Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Film

Cita Rasa Amerika di Mars (Film John Carter)

Benarkah ada kehidupan lain di luar bumi? Tesis itulah yang ditawarkan dalam kisah John Carter. Mars, planet merah yang memiliki kedekatan dengan bumi, serta hingga saat ini masih dipertanyakan dapatkah menjadi wilayah hunian bagi manusia. Mars menjadi setting dari kisah John Carter. Dinarasikan Mars atau dikenal dengan nama Barsoom dikuasai oleh kota Zodanga (disimbolkan dengan warna merah) yang destruktif. Sedangkan kota Helium (disimbolkan dengan warna biru) merupakan kelompok oposan yang menjadi kerikil dalam sepatu dan terus melakukan perlawanan terhadap Zodanga. Perlawanan yang masih ketat, hingga Sab Than pemimpin Zodanga mendapatkan senjata (the “Ninth Ray”) dari Therns (para tetua pemuja dewi) yang merubah konstelasi pertempuran.

Sementara itu di bumi, John Carter (diperankan Taylor Kitsch) yang kaya raya dikabarkan “meninggal”. Dia lalu meninggalkan warisan dan sebuah buku catatan kepada keponakannya Ned (Daryl Sabara). Melalui buku catatan itulah terkoneksilah alur cerita yang menghubungkan John Carter yang lahir di bumi dengan tempat singgahnya kemudian:Mars. Setting waktu dari buku catatan dimulai pada tahun 1868 ketika Amerika Serikat masih dilanda dengan perang antara Utara-Selatan dan pertikaian dengan penduduk asli Amerika yakni kaum Indian. John Carter yang memiliki rekam jejak menakjubkan ingin direkrut kembali untuk menjadi tentara. Kiranya John Carter dapat menjadi distingsi dalam pertempuran yang menguras waktu, biaya dan tenaga tersebut.

Alkisah John Carter melarikan diri dari tuntutan menjadi tentara dan di tengah pelariannya ia tiba di gua laba-laba. Menelusuri ke dalam gua, John Carter bertemu dengan salah seorang Therns yang melakukan perjalanan antar planet. Setelah melalui pertempuran singkat, tembakan pistol dari John Carter menghabisi nyawa dari Therns tersebut. John Carter mendapatkan medali yang ternyata merupakan sarana untuk melakukan travelling lintas planet. Dengan mengucapkan kata Barsoom tibalah John Carter di planet Mars (atau dikenal dengan nama Barsoom).

Gravitasi yang berbeda di Mars dan kepadatan tulang yang lebih kohesif membuat John Carter memiliki kemampuan untuk meloncat tinggi. Hal yang dipandang istimewa oleh bangsa Tharks yang mendiami planet Barsoom. Bangsa Tharks sendiri secara tampilan merupakan hibrida dari manusia dan hewan. Hal yang mengingatkan saya pada bangsa Na’vi di film Avatar (2009). Bangsa Tharks lebih tinggi dari manusia, memiliki empat tangan, dan memiliki tradisi bertempur. Tradisi survival of the fittest terkonfirmasi dengan bayi-bayi lemah yang dihabisi serta pertarungan di tempat seperti amphiteater selayaknya Gladiator di masa Romawi.

John Carter tertangkap oleh bangsa Tharks dan dijadikan tahanan, serta diberikan pelindung yakni Sola (Samantha Morton). Rekanan dari John Carter untuk kemudian juga binatang yang seperti anjing yang selalu dapat menemukan kemanapun John Carter pergi. Rekanan John Carter berikutnya ialah Dejah Thoris (Lynn Collins) yang merupakan putri dari Helium. Dejah merupakan seorang professor dan ahli tarung yang semula ingin dinikahkan dengan Sab Than (Dominic West) pemimpin Zodanga. Pernikahan politik ini merupakan pilihan pahit mengingat kekalahan nyata yang diterima akibat senjata yang dimiliki oleh Sab Than telah meluluhlantahkan armada dari Helium.

John Carter yang menjadi tahanan dari bangsa Tharks untuk kemudian mengalami mobilitas vertikal yang pesat. Hal ini tak bisa dilepaskan dari ketertarikan pemimpin bangsa Tharks yakni Tars Tarkas (Willem Dafoe) terhadap John Carter. John Carter sendiri telah menunjukkan kemampuan bertarungnya ketika menyelamatkan Dejah yang terkepung oleh pasukan Zodanga. John Carter melakukan lompatan jauhnya (yang mengingatkan saya pada efek serupa pada film Spiderman dan Hulk) dan bertarung dengan spartan. John Carter akhirnya diangkat menjadi tangan kanan Tars Tarkas.

Intrik politik di bangsa Tharks untuk kemudian membawa perubahan kepemimpinan di pucuk tertinggi. John Carter, Dejah, Sola, dan binatang yang mirip dengan anjing, harus menempuh perjalanan ke tempat sakral di Barsoom dengan melewati River Iss. Tujuannya untuk menemukan informasi agar John Carter dapat kembali ke bumi. Mereka pergi sebagai pelarian karena sejatinya telah dianggap menghina kesucian gua bangsa Tharks dengan memasuki tempat suci tersebut dan menginterpretasikan lukisan di dinding gua. Perjalanan tim kecil inipun dimulai. Dan seperti lazimnya film khas Amerika, benih-benih rasa antara John Carter dengan Dejah semakin bersemi dan teruji di perjalanan.

John Carter dan Dejah setelah melalui perjalanan melelahkan tiba di tempat sakral yang berada diantara deretan tebing. Benar kiranya apa yang dikatakan oleh John Carter bahwa dirinya berasal dari bumi (Jarsoom). Itu kiranya kesadaran yang didapatkan oleh Dejah. Sebuah kesadaran bahwa hakikat rasa mereka beranjak dari tempat lahir yang terpisah sekian puluh kilometer. Mereka berdua pun keluar dari tempat sakral tersebut, karena untuk memecahkan enkripsi yang ada, Dejah harus kembali ke Helium untuk mendapatkan referensi yang kokoh. Begitu keluar, mereka telah ditunggu oleh gerombolan bangsa Tharks di bawah pimpinan Tal Hajus (Thomas Haden Church).

Kejar-kejaran pun terjadi. Dan sampailah John Carter pada mozaik ingatannya yang hilang. Ia mendapati bahwa anak dan istrinya di bumi telah mati. Hal itulah yang menjelaskan dua cincin di jarinya. Sengatan ingatan tersebut membuat John Carter benar-benar spartan dan nothing to lose untuk bertarung melawan kepungan bangsa Tharks. Hanya dibantu oleh binatang yang setia menemaninya, John Carter menghadapi ras petarung. Dan lagi-lagi gaya Amerika yang “heroik” dan sendirian menghadapi bertumpuk-tumpuk musuh. Pada akhirnya Dejah dan John Carter berhasil ditangkap, sedangkan Sola dan binatang serupa anjing berhasil meloloskan diri.

Pernikahan politik antara Sab Than dengan Dejah pun mengalami masa persiapan. Sementara John Carter yang ditawan berhasil lolos berkat bantuan dari pengawal pribadi Dejah yang berasal dari Helium. Setelah berkelit dari kejaran, John Carter melakukan lompatan yang teramat jauh dan membawanya ke tempat Dejah yang sedang didandani untuk hari pernikahannya. John Carter dan Dejah berbicara empat mata dan Dejah telah berhasil memecahkan enkripsi perjalanan lintas planet. Sementara di luar pintu gedoran dari Sab Than semakin menguat. John Carter berada pada dilema kembali ke bumi atau memperjuangkan rasa dan bertarung bersama untuk menyelamatkan Helium. Tentu saja Anda sudah dapat mengira tebakan ini jika mengambil referensi standar dari film besutan Amerika.

John Carter yang memilih untuk tinggal di planet Barsoom (Mars) telah berketetapan hati untuk berjuang dan memenangkan cintanya. Saya rasa cukup sampai disini alur cerita yang saya ungkap. Alur cerita sisanya dapat Anda lihat di bioskop ataupun melalui dvd. Yang jelas secara garis besar, saya mendapati film ini mengingatkan saya akan film Avatar yang menangguk sukses besar pada tahun 2009. Kesamaan itu terkonfirmasi dari science fiction, varian makhluk, planet selain bumi, bahasa dan budaya yang berbeda. Namun sayangnya dalam film John Carter ini acting dari para pemerannya hanya standar saja dan tidak istimewa.

Acting standar dan heroisme ala Amerika menjadikan adonan dalam film John Carter ini menjadi kurang menarik untuk disajikan. Meski harus diakui nuansa yang diciptakan melalui teknologi komputer cukup menarik dan memikat, namun penghayatan karakter dan cita rasa pahlawan ala Amerika membuat verdict akhir saya terhadap film ini yah lumayan. Carl Sagan dalam bukunya Kosmos menyatakan bahwa alam semesta tidak menunjukkan rahasianya sekaligus. Jalaluddin Rumi pernah berfilsafat, keterpisahan ini adalah tipudaya ruang dan waktu. Nampaknya film John Carter ini bergerak pada pendulum makna yang diutarakan oleh Carl Sagan dan Jalaluddin Rumi tersebut.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s