Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Politik

Politik dalam Kisah The Bartimaeus Trilogy

Apakah politik itu? Pertanyaan itu merupakan pertanyaan mendasar dan pertama, ketika dahulu saya menimba ilmu di jurusan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Maka izinkan saya menjawab dengan berbasiskan buku babon dan wajib dari mahasiswa ilmu politik Indonesia yakni Dasar-Dasar Ilmu Politik karangan Prof.Miriam Budiardjo. Politik menurut Miriam Budiardjo ialah usaha menggapai kehidupan yang baik. Orang Yunani Kuno terutama Plato dan Aristoteles menamakannya sebagai en dam onia atau the good life. Definisi lainnya dikemukakan oleh Peter Merkl:”Politik dalam bentuk yang paling baik adalah usaha mencapai suatu tatanan sosial yang baik dan berkeadilan”. Sedangkan dalam skenario terburuk menurut Peter Merkl:”Politik dalam bentuk yang paling buruk, adalah perebutan kekuasaan, kedudukan, dan kekayaan untuk kepentingan diri sendiri (Politics at its worst is a selfish grab for power, glory and riches)”(Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik: hlm.13-16).

Beberapa kisah fantasi yang pernah saya baca sesungguhnya memiliki muatan politik dalam substansi ceritanya. Cerita Harry Potter misalnya, dengan Voldemort yang melakukan kudeta sunyi dan “Kau Tahu Siapa” berkuasa melalui tangan Thicknesse yang sesungguhnya merupakan kaki tangannya. Hal tersebut terlacak dalam fragmen berikut:Kenyataannya dialah Menteri Sihir, tapi kenapa dia harus duduk di belakang meja di Kementerian? Bonekanya, Thicknesse, yang melakukan urusan sehari-hari, membuat Voldemort bebas memperluas kekuasaannya di luar Kementerian (J.K.Rowling, Harry Potter dan Relikui Kematian: hlm.279). Cerita Eragon pun memiliki muatan politik, ketika Galbatorix menegasikan segala saingannya dengan memberangus naga dan para penunggangnya. Galbatorix pun sedapat mungkin memastikan masa depan tetap miliknya dengan berusaha menguasai tiga telur naga yang tersisa. Dalam kesempatan ini, saya akan mencoba mengulas sisi politik dari kisah The Bartimaeus Trilogy karangan Jonathan Stroud.

Membaca kisah The Bartimaeus Trilogy menurut hemat saya seperti membaca fantasi politik, dikarenakan begitu banyak konsep politik yang terterapkan dalam kisah yang menjadi serial bestseller New York Times ini. Dikisahkan Nathaniel si penyihir muda yang memiliki ambisi untuk berkarier di pemerintahan harus berhadapan dengan segala ragam intrik, konspirasi, dan pemberontakan. Pada buku pertama Amulet Samarkand, Nathaniel masih merupakan anak berumur 12 tahun dengan idealisme dan ambisi untuk berkarier di pemerintahan kelak. Ambisi untuk berkarier di pemerintahan dinarasikan dengan Nathaniel yang berada di loteng dan melihat gedung parlemen. Disamping itu Nathaniel benar-benar berupaya keras untuk menunjukkan kompetensinya sebagai penyihir yang handal dengan belajar keras. Bukan hal yang mudah untuk menjadi penyihir, dari literatur yang harus dikuasai misalnya nyata terdefiniskan dalam mozaik berikut:Buku-buku ini ditulis dalam bahasa Inggris Pertengahan, Latin, Ceko, dan Yahudi sebagian besar, walaupun kau juga akan menemukan yang dalam bahasa Coptic tentang ritual kematian Mesir. Ada kamus Coptic untuk membantumu membaca. Terserah padamu bagaimana kau membaca semuanya (Jonathan Stroud, Amulet Samarkand: hlm.80). Otak yang cerdas dan kerja keras dari Nathaniel membuat dia dalam usia yang begitu muda memiliki kemampuan di atas penyihir seusianya. Hal yang diperlihatkan dengan kemampuannya memanggil jin berusia 5.000 tahun yakni Bartimaeus.

Apakah Anda ingat kisah film Troy (2004)? Dalam salah satu fragmen film tersebut, ibu dari Achilles meramalkan bahwa anaknya akan hidup bahagia berkeluarga jika tidak ikut ambil bagian dalam perang melawan bangsa Troya. Sebaliknya Achilles akan menemui kematian jika ikut ambil bagian di perang Troya, namun kematian dirinya akan paralel dengan namanya yang akan tetap bergema berbilang tahun kemudian (echo accross the centuries). Kemasyhuran, itu kiranya kata yang lekat dengan politik. Begitu juga dalam novel The Bartimaeus Trilogy, Nathaniel menolak untuk menjadi biasa-biasa saja. Ia ingin menjadi orang besar yang dikenang. Tak mengherankan jika dia mengidolakan William Gladstone. William Gladstone merupakan Perdana Menteri Inggris dari kalangan penyihir yang membawa Inggris menjadi negara nomor satu dalam konstelasi persaingan. Dalam bahasa lain digambarkan:”Dia satu-satunya penyihir terhebat yang pernah menjadi perdana menteri. Dia memerintah selama tiga puluh tahun pada masa Victoria dan membuat partai-partai penyihir yang berseteru berada dalam kuasa pemerintah. Kau tentu telah mendengar duelnya dengan si penyihir Disraeli di Westminster Green? Belum? Kau harus melihat lokasinya. Bekas hangus di dindingnya masih dipamerkan. Gladstone terkenal akan energinya yang besar dan keteguhannya saat keadaan tidak menguntungkan. Dia tak pernah mengubah tekadnya, bahkan keika keadaan menjadi buruk” (Jonathan Stroud, Amulet Samarkand: hlm.114). Begitulah kiranya tesis yang ditawarkan dalam cerita ini. William Gladstone sendiri jika melihat pada dunia nyata merupakan Perdana Menteri Inggris selama 4 periode (pada era 3 Desember 1868 sampai 17 Februari 1874; dari 23 April 1880 sampai 9 Juni 1885; dari 1 Februari sampai 20 Juli 1886; dan dari 15 Agustus 1892 sampai 2 Maret 1894).

Pesona kemasyhuran dari Nathaniel menunjukkan sinyalemennya ketika dia menginginkan nama resminya ialah William Gladstone. Sebagai informasi, penyihir memiliki dua nama, yakni nama pertama ialah nama lahirnya. Nama ini dilindungi, dijaga, agar tidak diketahui oleh siapapun. Jika nama lahir diketahui, maka rival dan jin dapat dengan mudah menjatuhkan si penyihir. Sedangkan nama berikutnya ialah nama resmi yang digunakan penyihir. Nama ini resmi didaftarkan di Loew’s Nominative Almanac dan menjadi nama yang resmi digunakan si penyihir dalam kehidupannya. Guru sekaligus bapak angkat Nathaniel menganggap penggunaan nama William Gladstone terlalu lancang dan tidak ada yang berani untuk menggapai kemasyhurannya, maka Nathaniel pun menyurut dengan obsesinya dan akhirnya memilih nama resmi John Mandrake.

Pusaran konflik dalam cerita ini tak bisa dilepaskan dari Nathaniel yang memiliki dendam kepada Simon Lovelace, dikarenakan peristiwa yang mempermalukan dirinya pada masa lalu. Nathaniel pun berupaya untuk membalas dendam dan mempermalukan Simon Lovelace yang digambarkan jangkung, kurus, tampan, sedikit berkesan kutu buku, dengan rambut yang licin disisir ke belakang dan dilumuri minyak rambut berbau tajam. Upaya balas dendam ini dengan cara mencuri Amulet Samarkand dari kuasa Simon Lovelace. Amulet Samarkand ternyata bukan sekedar aksesoris sihir biasa. Amulet Samarkand merupakan jimat pelindung; benda yang menghalau kekuatan jahat. Benda ini objek pasif dan meskipun dapat mengisap atau memantulkan segala jenis sihir berbahaya, amulet tak dapat secara aktif dikontrol si pemilik (Jonathan Stroud, Amulet Samarkand, hlm: 103). Amulet Samarkand merupakan artefak yang digunakan dalam rencana besar pemberontakan untuk menggulingkan pemerintahan berkuasa di Inggris. Tanpa disadari awalnya oleh Nathaniel bahwa dirinya telah terlibat dalam arus intrik sihir yang penuh darah, pemberontakan, dan pembunuhan.

Pada akhirnya pemberontakan yang dilakukan oleh Simon Lovelace berhasil digagalkan berkat kerjasama apik Nathaniel dan jin Bartimaeus. Namun simaklah narasi yang dijelaskan oleh Bartimaeus: Memang ciri khas anak itu. Setelah melaksanakan tugas terpenting dalam hidupnya yang menyedihkan ini, kau berharap ia akan terkulai ke lantai karena lelah dan lega. Begitukah? Tidak. Ini kesempatannya yang terbesar, dan ia menyambarnya dengan lagak sedramatis mungkin. Dengan semua mata tertuju kepadanya, ia terhuyung-huyung melintasi aula yang hancur seperti burung terluka, serapuh yang dapata kaubayangkan, langsung menuju pusat kekuasaan. Apa yang akan dilakukannya? Tak ada yang tahu; tak ada yang berani menebak (aku melihat sang perdana menteri mengernyit saat anak itu mengulurkan tangan). Kemudian, pada titik klimaks seluruh persekongkolan kecil-kecilan ini, semua terungkap: Amulet Samarkand yang legendaris – diangkat tinggi-tinggi sehingga semua dapat melihat – dikembalikan ke dada Pemerintah. Anak itu bahkan teringat untuk menundukkan kepala dengan hormat saat melakukannya (Jonathan Stroud, Amulet Samarkand: hlm.497).

Movement yang dilakukan oleh Nathaniel tersebut, itulah kiranya yang bertalian dengan pendapat ilmuwan bernama Thomas Hobbes bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk pemburu kekuasaan (Ahmad Suhelmi, Pemikiran Politik Barat: hlm 171). Apa yang dilakukan oleh Nathaniel merupakan upaya untuk menegaskan bahwa dirinya berada di pihak pemerintah. Nathaniel sebagai anak yang berumur 12 tahun dan masih hijau membutuhkan katrol, patron untuk melesatkan, melambungkan karier politiknya. Dan momentum itulah yang digunakannya untuk menegaskan dan menggaransi bahwa dirinya akan berada dalam jalur politik praktis. Ia telah menyelamatkan perdana menteri dan menteri-menteri dari pemberontakan yang nyaris berhasil di Heddleham Hall tersebut. Ia layak untuk berkarier di pemerintahan Inggris dan memiliki kompetensi, itulah kiranya tesis yang hendak dibangun.

Nathaniel si tokoh utama dalam kisah The Bartimaeus Trilogy tidak ditempatkan pada kongsi putih yang utuh. Ia terkadang bergerak ke pendulum yang tidak putih. Ia ambisius, keras, menyalahi janji, memainkan pion politik. Namun dalam dunia yang sungguh-sungguh kita singgahi memang sukar untuk menjadi putih seutuh-utuhnya. Dan dilema Nathaniel adalah dilema kita juga. Yang berupaya bergulat mencari makna sebagai zoon politicon.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s