Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Resensi Buku

Salju Merah (Resensi Buku In The Name of Wish)

Judul Buku: In The Name of Wish
Penulis: Rendi [.Re]
Penerbit: well + done
Cetakan: Januari 2012
Tebal: 73 halaman

Mengenal penulisnya secara personal dan mengetahui rekam jejak karyanya membuat saya berada pada pendulum harapan ketika menerima buku In The Name of Wish di bilangan Plaza Senayan. Penulisnya (Rendi) sendiri menurut hemat saya merupakan sosok yang sukar untuk diam dan memiliki energi yang meletup-letup. Bentang karyanya sepanjang pengetahuan saya membentang mulai dari cerpen, light novel, novel, ilustrasi, komik, dan puisi. Sekurangnya itulah rentang karya yang pernah dibuat oleh alumnus Kriminologi Universitas Indonesia ini. Korelasi pertemanan dan kompetensi di berbagai ranah fiksi fantasi itulah yang membuat saya ketika memiliki ide untuk mengusung komunitas yang berbasiskan fiksi fantasi (Kaldera Fantasi-Kalfa), tanpa pikir panjang mengamit Rendi untuk ikut menjadi pendiri dan mewarnai rancang bangun dan pengembangannya.

Buku In The Name of Wish memiliki sinopsis sebagai berikut: Kota Scutleiss akan mengadakan Pertunjukan Salju untuk pertama kalinya. Velicious Drakhmann, sebagai Penjaga Keamanan Kota mencurigai ada yang salah dengan Pertunjukan ini. Bersama dengan Vita Italita, pelayannya, Ia melaporkan temuannya pada Gubernur Loban. Dan seperti yang ia duga, Gubernur menolaknya. Maka Drakhmann mulai menjalankan rencananya sendiri walau tahu akan dirinya sedang dimata-matai dan hendak dijauhkan dari pekerjaannya. Meski begitu, Sabotase Pertunjukan harus dilakukan demi keamanan Scutleiss…walau harus mengorbankan sesuatu yang berada di dekatnya.

Meninjau dari tampilan cover dan sinopsis, sekurangnya saya mendapati dua ide, yakni roman dan intrik politik. Bahasa gambar roman dapat dilihat di cover depan dengan Vita dan Drakhmann yang saling berpunggungan. Sedangkan konsep roman dalam sinopsis tertera dalam frasa “walau harus mengorbankan sesuatu yang berada di dekatnya”. Nuansa intrik politik terdefinisikan di cover belakang dengan gambar pedang yang berlumuran darah. Dalam sinopsis hal tersebut tertegaskan dalam idiom “ada yang salah dengan Pertunjukan ini” dan “Sabotase Pertunjukan”. Intrik politik yang membuat salju memerah.

Novel In The Name of Wish ini menurut hemat saya memiliki beberapa titik cabe. Baiklah akan saya uraikan. Banyak data dan istilah yang disajikan tanpa penjelasan yang berarti. Semisal Tahun 1645 S, Benua Sol Tengah, Eau dan Syllph, R-Knight, Fathia S. Konsep-konsep unfamiliar tersebut menurut hemat saya alangkah eloknya untuk dijelaskan, mungkin dalam bentuk glossarium. Hal tersebut akan membuat pembaca dapat menangkap definisinya dan mengaitkan dengan alur ceritanya.

Titik cabe berikutnya ialah pada adegan pertempuran yang kurang menggigit. Narasi pertempuran, dan nuansa pertempuran digambarkan dengan terlalu singkat dan kurang imajinatif. Berikut saya kutipkan (Rendi, In The Name of Wishes: hlm.54):

Satu tusukan lurus menembus leher salah satu Mentalist terdekat. Lenguhan pendek terdengar bersamaan dengan rubuhnya tubuh itu. Kejang-kejang. Napasnya masih ada meski hanya sesenggukan. Tidak ada darah tercecer. Seolah luka itu langsung tertambal setelah Rapier dicabut.

Kerusuhan selesai dengan cepat. Para Mentalist sudah bergelimpangan pingsan di lantai. Beberapa dari mereka masih bisa mengerang tapi dengan satu tusukan dari Drakhmann maka tiada lagi suara terdengar. Hening.

Menurut hemat saya dengan komplotan Mentalist yang bertarung dengan Drakhmann, maka ini dapat menjadi aksi sekaligus peak, namun sayangnya itu tidak terjadi. Padahal bahan baku untuk pertempuran cukup menarik, yakni para Mentalist yang berhadapan dengan Mentalist jenius (Drakhmann). Apalagi jenis pertarungan yang disajikan merupakan domain yang berbeda dari pertempuran biasa. Adapun adegan pertempuran yang layak menjadi referensi sepanjang pembacaan pustaka saya ialah Nagabumi dan The Bartimaeus Trilogy. Pertempuran di kedua contoh yang saya sebutkan tersebut, memikat dalam aksi dan memiliki nilai drama yang impresif.

Hal yang mengusik saya berikutnya ialah mengenai penggunaan puisi, pantun, dan gurindam dalam fase pertempuran. Saya tidak mendapatkan penjelasan dan korelasi mengenai mengapa terminologi sastra tersebut dapat berpadu dengan aksi pertarungan. Berikut saya kutipkan (Rendi, In The Name of Wishes: hlm.51-53):

Mentalist yang kalap justru merapal satu tingkat lebih tinggi: Pantun. Air menggeliat di udara, berubah menjadi Dakuda Laut dan meliuk mempertontonkan cakar tajam sebesar.

Ia merapal Gurindam imbuhan dan melempar pisaunya.

Drakhman mengulur waktu dengan pantun pertahanan. Ia mengeraskan air menjadi balok-balok es dengan pemahaman titel E dari Eau’ dan dengan Syllph, ia mengatur gerak balok es di udara.

Dua puluh! Mereka meracau pantun.

Dan titik cabe yang fundamental ialah saya tidak mendapatkan makna utama yang ingin disampaikan oleh penulis. Penulis dalam hal ini seperti mengurai cerita dan fragmen kisah, tanpa mengaitkan dengan pesan utama yang ingin disampaikan. Sebagai komparasi dalam karya penulis (Rendi) sebelumnya yakni cerpen Menggugat Fantasi, saya mendapatkan pesan utama mengenai dilema sang penulis best selller; sedangkan dalam In The of Ferrum, saya mendapatkan pesan utama mengenai kegigihan perlawanan.

Namun meski begitu novel In The Name of Wish tetap memiliki keajaiban dan kemenarikan. Penulis (Rendi) tetap melanjutkan konsistensinya dalam memproduksi kisah yang cukup imajinatif. Secara ide cerita dan penggambaran, membaca In The Name of Wish membawa pembaca ke dimensi yang berbeda dari ritme rutinitas keseharian yang ada. Mulai dari menghadirkan salju di masyarakat tropis, sihir, busana, peristilahan, satuan pengukuran, yang membawa kita sejenak beranjak dari alur hidup yang biasa kita geluti. Inilah menurut hemat saya, salah satu parameter keberhasilan dari suatu karya, ketika si penulis mampu membawa dunia ke dalam kepalanya dan “ditularkan” kepada sidang pembaca, sehingga pembaca mengalami denyut seolah-olah semesta si penulis benar adanya.

Scripta manent vorba volant, begitu kata bijak bestari Yunani. Yang berarti: kata-kata itu menguap, sementara tulisan itu tetap. Bentuk literasi dari penulis (Rendi) merupakan upaya darinya untuk mengejawantahkan apa-apa saja yang menjadi kegelisahan dan imajinasinya. Tentunya besar harapan saya, sang penulis akan terus berkarya di berbagai lini kreativitas dan menghadirkan semesta personalnya kepada publik. Lalu biarkan publik terkena ilusi dan hipnotisnya.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

2 thoughts on “Salju Merah (Resensi Buku In The Name of Wish)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s