Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Film

Tujuan (Film Hugo)

Waktu dapat menipu kita.

Dalam sekejap mata, bayi-bayi muncul di kereta-kereta mereka, peti mati menghilang di dalam tanah, orang menang dan kalah perang, dan anak-anak berubah, seperti kupu-kupu, menjadi dewasa.

Itulah yang terjadi padaku.

Dahulu, aku adalah bocah bernama Hugo Cabret, dan aku mati-matian percaya bahwa sebuah automaton akan menyelamatkan hidupku. Sekarang setelah kepompongku hilang dan aku muncul sebagai pesulap bernama Profesor Alcofrisbas, aku dapat melihat ke belakang dan mengatakan bahwa aku benar. Automaton yang ditemukan ayahku benar-benar telah menyelamatkanku.

(Brian Selznick, The Invention of Hugo Cabret: hlm.519-520)

Beranjak dari novel The Invention of Hugo Cabret dibuatlah film yang berjudul Hugo. Dalam versi novelnya, beberapa penghargaan telah diraih diantaranya New York Times Best Illustrated Book of 2011, Quill Award, Los Angeles Times Favorite Children’s Book of 2007, Caldecott Medal 2008. Sedangkan dalam versi filmnya, Hugo mendapatkan beberapa penghargaan diantaranya Best Achievement in Visual Effects, Best Achievement in Cinematography, Best Achievement in Sound Mixing dalam piala Oscar tahun 2012. Cerita Hugo berintikan tentang tujuan. Jika dipadatkan dalam tesis utama yakni (Brian Selznick, The Invention of Hugo Cabret: hlm.388): Kamu tahu, tidak pernah ada bagian yang berlebih dalam sebuah mesin. Jumlah dan jenis setiap bagiannya tepat seperti yang mereka butuhkan. Jadi kupikir, jika seluruh dunia ini adalah sebuah mesin yang besar, aku pasti berada di sini untuk tujuan tertentu. Dan itu berarti, kamu berada di sini juga untuk tujuan tertentu.”

Hugo merupakan anak berusia 12 tahun yang tinggal di apartemen si Penjaga Waktu di stasiun kereta api. Ia tinggal bersama dengan automaton yang ditemukan ayahnya di loteng museum. Ayahnya sendiri yang seorang pembuat jam (horologis) meninggal dunia dalam sebuah kebakaran di museum tempatnya bekerja. Hugo lalu dibawa oleh pamannya Claude yang pemabuk dan ditinggalkan sendirian untuk memelihara seluruh jam yang ada di stasiun kereta. Adapun benda yang menjadi koneksi antara Hugo dan ayahnya ialah sebuah automaton yang rusak. Hugo beranggapan bahwa pastilah ayahnya menuliskan pesan melalui automaton tersebut. Automaton tersebut bagi Hugo bukan sekedar mesin, melainkan arti dan tujuannya. Berbekal buku catatan yang ditulis dan digambarkan oleh ayahnya, Hugo berusaha untuk memperbaiki automaton tersebut agar dapat berfungsi kembali.

Untuk dapat berfungsi kembali, Hugo membutuhkan berbagai perangkat mesin. Hal inilah yang membuat dia mencuri dari toko mainan milik Georges. Namun di kisah awal dari film Hugo ini, Hugo tertangkap tangan sedang berusaha mencuri. Kakek Georges sang pemilik toko mainan memergokinya dan menyita seluruh perangkat curian dari Hugo dan yang terpenting ialah buku catatan milik ayah Hugo. Sebuah buku catatan yang diistilahkan oleh kakek Georges sebagai hantu ketika melihat gambar di dalamnya.

Bagi Hugo buku catatan itu merupakan peta untuk memperbaiki automaton sekaligus harapan dan tujuannya. Ia pun mengikuti si pria tua tersebut hingga sampai ke apartemennya. Setelah menimpuk kaca jendela dengan salju, Hugo bertemu dengan Isabelle anak angkat dari Georges. Isabelle berjanji akan berusaha untuk mendapatkan buku catatan itu kembali. Keesokan harinya Hugo yang masih berkeras untuk mendapatkan kembali buku catatannya kembali menemui kakek Georges. Kakek Georges memberi sapu tangan yang di dalamnya berisi abu sisa pembakaran. Menurut pria tua itu, buku catatannya telah dibakar. Hugo yang remuk redam berpapasan secara tidak sengaja dengan Isabelle. Isabelle menenangkan gulana Hugo dengan menyatakan bahwa buku catatan tersebut tidak dibakar.

Bersama Isabelle yang seorang kutu buku, Hugo menjalani petualangannya. Berawal dari titik mula menemukan buku catatan, hingga akhirnya menemukan makna tentang tujuan dan arah kehidupan. Film Hugo sendiri didukung oleh beberapa nama yang telah tersohor dan memiliki kualitas akting mumpuni. Melihat Monsieur Frick (Richard Griffiths) si penjual koran harian dan Madame Emile (Frances de la Tour) si pemilik kafe, tentu Anda telah mengenal mereka sebagai bagian dari film Harry Potter. Richard Griffiths bermain sebagai paman Vernon di film Harry Potter, sedangkan Frances de la Tour bermain sebagai Madame Maxime. Meski keduanya lebih sebagai cameo, namun kehadiran mereka cukup menghibur. Akting dari dua bintang muda pemeran utama dalam film Hugo juga impresif. Hugo Cabret(Asa Butterfield) mampu memerankan sebagai anak yang kesepian, merindukan persahabatan, jago mekanik, dan mencari tujuan hidup. Sedangkan Isabelle (Chloe Grace Moretz) diperankan dengan aksen bahasa yang sengau (khas Perancis), kutu buku, menyukai tantangan. Georges Melies (Ben Kingsley) mampu menghadirkan nuansa nelangsa, kegembiraan imajinasi.

Ada beberapa perbedaan memang antara film dengan versi bukunya. Dalam versi bukunya ada Etienne yang merupakan sahabat Isabelle dan merupakan murid dari Rene Tabard. Dalam versi filmnya Etienne tidak hadir. Distingsi lainnya yakni dalam versi filmnya, Inspektur Stasiun (diperankan oleh Sascha Baron Cohen) mendapatkan porsi yang lebih dibandingkan dengan versi bukunya. Inspektur Stasiun versi film saya percaya menjadi magnet daya tarik yang menarik. Sekilas dia terlihat seperti tokoh antagonis, namun sesungguhnya peran yang dimainkan dengan apik oleh Sascha Baron Cohen ini memiliki tujuan dan mampu menampilkan sisi humanis.

Menonton film Hugo terasa amat menyegarkan dan memiliki distingsi yang tegas dari berbagai film lainnya. Dari segi sinematografi, mata Anda akan benar-benar dimanjakan dengan gambar-gambar yang memukau. Terkadang menampilkan kecerahan dan warna ceria, di lain kesempatan akan menggambarkan nelangsa dan kesuraman. Dari segi tata musik, Anda akan dibawa pada nuansa Perancis tahun 1930-an. Ketukan-ketukan berirama yang ceria dan menghangatkan jiwa.

Film Hugo juga akan memantik kesadaran sejarah kita tentang sinema. Kita akan dikenalkan pada sosok jenius bernama Georges Melies yang membuat film A Trip to the Moon (Le Voyage dans la lune). Dengan A Trip to the Moon (1902), Melies menciptakan cerita pertama dalam sejarah perfilman. Dibuat berdasarkan tafsiran bebas atas novel Jules Verne, film ini merupakan fiksi sains banyolan, dan astronot-astronotnya adalah pria-pria tua bertopi tinggi yang terbang ke bulan dengan kapsul luar angkasa yang terbuat dari baja. Film ini merupakan film fiksi sains bisu paling terkenal, meski bukan yang pertama (Mark Wilshin, Fiksi Sains & Fantasi: hlm.6).

Melalui film Hugo kita mendapatkan bagaimana dapur dari pembuatan film tempo dulu. Sebuah mesin pembuat mimpi. Georges Melies merupakan salah satu orang pertama yang menunjukkan bahwa film tidak harus selalu mencerminkan kehidupan nyata. Ia segera menyadari bahwa film memiliki kekuatan untuk mewujudkan mimpi (Brian Selznick, The Invention of Hugo Cabret: hlm.364-365). Salah satu frasa yang masih terngiang di benak saya ialah yang diucapkan oleh kakek Georges bahwa happy ending hanya terjadi di film. Tentunya pada akhirnya film berakhir, layar diturunkan, kita semua kembali ke tempat peraduan masing-masing. Dan kitalah masing-masing yang dapat menjawab apakah happy ending hanya terjadi di film? Apakah kita memiliki kekuatan untuk mewujudkan mimpi? Apakah tujuan dari kehadiran kita di bumi ini? Ya kita masing-masinglah yang dapat menjawab dan membuktikannya.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s