Posted in Edukasi, Essai, Sosial Budaya

Tuang dan Isi

Jika hidup ini dianalogikan sebagai sebuah sistem, maka akan didapati adanya input, proses, dan output. Ada hal-hal yang masuk dalam sistem, lalu diproses di internal, untuk kemudian menghasilkan sesuatu. Mekanisme sistem tersebut alangkah eloknya jika mampu diterapkan dalam ritme kehidupan. Saya percaya ada ragam input yang masuk setiap harinya, dan dari input tersebut seyogyanya menghasilkan sesuatu. Jika dikaitkan dengan dunia tulis dan baca, secara sederhana, membaca merupakan input sedangkan menulis ialah output. Apa-apa yang kita baca merupakan bahan baku dalam penulisan. Menulis tanpa ketekunan membaca akan menjadi kehilangan referensi pengetahuan dan kerontang permaknaan.

Dalam istilah lain, bolehlah saya katakan dengan konsep tuang dan isi. Tuang berarti menghasilkan tulisan. Isi berarti melakukan internalisasi konsep, ide. Dengan konsep tuang dan isi, menurut hemat saya akan terdapat sebuah pencapaian signifikan bagi peradaban. Menuang saja akan membuat tulisan menjadi kehilangan stamina, substansi dan sekedar pengulangan demi pengulangan. Mengisi saja akan membuat terjadi tumpukan pengetahuan dan nir karya literasi yang terhampar. Memadukan antara tuang dan isi merupakan equilibrium yang membuat maju hakikat literasi.

Saya percaya setiap harinya ada begitu banyak orang yang melakukan pengisian bacaan ke internal dirinya. Namun seberapa banyak yang menuangkannya menjadi tulisan? Keberlimpahan informasi di kemajuan teknologi memungkinkan segala jenis bahan baca dapat disantap dan menjadi menu keseharian. Dengan demikian ada probabilitas untuk mengisi dengan ragam bacaan. Mengisi dengan bacaan yang berbobot penting kiranya untuk menginternalisasi bahan dan pengetahuan yang berkelas. Mengenai membaca bahan bacaan yang bagus baik kiranya saya kutipkan dari buku Cerita Di Balik Dapur Tempo: “Menulis bagus itu dimulai dari membaca bagus,” kata Redaktur Senior Amarzan Loebis. Di masa kepemimpinan Goenawan Mohamad, menurut Amarzan, membaca fiksi dan media asing adalah kewajiban setiap wartawan Tempo. “Goenawan sering mendadak mendatangi meja seseorang dan bertanya, “Sedang baca apa?” “Kalau kita tak membaca buku, atau katakanlah feature The New Yorker atau majalah asing, malulah kita,” kata Amarzan. Membaca buku atau media yang baik membantu menempa seseorang menjadi penulis (berita) yang baik (Tim Tempo, Cerita Di Balik Dapur Tempo: hlm.85).

Mengisi dengan bahan bacaan yang bermutu penting kiranya untuk membentuk pola intelektualitas dan kemampuan menulis. Jika dianalogikan dengan sistem, maka bacaan merupakan input utama. Jika kita menseleksi dan menginternalisasi dari bahan baku yang kadarnya lemah, maka tak mengherankan jika kualitas tulisan pun akan tidak impresif. Untuk mendapatkan input yang baik, meminjam istilah Helvy Tiana Rosa, kita harus menjadi predator buku. Buku-buku yang ada hendak kiranya kita lahap dan baca. Tradisi membaca dan intelektualitas menjadi menu yang senantiasa mengisi hari. Jika kita menelusuri sejarah, maka para founding fathers Indonesia merupakan para pembaca buku yang ulung. Tak mengherankan mereka memiliki ide, konsep, pemikiran yang melampaui zamannya dan bernas.

Mohammad Hatta melalui otobiografinya terungkap memiliki ritme hidup yang baik antara menulis dan membaca. Hatta yang terbiasa rapi, memiliki pola intelektualitas tersebut dalam kesehariannya. Kecintaan Hatta dengan buku terungkap misalnya melalui fragmen ketika dia memborong buku. Hatta membeli buku Gustav Schmoller, Grundrisz der Algemeinen Volkswirtschaftlehre, dua jilid, tebalnya kira-kira 1.400 halaman; buku Bohm Bawerk, Kapital und Kapitalzins, tiga bagian, tebalnya kira-kira 1.400 halaman; buku Werner Sombart, Der moderne Kapitalismus, terbagi dalam empat jilid, tebalnya kira-kira 2.100 halaman; dan sebagainya (Mohammad Hatta, Untuk Negeriku: Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi: hlm.154-155). Tak mengherankan ketika kembali ke Jakarta, Hatta buku-bukunya dalam 16 peti besi (Mohammad Hatta, Untuk Negeriku:Berjuang dan Dibuang: hlm.18). Adapun ritme waktu dari Hatta dapat dilihat pada cuplikan berikut: Sesudah sarapan pagi, pukul 08.30, aku pergi jalan kaki barang satu jam lamanya. Pukul 09.30 aku kembali di rumah dan belajar sampai pukul 12.30, sesudah itu aku beristirahat sebentar dan pukul 14.00 sesudah makan tengah hari aku beljar lagi sampai pukul 16.30. Sesudah itu aku mencuci muka sebentar dan keluar pergi berjalan-jalan atau aku duduk di suatu cafe di pinggir sebuah danau kecil di tengah kota dengan pandangannya yang indah. Malam hari sesudah makan malam aku belajar lagi atau membaca buku roman atau menonton (Mohammad Hatta, Untuk Negeriku:Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi: hlm.175).

Melakukan pengisian secara berkala dengan membaca membuat manusia memiliki ritme intelektualitas. Dunia membaca sayangnya di negeri ini belum tergiatkan. Benar jumlah melek huruf telah sedemikian banyak, namun dari melek huruf tersebut, seberapa banyak yang menjadikan membaca sebagai menu wajib keseharian. Jika membaca telah membahana maka otomatis berimplikasi pada banyaknya buku yang beredar di Indonesia. Nyatanya hanya ada 14.000 judul buku baru pada tahun 2011, untuk meng-cover penduduk Indonesia yang telah mencapai 240 juta jiwa. Terlebih kaum muda Indonesia yang mengisi ceruk 30-35% atau setara dengan 75 juta jiwa bisa jadi lebih memilih untuk menghabiskan waktunya di sosial media, dibandingkan dengan membaca.

Kemajuan teknologi dan kemudahan menduplikasi di sisi lain, malahan menghasilkan begitu rupa tulisan dari copy paste. Copy paste ini tentunya tidak kondusif bagi dunia baca dan menulis. Nyatanya untuk menulis memang dibutuhkan kemampuan membaca yang baik dan kuat. Copy paste adalah shortcut, jalan instan, untuk menghasilkan tulisan tanpa mau banyak-banyak membaca dan berpikir.

Menulis menurut hemat saya merupakan upaya untuk mengingat, mengingat apa-apa yang telah dibaca. Manusia memiliki karakteristik dasar untuk mudah lupa, maka untuk menolak lupa, kita dapat menuliskannya. Inilah kiranya yang membuat ada surat perjanjian yang termaktub mengenai hak dan kewajiban. Menulis juga saya percaya akan meningkatkan kemampuan dan penelusuran bacaan. Dikarenakan untuk menyusun tulisan, ada ceruk-ceruk yang masih tidak kita ketahui dan untuk menguji validasi kebenaran dari yang ditulis kerap dibutuhkan cross check ke berbagai sumber bacaan.

Menulis jika dianalogikan dengan menuang, merupakan upaya untuk menumpahkan apa-apa yang diketahui. Maka disinilah peran membaca (isi) penting kiranya. Dengan membaca (mengisi) yang baik, maka menulis (menuangkan) pun akan memiliki bobot yang baik. Salah satu bacaan yang saya kagumi secara substansi dan gaya bahasa ialah Catatan Pinggir dari Goenawan Mohamad. Melalui Catatan Pinggir (Caping), Goenawan Mohamad menuliskan banyak hal yang menyentuh berbagai diorama ilmu. Dengan membaca caping, kita tahu bahwa untuk menuangkan tulisan tersebut, Goenawan banyak membaca dan mengamati. Simaklah referensi yang senantiasa berada di caping. Hal yang mengindikasikan daya jelajah bacaan dari jebolan fakultas psikologi UI ini. Tak mengherankan jika Satyagraha Hoerip berpandangan, “…yang masuk ke dalam dirinya bukan hanya para tokoh dari negerinya saja, melainkan juga sebatlyon para pembawa paspor negara asing. Albert Camus, Carter, Mishima, E.F.Schumacher, Tagore, Mahatma Gandhi, Farough Farrokhzad dan banyak lagi.”

Menulis juga menunjukkan eksistensi. Dengan menulis, maka aku ada. Menulis akan membentuk siapa kita. Oleh karena itu dalam dunia akademik parameter untuk melihat kompetensi intelektualitas salah satunya ialah dengan karya ilmiah yang dihasilkan. Anda mungkin bertanya, jika saya menulis, lalu hasil tulisan itu akan dibawa kemana? Menurut hemat saya, blog dapat menjadi rumah intelektual Anda. Dengan membuat blog, Anda dapat mengkodifikasi tulisan-tulisan sesuai genre dan spesifikasi yang Anda tulis. Saat ini di Indonesia telah ada 6 juta blog. Meski begitu layak dipertanyakan, seberapa banyak yang berkualitas. Dewi Lestari misalnya menyoroti sebagai diare kata-kata. Blog tidak hanya sekedar dapat menjadi arena curhatan, namun juga dapat menjadi medium transmisi dan diseminasi gagasan.

Berada pada equilibrium yang tepat akan menghindarkan kita dari ekstremitas dan ketimpangan. Sekedar membaca dan membaca, memungkinkan lupa dan terjadi tumpukan pengetahuan, tanpa pernah terdistribusikan dan dipublikasikan dalam bahasa sendiri. Sekedar menulis dan menulis, akan menyebabkan hampa permaknaan dan sekedar lagu itu-itu lagi yang direpetisi. Menuang dan mengisi melalui menulis dan membaca merupakan equilibrium yang memungkinkan taman ilmu akan terus memekar. Bunga-bunga ilmu akan bermunculan melalui aneka tulisan dari berbagai divisi pengetahuan, dari berbagai profesi, dari varian yang ada di bumi. Bunga-bunga ilmu akan dapat dinikmati, dari para pembaca yang senantiasa menjaganya melalui membaca dan mencegahnya menjadi seonggok pengetahuan berdebu dan terlupa di perkakas sejarah. Selamat menuang dan mengisi.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s