Jean Jacques Rousseau berikut: “Manusia memang dilahirkan bebas tapi secara keseluruhan sebenarnya ia terbelenggu.” Karya Dari Ave Maria Ke Jalan Lain Ke Roma merupakan upaya pengarangnya untuk mengolok-olok Jepang dan mempelopori gaya penulisan prosa realis di Indonesia. Novel Surabaya yang menjungkirbalikkan gambaran tentang revolusi. Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya menurut pengarangnya (Idrus) dikobarkan oleh preman-preman. Novel Layar Terkembang yang menyampaikan ide tentang di mana seharusnya bangsa ini berdiri, baik di masa lalu maupun di masa depan. Novel Salah Asuhan yang menunjukkan hebatnya persoalan krisis identitas dalam wacana pascakolonial. Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang mewakili kegelisahan kaum muda serta berusaha mendobrak adat feodal yang masih bercokol (Tim Tempo, 100 catatan yang merekam perjalanan sebuah negeri: hlm.62-74).

Membaca langsung karya sastra lawas ibarat menyelami langsung ke samudera pengetahuan. Anda dapat melihat, merasakan desir-desir keindahannya. Tidak lagi melalui sejumlah pemotongan ataupun pendapat dari orang lain. Anda mendapatkan keindahan yang utuh. Membaca langsung karya sastra juga akan menumbuhkan minat baca dan menyokong kemampuan menulis. Dapatlah kiranya belajar dari bagaimana menggambarkan suasana, dialog yang dipilih, muatan makna yang terkandung. Dalam menulis, dengan membaca karya yang telah teruji kualitasnya maka dapatlah belajar dengan lebih baik dan konstruktif. Dibandingkan dengan belajar tata bahasa dan aturan-aturannya, namun kering dalam aplikasi, lebih baik belajar dari karya sastra secara langsung.

Dalam fragmen serial Twilight volume New Moon, kita mendapatkan bagaimana metode pelajaran di luar negeri yang terkait dengan sastra. Dalam edisi filmnya, kita disuguhi bahwa para siswa SMA Forks belajar dengan melihat film Romeo dan Juliet. Sedangkan dalam edisi bukunya juga terkutip pelajaran dari mahakarya William Shakespeare dengan mengutip mozaik dari karyanya. Mozaik itu yakni:

These violent delights have violent ends
And in Their triumph die, like fire and powder,
Which, as they kiss, consume.
Romeo and Juliet, Act II, scene VI

Keponakan saya yang bersekolah di Amerika Serikat dapat menjadi referensi tentang bagaimana sistem pendidikan disana. Bagaimana dia mengaku harus sering membuat essai dari mata pelajaran yang diikutinya. Tentu saja hal ini berbeda kiranya dengan metode pelajaran di Indonesia yang banyak berintikan pada pilihan ganda (multiple choice). Siswa diharuskan memilih dengan satu jawaban yang benar. Ada ruang imajinasi yang dipersempit dalam sistem pendidikan kita. Seolah hanya ada satu jawaban benar. Seolah kita seperti robot yang hanya memilih dari opsi yang telah diberikan. Berbeda kiranya dengan membuat essai. Terbukalah katup imajinasi dan lini-lini spektrum kemungkinan yang lebih luas.

Berbicara tentang membuat essai hal itu terlihat jelas ketika saya mengalami langsung bersentuhan dengan sekian tahun mengenyam pendidikan di Fisip UI. Fisip UI sendiri banyak memberikan beban kepada mahasiswanya untuk membuat makalah sebagai mekanisme komponen penilaian yang persentasenya besar. Dalam Ujian Tengah Semester dan Ujian Akhir Semester juga umumnya mahasiswa dapat mengerjakan soal di kelas atau take home test dengan membuat makalah. Dan saya dapati benar bagaimana terjadi gegar dalam menulis dan membaca. Tak terbiasakan semenjak SD-SMA untuk membuat laporan tertulis membuat bagi beberapa bagian mahasiswa mengalami kesulitan dan kesukaran. Pondasi kepenulisan yang tidak ditanam dan dipupuk dalam usia sekolah menuai hasil pada kader-kader intelektual bangsa.

Menurut hemat saya dengan membenahi pelajaran sastra, maka negeri ini dapat mencapai kegemilangannya. Negara-negara maju di dunia merupakan mereka yang menghidupkan dan menumbuhkan tradisi sastra di negerinya. Shakespeare, George Orwell, Anton Chekov, Jules Verne, Haruki Murakami, merupakan sederetan nama pengarang yang tidak sekedar dikenal nama dan judul karyanya di berbagai negara maju. Mereka hidup dalam pikiran. Karya mereka dibaca, ditelaah, dan dibuat review. Karya mereka dimaknai dengan interpretasi dari anak zaman yang tengah mengenyam pendidikan. Karya-karya mereka bukanlah literatur yang teronggok dingin di ruang mitologi karya sastra besar.

Menariklah kiranya sebagai penutup jika saya kutipkan fragmen langsung dari karya sastra klasik Indonesia yang berjudul Di Bawah Lindungan Ka’bah (Hamka, Di Bawah Lindungan Ka’bah: hlm.3-4):

Bukan sedikit pemuda-pemuda yang telah menanggung sebagai yang telah ditanggung oleh kedua orang itu, tetapi sukar orang yang selamat sampai ke akhirnya. Padahal adalah “rindu-dendam” atau “cinta-berahi” itu laksana lautan jua, orang yang tiada berhati-hati mengayuh perahu, memegang kemudi dan menjaga layar, karamlah ia digulung oleh ombak dan gelombang, hilang di tengah-tengah samudera yang luas itu, tiada akan tercapai selama-lamanya tanah tepi.

Membaca karya sastra klasik Indonesia bukan berarti sebuah bentuk pemujaan glorifikasi terhadap masa lampau. Melainkan sebuah antologi sanjungan, penghargaan, apresiasi akan buah pena yang memuat jiwa zaman di masa lampau. Pun begitu ide-ide dari sejumlah karya sastra tersebut masih relevan dengan kekinian dan pergulatan kemanusiaan dalam mencari makna eksistensinya. Sebuah bangsa yang alpa akan sejarahnya merupakan negeri yang akan gamang dengan identitas dan menempuh kesukaran dalam langkah kekinian serta menatap format masa depan. Mari selami masa lalu, bekerja di kekinian, dan menyulam imajinasi masa mendatang.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

2 thoughts on “Kisah Klasik Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s