Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Film

Isaac Mendez

Lukisan yang dapat mengungkap tabir masa depan, begitulah kiranya tesis yang ditawarkan dari buah karya pelukis Isaac Mendez. Isaac Mendez dalam serial Heroes volume 1 merupakan sosok yang menjadi poros dalam jaring laba-laba besar yang mengkoneksi tokoh demi tokoh dari serial yang disutradarai oleh Tim Kring ini. Isaac Mendez yang diperankan oleh Santiago Cabrera dengan lukisannya men-drive, memberikan warning, akan masa mendatang. Yang menjadi permasalahannya ialah masa mendatang yang dinujumkan ialah tragedi. New York diramalkan dalam lukisan akan mengalami ledakan besar yang akan melumatkan segala pencapaian dan manusia yang berdiam di kota big apple ini.

Serial Heroes volume 1 menurut hemat saya merupakan seri yang paling impresif dalam menjaga alur dan koneksi antar tokoh serta dengan penontonnya. Penimat serial yang ditayangkan oleh Star Movies ini dibawa ke “titik akhir” yakni ledakan di kota New York. Bagaimana para protagonis berusaha untuk menggagalkan big explosion yang dapat menewaskan 0,07 % penduduk bumi tersebut. Para tokoh protagonis berjuang mencari makna dan terkoneksi satu sama lain dengan misi yang dibentuk oleh lukisan Isaac Mendez ini.

Isaac Mendez sendiri digambarkan sebagai seniman yang harus mengkonsumsi narkotika untuk menghasilkan karya. Narkotika dan seniman merupakan kata yang kerap berkelindan. Hal tersebut mungkin terkait dengan keharusan sebuah karya untuk menjadi distingsi dan membawa semesta pembuatnya kepada publik. Sang pembuat harus berada pada “dunia yang berbeda” dalam proses kreatifnya. Isaac Mendez yang doyan teler narkoba inipun selepas “meninggi” mendapati di hadapannya lukisan yang menujumkan masa depan. Sebuah visi yang menggoda dan dapat mengelabui.

Terkait narkotika dan proses kreatif pada akhirnya Isaac Mendez berhasil melepaskan ketergantungannya pada psikotropika tersebut setelah dibantu oleh Eden (Nora Zehetner). Awal mulanya seperti para pecandu, Isaac mengalami kesakitan dan gagal untuk menggoreskan gambar barang setitik pun. Dorongan semangat dari Eden plus upaya dari Isaac Mendez akhirnya membawa Isaac mampu melukiskan masa depan tanpa bantuan narkotika. Ia telah menjadi orang yang bersih.

Apa yang ditawarkan oleh Isaac Mendez dalam lukisannya? Anugerah atau kutukan? Mengetahui masa depan bukanlah perkara yang sekedar ulang alik waktu dan menarik garis lurus waktu. Ada konsep tabir yang sewajarnya tetap tersembunyi. Tersimpan sebagai enigma yang kuncinya akan terbuka seiring waktu yang telah tiba. Dalam kisah fiksi fantasi, kita mendapati kemampuan melihat masa depan ini misalnya dalam kisah Harry Potter dengan Profesor Trelawney ataupun Percy Jackson dengan Oracle. Potongan bocoran masa depan membawa Severus Snape pada penyesalan terbesar dalam hidupnya; sedangkan ramalan dari Oracle merupakan sebuah kalimat bersayap yang baru terungkap ketika telah dijalani. Masa depan sekalipun “telah dilihat” selalu memiliki area abu-abu dan enigmanya.

Lukisan Peter Petrelli yang terkapar salah satu bukti area abu-abu dan enigma itu. Nathan Petrelli (Adrian Pasdar) sang kakak, menyembunyikan potongan lukisan yang kiranya menjadi sinyalemen tewasnya sang adik yang memiliki kemampuan untuk mengusai kekuatan istimewa dari orang-orang terpilih dengan menyentuhkan tangannya saja. Alkisah, Peter Petrelli (Milo Ventimiglia) akhirnya mengetahui tentang nubuat dirinya yang terkapar dengan genangan darah, kaki yang terpelintir, dan waktu penunjuk yang menerangkan kejadian. Peter Petrelli yang percaya bahwa kemampuan istimewanya harus dimanfaatkan untuk kebaikan, telah mendapatkan pesan dari Hiro Nakamura. Pesan itu adalah “Save the Cheerleader, Save the World”.

Peter Petrelli tahu bahwa sang antagonis Sylar sedang mengicar kekuatan mereka-mereka yang memiliki kekuatan istimewa. Peter Petrelli harus menyelamatkan sang cheerleader (Claire Bennet) untuk menyelamatkan dunia, meski dia tahu benar bahwa taruhannya ialah kematian dirinya. Ramalan lewat lukisan Isaac Mendez tentang kematian Peter Petrelli dan sebuah misi “Save the Cheerleader, Save the World”, mana yang dipilih oleh Peter? Ia akhirnya memilih untuk menyelamatkan sang cheerleader dengan ramalan akhir dari hidupnya. Peter Petrelli bertemu dengan Claire Bennet (sang cheerleader yang memiliki kemampuan memulihkan diri). Dan Peter bertempur dengan Sylar. Setelah bergulat di atap, persis seperti yang diramalkan dalam lukisan, Peter Petrelli terjatuh dengan genangan darah, kaki yang terpelintir, waktu yang tepat menunjukkan kejadian.

Namun Peter Petrelli tidak mati. Ia tetap hidup karena sebelumnya telah menduplikasi kemampuan Claire Bennet (Hayden Pannetierre) yang dapat memulihkan diri. Meminjam terminologi dari kisah Hugo, bahwa jika seluruh dunia ini adalah sebuah mesin yang besar, aku pasti berada di sini untuk tujuan tertentu (Brian Selznick, The Invention of Hugo Cabret: hlm.388). Mungkin itulah kiranya fungsi dan raison d’etre dari Isaac Mendez. Dia bukanlah sang protagonis utama yang menyelamatkan New York dari kemusnahan. Namun Isaac Mendez merupakan bagian dari kelompok yang sekuat daya untuk mencegah kemusnahan massal tersebut. Ia memainkan perannya untuk mempertautkan para pahlawan yang terpencar di berbagai titik di bumi. Melalui karyanya dalam komik 9th Wonders!, ia mendamparkan Hiro dan Ando dari Jepang ke Amerika; melalui lukisannya, ia meneguhkan tekad Peter Petrelli untuk menempuh jalur kepahlawanan.

Bagaimana kiranya jika Anda melukiskan kematian dari Anda sendiri? Itulah kiranya yang terjadi pada sosok Isaac Mendez. Ia melukiskan nubuat tentang kematiannya. Sebuah kematian yang tragis dan menyakitkan, karena sang pembunuh membelah kepala sang korbannya. Di studio tempatnya bekerja dan tinggal, Isaac Mendez mendapatkan lukisannya menemui ajal. Bukan hal mudah pastinya. Namun kematian memang tak dapat dihindarkan bahkan ketika berada pada dinding-dinding kastil yang tinggi. Kematian adalah kepastian, dan telah siapkah untuk menghadapinya yang menjadi tanda tanya besar.

Sylar (Zachary Quinto) sang antagonis yang mengusai telekinesis akhirnya datang ke apartemen Isaac Mendez. Sylar yang dingin dan kejam membunuh Isaac Mendez tanpa ampun. Dan di lain pihak Isaac Mendez telah bersiap untuk hadirnya kematian yang tiba.

Masa depan, ramalan, dan segala ketidakpastian itu. Pada akhirnya spektrum kebermaknaan kita yang akan memberikan definisi. Setiap kali tahun baru, maka ramalan-ramalan akan menyeruak ke panggung publik. Beberapa sumir, beberapa optimis. Beberapa merupakan ramalan penuh gincu dan pupur, beberapa merupakan ramalan yang berangkat dari data dan fakta kemungkinan. Yang jelas masa depan memberikan sebuah imajinasi, possibility, area abu-abu. Namun seberapa nelangsanya ramalan yang ada, kita pulalah yang memilih untuk menghadapinya dan menjalaninya. Karena sesungguhnya masa depan direbut hari ini. Dan mungkin dengan misi besar dan alasan hidup, kita akan berani menghadapi ramalan segetir apapun seperti yang dijalani Peter Petrelli dan Isaac Mendez.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s