Posted in Ekonomi, Essai, Fiksi Fantasi

Kalfa dan Postioning dalam Marketing

“Kalfa itu apa sih?” Pertanyaan itulah yang kerap saya temui di awal-awal pembentukan komunitas ini ketika bertemu dengan sejumlah sahabat. Lalu apa yang saya jawab? Saya biasanya menjawab dengan simplifikasi yakni komunitas penggemar fantasi. Penggemar fantasi bisa dari film, buku, games, anime, kartun. Sebenarnya saya tidak terlampau tertarik untuk membuat definisi. Karena pada beberapa hal, definisi dapat mengikat, membatasi, mengkotakkan. Namun untuk kepentingan penjelasan dapatlah dikatakan bahwa kalfa (kaldera fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Dimana terdapat beberapa distrik yang coba untuk dijelajahi yakni: buku, film, games, Japan/anime, komik, dan catatan kalfa. Begitulah kiranya info singkat yang sesungguhnya ada di bagian pojok kanan atas dari tampilan facebook.

Mengetahui identitas dalam ilmu marketing merupakan sesuatu yang penting. Mengetahui identitas diri berarti paralel dengan mengetahu positioning. Dimana berada pada masa lalu, masa kini, dan masa mendatang merupakan tema yang dapat ditempatkan dalam kaitannya dengan positioning. Positioning dalam marketing didefinisikan sebagai semua aktivitas yang dimaksudkan untuk menanamkan kesan di benak para konsumen agar mereka bisa membedakan produk dan jasa yang dihasilkan oleh organsisasi bersangkutan dengan produk atau jasa organisasi lain (Firmanzah, Mengelola Partai Politik: hlm. 164). Dalam marketing politik, misalnya pada era pemilu 1955 jelas terlihat posisi partai-partai pada kutub-kutub ideologi yang berbeda. Posisi masing-masing partai jelas. PNI dengan nasionalisme, Masyumi dengan islam modernis, NU dengan islam tradisional, PKI dengan komunisme. Hal ini membuat pasar dalam hal ini rakyat dapat menentukan preferensi dan pilihannya. Jelas yang ini warnanya ini dan akan membawa kemana negeri ini. Positioning ini juga dipertegas dengan edukasi dan diseminasi gagasan melalui koran dari partai tersebut. Contohnya ialah PNI dengan harian Merdeka, dan PKI dengan harian Rakyat (Tim Tempo, 100 catatan yang merekam perjalanan sebuah negeri: hlm.106-107). Ketika diterapkan demokrasi terpimpin dan Orasi 17 Agustus 1959 yang bertajuk “Penemuan Kembali Revolusi Kita” (pidato itu kemudian disebut manifesto politik), kedua harian ini sempat berseteru dan mengklaim/ mem-positioning-kan sebagai Manipolis (Manifesto Politik) sejati. Dengan adanya harian dari partai, maka semakin mempertegas positioning, dan definisi dari entitas yang omni present.

Jika menilik dari definisi kalfa, maka dapat kita lihat ada beberapa ceruk yang coba untuk ditelusuri. Dan pada kenyataannya ceruk-ceruk tersebut merupakan bahan yang sebenarnya luas. Semisal dalam games, ada banyak percabangan yang dapat ditemui, mulai dari konsol, tipe games, pembuat, jenis permainan, karakter dalam games, tahun pembuatan, selera bermain games dan sebagainya. Dari games saja dapat ditemui beberapa komunitas misalnya para penggemar final fantasy, suikoden, dan sebagainya. Dengan demikian spektrum dari kalfa menjadi begitu luas dan bisa tidak fokus. Positioning yang lebih spesifik misalnya saya dapati dalam komunitas pecinta star trek, lcdp, world mythology community sebagai contoh. Komunitas pecinta star trek dapat terus menggali segala hal yang akarnya dari star trek; lcdp dapat terus menggali segala hal terkait penulisan seperti writer block, jalan cerita, karakter; world mythology community dapat terus menggali tentang mitologi yang ada di seluruh dunia.

Dalam hal ini positioning dari ketiga entitas yang saya sebutkan diatas lebih spesifik dibandingkan kalfa yang mencoba untuk menangkap segala domain yang terkoneksi dengan fantasi. Untuk mengokohkan definisi kalfa di domain buku, film, games, Japan/anime, komik, memang dibutuhkan tenaga ekstra. Untuk itulah pada awal pembentukannya, saya menggandeng 4 sobat saya untuk melengkapi dan memberikan perspektifnya pada cluster-cluster fantasi tersebut. Mendapatkan orang yang benar-benar kuat di seluruh domain tersebut, menurut hemat saya merupakan hal yang langka. Yang lebih memungkinkan ialah menemukan orang yang kuat pada satu atau beberapa domain tersebut. Oleh karena itu karakter dari kalfa sesungguhnya ialah belajar dan rasa ingin tahu.

Dengan belajar dan rasa ingin tahulah maka terjadi jembatan antara ceruk dalam fantasi tersebut. Sekilas positioning kalfa memang terlihat kabur, namun sesungguhnya positioning seperti itu merupakan replika dari manusia, Indonesia dan semesta. Manusia sesungguhnya merupakan kesatuan yang kompleks yang dibentuk dari aneka ragam kesepakatan dan ketidaksepakatan. Indonesia merupakan negara yang dibentuk dari lebih dari 17.000 pulau, lebih dari 350 suku bangsa dan lebih dari 400 bahasa lokal (Firmanzah, Mengelola Partai Politik: hlm.388). Semesta merupakan entitas yang mewadahi ragam varian yang ada di dalamnya. Kalfa secara marketing, menempatkan positioning-nya sebagai titik dialektika antara para ceruk-ceruk fantasi. Contoh sederhananya dapat dilihat dari pertanyaan yang dijawab dengan banyak pintu dan kemungkinan. Misalnya pertanyaan, “Siapakah pengarang fantasi favorit Anda?”

Dari jawaban yang terbentang dapat dilihat darimana saja pintu ketertarikan para kalfa-ers terhadap fantasi. Ada yang menjawabnya dari pintu buku, games, anime, komik. Keragaman ini menerbitkan rasa ingin tahu, semangat pembelajaran. Semisal, yang memiliki akar ketertarikan fantasi dari buku, dengan mendapatkan jawaban kalfa-ers lain dari hulu anime, akan mencoba untuk mencari keterkaitan. Ada sebuah proses yang tidak selesai. Ketika merasa telah mengetahui di dimensi buku, ternyata masih banyak pelangi dan spektrum fantasi lain, misalnya dari anime.

Sebuah pertanyaan dan jawaban yang dapat diberikan dari titik tolak manasaja, menurut hemat saya merupakan positioning dari Kalfa. Ada begitu banyak cara yang dapat ditempuh untuk menjawab. Bukan sekedar pilihan ganda, ataupun pilihan yang dibatasi. Inilah kiranya yang akan melebarkan sayap-sayap pengetahuan.

Jika meminjam konsep dari Smith & Hirst, maka positioning akan menentukan dalam menyusun strategi positioning di setiap segmen dan menyusun bauran marketing di setiap segmen (Firmanzah, Mengelola Partai Politik: hlm.167). Positioning juga erat kaitannya dengan menangkap image, simbolisasi, dan konotasi akan entitas. Untuk menerapkan implementasi positioning di setiap segmen, maka dilakukan pertanyaan atau menurunkan tulisan terkait. Untuk menyasar segmen games, saya pernah mengajukan pertanyaan tentang “Game terbaik yang pernah Anda mainkan pada tahun 2011?”; sedangkan untuk tulisan, saya pernah membuat tulisan berjudul Sarapan dengan Kratos. Dengan menerapkan kombinasi pendekatan tersebut, terlihat jelas siapa-siapa yang memiliki interest terhadap games. Dan hal tersebut dapat menjadi kohesi dengan entitas Kalfa.

Sedangkan untuk menyusun bauran marketing di setiap segmen, saya menerapkan konsep pertanyaan umum yang memungkinkan untuk dijawab dari berbagai segmentasi yang ada. Contohnya ialah “Siapakah tokoh antagonis favorit Anda?” Jawaban pertanyaan tersebut dapat dijawab dari berbagai segmentasi fantasi yang ada. Dan disinilah akan terlihat keragaman, keriuhan, dan luasnya spektrum fantasi. Sedangkan untuk tulisan yakni melalui essai yang memaktub beberapa segmen. Misalnya tulisan berjudul murni yang berintikan dari buku, film, anime. Hal itulah kiranya menjadi fungsi turunan dan implementasi dari positioning kaldera fantasi.

Untuk meneguhkan positioning, dan menjelaskan definisi entitas maka dibutuhkan produk. Produk itu dapat terlihat dari logo, karya, varian status di facebook, pin, dan lainnya. Dari logo, misalnya dapat menaungi entitas. Maka lihatlah entitas dan logonya. Negara, perusahaan, memiliki logo. Garuda Pancasila untuk Indonesia, facebook dengan huruf f-nya, feather untuk peterpan, merupakan upaya untuk menjelaskan identitas. Dalam hal logo, Kalfa telah memiliki logo yang dibuat oleh Galih Margi. Logo yang telah hadir dalam bentuk pin dalam ajang hellofest bulan Februari kemarin. Positioning juga dapat dilihat dari karya yang ada. Jika dianalogikan dengan bermusik, maka karya dapat menjelaskan pada posisi mana. Di musik ada genre rock, pop, dangdut, dan sebagainya. Sedangkan varian karya di Kalfa baik yang menitipkan link di wall ataupun di dokumen memperlihatkan positioning Kalfa di berbagai ceruk fantasi. Ada cerpen, novel dalam pengembangan, komik, review buku, review film, review anime, review games, essai, yang merupakan sekelumit untuk menjelaskan semesta Kaldera Fantasi.

Saya percaya bahwa positioning bukanlah sebuah titik, melainkan koma. Ada proses yang terus menerus berlangsung. Ada upaya terus menerus untuk membangun. Dan saya percaya dan berterima kasih atas segala pemikiran dan karya dari Kalfa-ers yang telah mewarnai entitas ini menjadi seperti sekarang ini. Tentu saja sekalipun segala upaya, kerja telah dilakukan, image dari masing-masing orang dapat berbeda. Dan sekarang izinkan saya bertanya, “Kalfa itu apa sih?”

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s