Posted in Kertas Pasir

Api Nasionalisme Kaum Muda – Peluang dan Tantangan Menumbuhkan Semangat Kebangsaan di Kalangan Muda Indonesia (Resensi)

Judul Buku: Api Nasionalisme Kaum Muda – Peluang dan Tantangan Menumbuhkan Semangat Kebangsaan di Kalangan Muda Indonesia.
Penulis: Dr. Aziz Syamsuddin
Penerbit: Rakyat Merdeka Books
Cetakan: Oktober 2011
Tebal: 108 halaman

Fukuyama dalam bukunya The End of History and the Last Man menyatakan bahwa telah berakhir era konfrontasi ideologi. Dari kontestansi ideologi yang ada tambah Fukuyama, pemenangnya adalah ideologi demokrasi dan kapitalisme. Apa yang ditulis oleh Fukuyama tersebut sesungguhnya merupakan riak dari banyaknya ideologi yang mewarnai garis kebijakan dari berbagai negara. Kita pernah mengenal era perang dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet, dimana merupakan refleksi dari benturan ideologis antara dua negara besar tersebut.

Dalam skala Indonesia, era politik ideologis dikenal dengan politik aliran. Oleh para sejarawan dan akademisi, periodesasi benturan ideologis tersebut terjadi pada tahun 1950-1959. Partai-partai Indonesia ketika itu merupakan refleksi dari politik aliran yang mengemuka seperti nasionalisme, agama, komunisme, sosialisme. Untuk kemudian era Orde Baru melakukan pembonsaian pada politik aliran yang ada.

Membaca buku Api Nasionalisme Kaum Muda – Peluang dan Tantangan Menumbuhkan Semangat Kebangsaan di Kalangan Muda Indonesia – membawa kita pada kesadaran sejarah, bagaimana harus bersikap di era kontemporer, serta menyulam format masa depan yang lebih baik. Nasionalisme dalam pemikiran Aziz Syamsuddin bukan sebagai konsep yang harus dibenturkan dan dipertentangkan dengan ideologi lainnya. Nasionalisme dapat berjalan beriringan dengan konsep lain dan membawa Indonesia pada taraf yang lebih baik secara politik, ekonomi, dan hukum.

Buku Api Nasionalisme Kaum Muda ditulis oleh Dr. Aziz Syamsuddin. Penulisnya sendiri merupakan seorang politisi dari Partai Golkar yang memiliki komptensi praksis di bidang hukum dan politik serta juga memiliki kompetensi intelektual yang mumpuni. Pada buku Api Nasionalisme Kaum Muda ini, pembaca sesekali diajak bertamasya ke masa lalu. Tamasya ke masa lalu ini bukan merupakan sekedar romantisme masa lalu dan glorifikasi en sich, melainkan untuk melacak pemikiran para founding fathers serta mewujudkan dalam kerja-kerja kontemporer.

Pemikiran dari para founding fathers itu diantaranya ialah bagaimana Soekarno memadukan antara nasionalisme dan internasionalisme (halaman 28), sisi intelektual dari para founding fathers seperti terlihat dalam penguasaan bahasa (halaman 31), visi ekonomi dari Hatta (halaman 39), bagaimana para founding fathers sejak usia muda telah berkiprah aktif dalam organisasi (halaman 61), pandangan Hatta tentang bagaimana pendidikan membentuk sumber daya manusia (halaman 63). Bulir-bulir fakta sejarah yang diungkap oleh Aziz Syamsuddin tersebut menandaskan bagaimana pentingnya untuk menjaga semangat sejarah sekaligus mengambil intisari permaknaan yang mampu mengarungi bilangan waktu.

Dalam buku Api Nasionalisme Kaum Muda, Aziz Syamsuddin memberikan konsep mengenai hal yang dapat dilakukan oleh kaum muda di masa kontemporer. Titik perhatiannya diantaranya pada penggunaan sosial media sebagai upaya untuk menumbuhkan semangat kebangsaan di kalangan muda Indonesia. Menurut Aziz, “Kemajuan dari teknologi informasi dengan demikian dapat mendorong terjadinya civil society. Sebaran informasi, pendapat, ide, kini begitu cepat dan massif dapat terjadi. Setiap dari kita memiliki kemerdekaan untuk mengeluarkan pendapat. Media sosial dengan demikian dapat menjadi mekanisme check and balance dari tata kelola negeri ini (halaman 51).

Adapun tentang format masa depan yang ingin digapai, Aziz Syamsuddin membedahnya di bab V yang diberi judul Pemuda dan Indonesia Masa Depan. Untuk mencapai masa depan yang gemilang, sesungguhnya Indonesia memiliki potensi kaum muda yang melimpah. Selain dari kuantitas, kualitas dari kaum muda Indonesia sesungguhnya juga memiliki kompetensi istimewa. Mengutip sepenggal sajak penyair Jerman, Friedrich Schiller (1723-96) yang berbunyi: “und setzt ihr nicht das Leben ein, nie wird euch das Leben gewonnen sein” –yang maknanya: hidup yang tak dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan; maka Aziz Syamsuddin sekaligus mengajak kaum muda untuk menjadi kaum pemenang.

Menutup resensi ini perlu kiranya sidang pembaca untuk merenungkan apa yang menjadi buah pemikiran dari Aziz Syamsuddin sebagai berikut:”Api nasionalisme kaum muda perlu untuk selalu dikobarkan. Bahwasanya perjuangan belum usai. Perjuangan menambil teritori pertarungan yang berbeda dari generasi sebelumnya. Kaum muda saat ini sebagai ujung tombak perbaikan harus tetap berpegang teguh pada nasionalisme ke-Indonesiaan. Kemandirian dan kemerdekaan dalam berpikir merupakan kuncinya dari nasionalisme di tengah percaturan global. Kaum muda diananti peran sejarahnya di era reformasi ini. Sudikah Anda untuk bergabung dalam kafilah pemuda penggagas dan pelaku reformasi bagi negeri ini?”

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s